
SERAYUNEWS-Isu penggunaan tepung ubi atau singkong sebagai alat pemadam api untuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat ini sedang hangat dibicarakan. Publik tentu bertanya-tanya, apakah bahan dapur sehari-hari ini benar-benar mampu menjinakkan si jago merah?
Jawabannya adalah ya, memang bisa. Namun, cara penggunaannya tidak sesederhana menaburkan tepung kering ke api, melainkan dengan menggunakan formulasi ilmiah berbasis pati singkong yang dimodifikasi.
Benarkah tepung ubi/singkong bisa memadamkan api? Ya, benar. Namun bukan sekadar menaburkan tepung kering, melainkan menggunakan pati singkong termodifikasi yang dicampur air dan senyawa khusus (retardan).
Menaburkan tepung mentah secara sembarangan ke api terbuka justru berisiko memicu ledakan debu (dust explosion). Dilansir dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), para peneliti kini tengah mengkaji potensi pati singkong untuk dikembangkan menjadi material retardan biomaterial bernama CASSA-P.
Bagaimana cara pati singkong memadamkan api?
Berdasarkan penjelasan Periset Kimia Molekuler BRIN, Julinton, pati singkong hasil rekayasa kimia memiliki struktur polisakarida yang kaya gugus hidroksil. Ketika diformulasikan bersama ammonium polyphosphate (APP), air, dan wetting agent (zat pembasah), formula ini bekerja memadamkan api melalui tiga mekanisme terintegrasi:
· Peningkatan Retensi Air & Pendinginan: Air bertugas menyerap panas. Pati singkong termodifikasi membantu mengikat cairan agar menempel lebih lama di permukaan vegetasi dan tidak mudah menguap.
· Penetrasi Maksimal: Wetting agent menurunkan tegangan permukaan sehingga cairan mampu meresap jauh ke dalam celah-celah bahan bakar vegetasi.
· Pembentukan Lapisan karbon Pelindung (Char): Saat terpapar panas, interaksi antara pati dan APP mengatalisis reaksi pembentukan lapisan karbon padat (char). Lapisan char ini bertindak sebagai benteng yang menyekat perpindahan panas sekaligus membatasi akses oksigen ke bahan bakar.
Bagaimana cara membuat pemadam api dari tepung singkong?
Dilansir dari keterangan resmi BRIN, pembuatan material retardan berbasis ubi atau singkong ini dilakukan melalui proses rekayasa kimia terukur di laboratorium:
1. Ekstraksi Pati: Ubi kayu mentah diekstraksi dan dimurnikan untuk diambil pati murninya.
2. Modifikasi Kimia: Pati melewati jalur modifikasi (seperti fosforilasi atau cross-linking) untuk mengoptimalkan kemampuan pembentukan film, daya rekat, kestabilan, dan viskositas.
3. Pencampuran Formulasi: Pati termodifikasi dicampurkan secara terukur bersama senyawa fosfat (APP), wetting agent berkonsentrasi rendah, dan air.
4. Penerapan Lapangan: Konsentrat formulasi dicampurkan ke dalam tangki air pemadam untuk disemprotkan melalui jalur darat maupun udara (drone pemadam).
Dilansir dari hasil kajian riset BRIN, pengembangan retardan berbasis pati singkong ini menjadi angin segar dalam teknologi pemadaman kebakaran di Indonesia. Pemanfaatan biomassa lokal tidak hanya meningkatkan efektivitas pemadaman api pada respons awal, tetapi juga mendukung upaya pelestarian lingkungan melalui pemanfaatan bahan terbarukan. (dhiyan Al Ghani)