
SERAYUNEWS – Fenomena awan berbentuk unik menyerupai piring bertumpuk terlihat di sekitar kawasan Gunung Slamet dan ramai diperbincangkan di media sosial.
Penampakan awan tersebut memicu beragam spekulasi warganet, termasuk dugaan bahwa kemunculannya berkaitan dengan potensi badai atau cuaca buruk.
Namun, BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) memastikan bahwa fenomena tersebut merupakan peristiwa meteorologi yang wajar dan tidak berbahaya.
Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas II Ahmad Yani Semarang, Giyarto, kepada awak media menjelaskan bahwa awan tersebut dikenal sebagai awan lenticularis.
Jenis awan ini memang kerap terbentuk di wilayah yang memiliki penghalang topografi seperti pegunungan atau dataran tinggi.
Awan lenticularis termasuk dalam kategori awan menengah (altocumulus lenticularis) yang terbentuk akibat adanya gelombang udara di lapisan atmosfer.
Ketika angin bergerak melintasi pegunungan seperti Gunung Slamet, aliran udara terdorong naik dan membentuk pola gelombang di sisi bawah angin (lee side).
Pada titik tertentu, uap air mengalami proses kondensasi dan membentuk awan dengan struktur khas menyerupai lensa atau piring bertumpuk. Bentuknya yang simetris dan tegas membuat awan ini terlihat berbeda dibandingkan awan pada umumnya.
Tak jarang, masyarakat menyebutnya mirip tumpukan piring atau bahkan benda terbang tak dikenal (UFO) karena tampilannya yang unik dan jarang terlihat setiap hari.
Secara ilmiah, awan lenticularis terbentuk pada ketinggian menengah, umumnya di atas puncak atau lereng pegunungan.
Struktur awan ini relatif stabil dan dapat bertahan selama kondisi angin serta kelembapan tetap mendukung proses pembentukannya.
Giyarto menambahkan, kemunculan awan lenticularis lazim terjadi saat masa peralihan musim atau pancaroba.
Pada periode ini, dinamika angin di lapisan atmosfer cenderung lebih aktif dan fluktuatif sehingga memicu terbentuknya gelombang udara yang mendukung pembentukan awan jenis tersebut.
Ia menegaskan bahwa awan lenticularis bukan merupakan indikator langsung terjadinya badai atau cuaca ekstrem. Artinya, kemunculan awan berbentuk unik ini tidak otomatis menandakan akan terjadi hujan lebat, angin puting beliung, maupun badai besar.
Meski demikian, kondisi pancaroba memang identik dengan perubahan cuaca yang cepat. Hujan dapat turun secara tiba-tiba, disertai angin kencang dalam durasi singkat.
Karena itu, masyarakat tetap diimbau untuk memantau informasi cuaca resmi dari BMKG sebelum melakukan aktivitas luar ruangan, terutama di wilayah pegunungan.
Fenomena serupa tidak hanya terjadi di Indonesia. Awan lenticularis juga kerap terlihat di berbagai kawasan pegunungan dunia yang memiliki kondisi topografi dan dinamika angin serupa.
Namun, kemunculannya di sekitar Gunung Slamet menjadi sorotan karena bentuknya terlihat jelas dan berhasil diabadikan warga.
Sebagai gunung tertinggi di Jawa Tengah dengan ketinggian sekitar 3.428 meter di atas permukaan laut, Gunung Slamet memang memiliki kondisi geografis yang memungkinkan terbentuknya gelombang udara di atmosfer.
Faktor inilah yang mendukung munculnya awan lenticularis di kawasan tersebut.
Walau awan lenticularis tergolong aman dan bukan pertanda langsung cuaca ekstrem, masyarakat yang beraktivitas di kawasan pegunungan tetap perlu meningkatkan kewaspadaan. Perubahan cuaca pada masa pancaroba bisa berlangsung cepat dan tidak terduga.
Memeriksa prakiraan cuaca harian, memantau peringatan dini, serta mengikuti pembaruan informasi resmi dari BMKG menjadi langkah penting demi keselamatan dan kenyamanan beraktivitas di alam terbuka.