
SERAYUNEWS – Cuaca panas ekstrem selama musim kemarau mulai menjadi perhatian serius para tenaga kesehatan, terutama terkait risiko gangguan kesehatan pada anak.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan para orang tua agar lebih memperhatikan aktivitas fisik dan kebutuhan cairan harian anak di tengah ancaman suhu tinggi yang dipicu oleh fenomena El Nino.
Ketua Satgas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim IDAI, dr. Darmawan Budi Setyanto, Sp.A, Subsp.Respi(K), menjelaskan bahwa anak-anak termasuk kelompok yang paling rentan mengalami dehidrasi dan heat stroke.
Risiko ini melonjak drastis apabila mereka terlalu lama melakukan aktivitas di bawah cuaca panas dan paparan sinar matahari langsung.
Menurutnya, kondisi cuaca panas berkepanjangan membuat tubuh anak lebih cepat kehilangan cairan melalui keringat.
Sementara itu, banyak anak sering kali tidak segera minum karena belum merasakan haus, padahal tubuh mereka tetap membutuhkan asupan cairan yang konsisten untuk menjaga metabolisme dan mengatur stabilitas suhu tubuh.
IDAI menjelaskan bahwa heat stroke (sengatan panas) merupakan kondisi medis darurat dan serius ketika tubuh gagal mengontrol suhunya sendiri akibat paparan panas yang berlebihan.
Saat kondisi kritis tersebut terjadi, mekanisme pendinginan alami tubuh, seperti produksi keringat, tidak lagi bekerja dengan baik, sehingga suhu inti tubuh dapat meningkat tajam dalam waktu singkat.
Heat stroke dapat memicu berbagai gangguan kesehatan permanen dan fatal apabila tidak segera ditangani secara medis.
Pada kondisi yang berat, anak bisa mengalami gangguan fungsi otak, kejang-kejang, hingga kehilangan kesadaran secara total.
Untuk kewaspadaan dini, berikut adalah fase perkembangan gejala yang harus dicermati oleh orang tua:
Gejala Awal: Tubuh anak terasa sangat panas saat diraba, anak tampak lemas, mengeluhkan sakit kepala, pusing, hingga mual muntah.
Gejala Lanjutan (Kondisi Berat): Kulit menjadi sangat kering dan merah, detak jantung cepat, kebingungan, kejang, hingga penurunan kesadaran.
Oleh karena itu, orang tua diminta peka dalam mengenali tanda-tanda awal gangguan akibat panas (heat-related illness) agar penanganan pertolongan pertama bisa dilakukan secepatnya sebelum kondisi fisik anak memburuk.
Salah satu langkah paling krusial dan mendasar untuk mencegah serangan heat stroke adalah menjaga kecukupan cairan tubuh anak secara agresif.
IDAI menilai, banyak anak sering kali lupa minum karena terlalu fokus bermain atau beraktivitas bersama teman-temannya.
Orang tua sangat diimbau agar tidak menunggu anak merasa haus baru memberikan minum. Pasalnya, rasa haus yang muncul sering kali menjadi indikator bahwa tubuh sebenarnya sudah mulai memasuki fase kekurangan cairan (dehidrasi).
Dokter Darmawan menyarankan orang tua untuk membiasakan anak mengonsumsi air putih bersih secara berkala.
Batasi pemberian minuman dingin yang tinggi gula atau minuman ringan kemasan, karena tidak optimal dalam menghidrasi tubuh dalam jangka panjang.
Bibir, mulut, dan lidah mulai tampak kering.
Tubuh terlihat lunglai dan anak kurang aktif.
Frekuensi buang air kecil (BAK) menurun drastis atau warna urine tampak kuning pekat.
Anak tampak lebih mudah mengantuk atau rewel dibanding biasanya.
Kondisi dehidrasi tersebut tidak boleh dianggap sepele. Dehidrasi yang terus berlanjut tanpa penanganan akan langsung memicu terjadinya komplikasi heat stroke.
Selain menjaga asupan air putih, IDAI juga meminta orang tua membatasi durasi aktivitas luar ruangan (outdoor) saat matahari sedang terik-teriknya.
Paparan radiasi sinar matahari berlebihan dalam waktu lama dapat mempercepat kelelahan akibat panas (heat exhaustion).
Anak-anak tentu tetap diperbolehkan bermain di luar rumah demi tumbuh kembangnya.
Namun, orang tua disarankan lebih selektif dalam memilih waktu yang aman, seperti pada pagi hari sebelum jam 10.00 atau sore hari setelah jam 16.00, ketika indeks sinar ultraviolet (UV) dan suhu udara tidak terlalu menyengat.
Jika anak terpaksa harus beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, pastikan mereka mengenakan pelindung tambahan seperti topi bertepi lebar dan kacamata hitam.
Penggunaan topi sangat membantu mengurangi paparan langsung radiasi sinar matahari ke area kepala dan wajah anak.
Pemilihan jenis pakaian juga berpengaruh besar terhadap kenyamanan dan regulasi suhu tubuh anak selama cuaca panas musim kemarau.
Anak sangat dianjurkan mengenakan pakaian berbahan tipis, longgar, berkain katun, dan mudah menyerap keringat agar sirkulasi udara pada kulit tetap berjalan stabil.
Sebaliknya, hindari memakaikan baju yang terlalu tebal, berlapis-lapis, atau berbahan sintetis ketat yang tidak menyerap keringat.
Pakaian jenis ini dapat membuat hawa panas terjebak di dalam tubuh, sehingga memicu lonjakan suhu tubuh internal secara ekstrem.
Di samping itu, pastikan anak-anak juga mendapatkan waktu istirahat yang cukup di dalam ruangan berpendingin atau berventilasi baik agar kondisi fisik mereka tetap fit.
Aspek lain yang tidak boleh luput dari perhatian adalah kualitas udara di lingkungan sekitar.
Fenomena iklim El Nino tidak hanya membawa dampak suhu panas, tetapi juga sering kali disertai dengan penurunan kualitas udara akibat akumulasi debu kering dan polusi yang pekat.
Kondisi udara yang buruk ini berisiko tinggi memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) serta kekambuhan pada anak yang memiliki riwayat medis asma atau alergi.
Oleh karena itu, pantau selalu indikator kualitas udara sebelum membiarkan anak bermain di luar rumah.
Jika kualitas udara terpantau memburuk atau cuaca sedang sangat berdebu, sebaiknya alihkan aktivitas bermain anak ke dalam ruangan (indoor).
IDAI berharap melalui pemahaman ini, masyarakat luas dapat semakin sadar akan pentingnya memproteksi kesehatan anak dari ancaman cuaca ekstrem.
Melalui langkah preventif yang sederhana namun disiplin, seperti menjaga hidrasi, memilih pakaian yang tepat, dan mengatur waktu aktivitas luar ruangan, risiko heat stroke pada anak dapat ditangkal secara maksimal.