
SERAYUNEWS-Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpus) Kabupaten Banjarnegara kembali mendorong penguatan literasi berbasis kearifan lokal dengan menyiapkan penerbitan buku bertema Banjarnegara Tanah Legenda. Program ini merupakan kelanjutan dari suksesnya penerbitan buku kompilasi sebelumnya, Banjarnegara Surga Cerita.
Berbeda dari edisi terdahulu yang didominasi tulisan nonfiksi, buku yang tengah disiapkan kali ini akan berisi kumpulan cerita pendek (cerpen) fiksi yang mengangkat legenda lokal Banjarnegara.
Sebagai tahap awal, Disarpus menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Penulisan Berbasis Konten Budaya Lokal tahap pertama di Aula Niscala Perpusda Banjarnegara. Kegiatan ini diikuti 50 peserta yang sebelumnya telah melalui proses seleksi dengan mengirimkan draft cerpen.
Kepala Bidang Perpustakaan Disarpus Banjarnegara, Masfufatun Juni, menyampaikan bahwa jumlah peserta tahun ini memang lebih sedikit dibandingkan sebelumnya karena keterbatasan anggaran. Meski demikian, pihaknya menargetkan kualitas karya yang dihasilkan bisa lebih baik.
“Walaupun pesertanya berkurang, kami berharap kualitas tulisan yang dihasilkan justru semakin meningkat,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Disarpus Banjarnegara, Arief Rahman, menilai kegiatan ini sebagai momentum untuk menumbuhkan semangat literasi berbasis potensi lokal. Ia juga mendorong peserta untuk menjadikan kemampuan menulis sebagai peluang di masa depan.
“Ini momentum untuk membangun semangat literasi berbasis lokal sekaligus menguatkan identitas daerah,” kata Arief.
Dalam kegiatan tersebut, Disarpus menghadirkan tiga narasumber, yakni Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banjarnegara Heni Purwono, guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Karangkobar Sutini, serta pegiat literasi dari Rumah Baca Purnama Indra Hari Purnama.
Heni Purwono menjelaskan bahwa pengangkatan kisah legenda dalam bentuk tulisan dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi sektor pariwisata daerah.
“Banyak destinasi wisata terkenal karena cerita legendanya. Hal serupa diharapkan bisa terjadi di Banjarnegara melalui karya para penulis ini,” katanya.
Guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Karangkobar Sutini, menekankan pentingnya kreativitas dalam menyusun cerita legenda agar mampu menghadirkan kisah yang menarik, imajinatif, dan memiliki kekuatan narasi.
“Cerita legenda lokal masih belum banyak diangkat. Ini menjadi peluang bagi penulis untuk mengembangkannya,” katanya.
Adapun pegiat literasi dari Rumah Baca Purnama, Indra Hari Purnama mengajak peserta untuk memaknai aktivitas menulis sebagai bagian dari kontribusi jangka panjang.
“Melalui tulisan, nama kita bisa dikenang. Menulis kebaikan juga bisa menjadi amal jariyah,” ujarnya.