
SERAYUNEWS – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kembali membuktikan keseriusannya dalam membenahi kualitas kesehatan masyarakat. Melalui langkah progresif yang langsung menyentuh masyarakat desa, program Penanganan Stunting Jateng berhasil mencatatkan penurunan angka kasus secara drastis dan membuahkan penghargaan di tingkat nasional.
Gubernur Ahmad Luthfi menerima langsung anugerah National Governance Award 2026 pada kategori ekosistem kesehatan. Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar, menyerahkan trofi tersebut dalam malam penganugerahan di The Ritz-Carlton Hotel, Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Bagi Ahmad Luthfi, pencapaian ini adalah hasil dari kerja keras dan kolaborasi banyak pihak. “Optimalisasi Penanganan Stunting Jateng menuntut kerja sama yang solid. Saat ini, kami aktif mengintegrasikan 369 rumah sakit dengan jaringan puskesmas, laboratorium, hingga perangkat di tingkat desa,” paparnya.
Strategi kolaboratif pemerintah daerah ini terbukti bukan sekadar wacana. Berdasarkan laporan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, angka prevalensi anak kurang gizi di Jawa Tengah sukses ditekan hingga menyentuh 17,1 persen.
Angka tersebut turun signifikan dari catatan tahun sebelumnya yang masih berada di level 20,7 persen. Capaian ini juga patut diapresiasi karena berhasil berada di bawah garis rata-rata nasional yang menyentuh angka 19,8 persen.
Untuk merealisasikan target tersebut, tenaga kesehatan secara rutin mendistribusikan Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri, melakukan pemeriksaan kehamilan berkala, serta menyalurkan makanan tambahan bagi ibu hamil penderita Kekurangan Energi Kronis (KEK).
Selain mengandalkan intervensi gizi, pemerintah daerah juga mendobrak hambatan geografis dan biaya bagi warga yang membutuhkan penanganan medis tingkat lanjut.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Yunita Dyah Kusminar, menjelaskan bahwa pihaknya gencar menjalankan inovasi Dokter Spesialis Keliling (Speling). Program ini memungkinkan warga di pelosok desa untuk mendapatkan pemeriksaan dari dokter spesialis tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke pusat kota.
Hingga akhir April 2026, layanan Speling tercatat telah menjangkau lebih dari 97 ribu warga yang tersebar di 1.030 desa. Inovasi ini sekaligus melengkapi pemantauan tumbuh kembang 1,9 juta balita yang datanya terintegrasi melalui aplikasi e-PPGBM.
Langkah pemerintah mendekatkan layanan medis ke tengah masyarakat juga mendongkrak keberhasilan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Sepanjang tahun 2025, fasilitas ini sukses melayani lebih dari 14,2 juta jiwa. Rekor ini mengukuhkan Jawa Tengah sebagai provinsi dengan cakupan layanan kesehatan dasar tertinggi di Indonesia.
Melihat transformasi pelayanan publik yang pesat tersebut, Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, memberikan apresiasinya. Ia menekankan bahwa perbaikan sistem di level daerah akan selalu membawa dampak langsung bagi negara.
“Kinerja nasional adalah gabungan hasil kerja pusat dan daerah. Jika satu daerah saja kinerjanya menurun, angka nasional pasti akan terimbas,” jelas Tito.
Selain kesuksesan Penanganan Stunting Jateng di tingkat provinsi, dua pemerintah kabupaten turut membawa pulang penghargaan pada malam itu. Kabupaten Kebumen meraih apresiasi untuk kategori Transformasi Pelayanan Publik, sementara Kabupaten Sragen unggul pada kategori Kepemimpinan Strategis.