
SERAYUNEWS – Menjelang Iduladha 1447 Hijriah, puasa sunah Dzulhijjah kembali menjadi perhatian banyak umat Islam.
Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul ialah apakah puasa Dzulhijjah harus sembilan hari penuh secara berturut-turut atau boleh hanya beberapa hari saja.
Pertanyaan tersebut ramai dibahas karena tidak semua orang mampu menjalankan puasa selama sembilan hari penuh.
Puasa Dzulhijjah merupakan ibadah sunah pada sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah sebelum Iduladha.
Karena hukumnya sunah, umat Islam tidak wajib menjalankannya secara penuh selama sembilan hari berturut-turut.
Seseorang tetap boleh memilih hari tertentu untuk berpuasa sesuai kemampuan masing-masing. Bahkan, pelaksanaannya juga tidak harus berurutan.
Hal tersebut menjadi kemudahan bagi umat Muslim yang memiliki keterbatasan fisik atau aktivitas padat.
Meski tidak wajib, menjalankan puasa sejak tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah tetap menjadi amalan yang sangat dianjurkan.
Hadis riwayat Abu Dawud menjelaskan bahwa Rasulullah saw. biasa melaksanakan puasa pada sembilan hari pertama Dzulhijjah, hari Asyura, dan tiga hari setiap bulan.
Oleh karena itu, banyak umat Islam memilih memperbanyak ibadah puasa di awal Dzulhijjah guna mendapatkan pahala dan keutamaan yang lebih besar.
Berdasarkan kalender Hijriah 1447 H, awal bulan Dzulhijjah jatuh pada Senin, 18 Mei 2026. Sementara itu, Iduladha akan berlangsung pada Rabu, 27 Mei 2026.
Dengan demikian, jadwal puasa Dzulhijjah tahun ini berlangsung sejak 18 Mei hingga 26 Mei 2026. Berikut rincian waktunya.
Tanggal 8 Dzulhijjah merupakan puasa Tarwiyah, sedangkan 9 Dzulhijjah puasa Arafah yang memiliki keutamaan besar bagi umat Islam.
Di antara seluruh rangkaian puasa Dzulhijjah, puasa Arafah menjadi ibadah sunah yang paling dianjurkan.
Puasa ini dilakukan sehari sebelum Iduladha, tepatnya pada 9 Dzulhijjah. Hadis Rasulullah saw. menyebutkan bahwa puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun yang akan datang bagi orang yang menjalankan dengan penuh keimanan dan keikhlasan.
Karena memiliki keutamaan luar biasa, banyak ulama menyarankan umat Islam setidaknya menjalankan puasa Arafah apabila tidak mampu melaksanakan puasa Dzulhijjah secara penuh selama sembilan hari.
Sementara itu, puasa Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah juga menjadi salah satu ibadah sunah menjelang Iduladha.
Banyak masyarakat mengira puasa Dzulhijjah harus tanpa jeda selama sembilan hari. Padahal, para ulama menjelaskan bahwa puasa tersebut tetap sah meskipun pelaksanaannya secara selang-seling.
Umat Muslim boleh memilih berpuasa hanya pada hari tertentu, misalnya tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah saja, atau beberapa hari di awal bulan sesuai kemampuan.
Ketentuan ini menunjukkan bahwa Islam memberikan kemudahan dalam menjalankan ibadah sunnah. Yang terpenting ialah niat dan kesungguhan dalam beribadah kepada Allah SWT.
Anjuran memperbanyak puasa dan ibadah pada awal bulan Dzulhijjah tidak terlepas dari keistimewaan sepuluh hari pertamanya.
Hadis Nabi Muhammad saw. menyebutkan bahwa tidak ada hari yang lebih dicintai Allah swt. untuk melakukan amal saleh dibandingkan sepuluh hari pertama Dzulhijjah.
Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan meningkatkan berbagai amalan seperti puasa sunnah, membaca Al Quran, berzikir, bersedekah, memperbanyak doa, hingga membantu sesama.
Momentum tersebut merupakan kesempatan terbaik untuk meningkatkan ketakwaan sekaligus mendekatkan diri kepada Allah Swt. menjelang Iduladha.
Pada akhirnya, pelaksanaan puasa Dzulhijjah dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing individu. Islam tidak memberatkan umatnya dalam menjalankan ibadah sunnah.
Bagi umat Muslim yang mampu menjalankan puasa selama sembilan hari penuh tentu menjadi kesempatan besar memperbanyak pahala dan amal saleh.
Namun, mereka yang hanya mampu berpuasa beberapa hari tetap mendapatkan keutamaan sesuai niat dan ibadah.
Dengan demikian, puasa Dzulhijjah tidak wajib berlangsung selama sembilan hari penuh secara berturut-turut.***