
SERAYUNEWS- Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, umat Muslim di seluruh dunia mulai mempersiapkan diri menyambut hari kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan.
Salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada momen ini adalah memperbanyak membaca takbir atau takbiran. Tradisi takbiran menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri.
Gema kalimat “Allahu Akbar” biasanya terdengar di berbagai tempat, mulai dari masjid, musala, rumah, hingga jalan-jalan pada malam menjelang Lebaran. Takbir tersebut menjadi simbol pengagungan kepada Allah SWT sekaligus ungkapan rasa syukur atas selesainya ibadah puasa Ramadan.
Lantas, bagaimana bacaan takbiran Idul Fitri lengkap sesuai sunnah, kapan waktu membacanya, serta apa saja jenis takbir yang dikenal dalam Islam? Melansir berbagai sumber, berikut ulasan selengkapnya:
Anjuran memperbanyak takbir pada malam dan hari raya Idul Fitri memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Artinya: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Ayat tersebut menjadi dasar bagi para ulama untuk menganjurkan umat Islam mengumandangkan takbir sebagai bentuk pengagungan kepada Allah setelah menyelesaikan ibadah puasa Ramadan.
Para ulama sepakat bahwa takbiran pada Idul Fitri hukumnya sunnah, yakni amalan yang dianjurkan untuk dikerjakan dan akan mendapatkan pahala bagi yang melaksanakannya.
Para ulama memiliki beberapa pendapat terkait waktu dimulainya takbiran Idul Fitri.
Sebagian ulama menyebutkan bahwa takbir mulai dikumandangkan sejak terlihatnya hilal 1 Syawal, yaitu pada malam Lebaran.
Takbir tersebut dapat dilantunkan sepanjang malam hingga pagi hari sebelum pelaksanaan shalat Idul Fitri.
Pendapat lain menyatakan bahwa takbiran berlangsung hingga imam memulai shalat Id dengan takbiratul ihram bagi jamaah yang melaksanakan shalat secara berjamaah.
Sementara bagi yang tidak berjamaah, takbir dapat terus dibaca hingga seseorang memulai shalat Id sendiri.
Karena itu, masyarakat Muslim biasanya mengumandangkan takbir sepanjang malam takbiran hingga pagi hari Idul Fitri.
Dalam kajian fikih, bacaan takbir Idul Fitri umumnya dibagi menjadi dua jenis, yaitu takbir muqayyad dan takbir mursal.
1. Takbir Mursal
Takbir mursal merupakan takbir yang dibaca tanpa terikat waktu tertentu setelah shalat. Artinya, takbir ini dapat dibaca kapan saja selama masih berada dalam waktu takbiran.
Takbir mursal biasanya dikumandangkan di berbagai tempat seperti:
· Masjid dan musala
· Rumah-rumah umat Muslim
· Jalan atau perjalanan menuju tempat shalat Id
· Acara pawai takbiran
2. Takbir Muqayyad
Takbir muqayyad adalah takbir yang dibaca setelah selesai melaksanakan shalat, baik shalat wajib maupun sunnah.
Namun dalam praktiknya, pada perayaan Idul Fitri masyarakat lebih sering mengumandangkan takbir mursal yang dibaca secara bebas sepanjang malam hingga pagi hari Lebaran.
Bacaan Takbir Pendek yang Diajarkan Ulama
Dalam sejumlah kitab fikih, dijelaskan bahwa bacaan takbir dapat dilafalkan sebanyak tiga kali. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab.
Berikut bacaan takbir tersebut:
Arab
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
Latin
Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar.
Artinya
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.”
Meskipun singkat, bacaan ini tetap memiliki keutamaan sebagai bentuk dzikir dan pengagungan kepada Allah SWT.
Di Indonesia, umat Muslim umumnya membaca takbir dengan tambahan kalimat tauhid dan pujian kepada Allah SWT.
Berikut teks takbir yang paling sering dilantunkan saat malam takbiran.
Arab
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Latin
Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar.
Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar.
Allāhu akbar wa lillāhil hamd.
Artinya
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.
Tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar.
Allah Maha Besar dan segala puji bagi-Nya.”
Bacaan ini menjadi lafaz takbir yang paling familiar di tengah masyarakat Indonesia dan sering dikumandangkan di masjid maupun dalam pawai takbiran.
Selain lafaz di atas, terdapat bacaan takbir yang lebih panjang yang berasal dari sejumlah riwayat hadis. Bacaan ini juga memuat dzikir yang pernah dibaca Rasulullah SAW ketika berada di Bukit Shafa sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Berikut teks lengkapnya:
Arab
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ
وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
Latin
Allāhu akbar kabīrā, walhamdu lillāhi katsīrā, wa subhānallāhi bukratan wa ashīlā.
Lā ilāha illallāhu wa lā na‘budu illā iyyāhu mukhlishīna lahud dīna walau karihal kāfirūn.
Lā ilāha illallāhu wahdah, shadaqa wa‘dah, wa nashara ‘abdah, wa hazamal ahzāba wahdah.
Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar.
Artinya
“Allah Maha Besar dengan sebenar-benarnya kebesaran. Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya. Maha Suci Allah pada pagi dan petang hari. Tidak ada Tuhan selain Allah dan kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya dengan memurnikan agama bagi-Nya meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya. Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa. Dia menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan menghancurkan musuh-musuh-Nya sendirian. Tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar.”
Para ulama juga menjelaskan beberapa adab ketika membaca takbir pada malam dan hari raya Idul Fitri.
Beberapa di antaranya adalah:
Laki-laki dianjurkan membaca takbir dengan suara lantang sebagai bentuk syiar Islam. Perempuan dianjurkan membaca takbir dengan suara lebih pelan, terutama jika berada di tempat umum.
Takbir dapat dibaca dalam berbagai kondisi, baik berdiri, duduk, berjalan, maupun berbaring. Takbir boleh dikumandangkan di rumah, masjid, jalan, hingga pasar, selama masih dalam waktu takbiran.
Dengan demikian, takbiran menjadi amalan yang fleksibel dan dapat dilakukan oleh setiap Muslim di mana saja.
Takbiran bukan sekadar tradisi yang dilakukan setiap malam Lebaran. Lebih dari itu, kalimat “Allahu Akbar” memiliki makna mendalam sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT.
Melalui takbiran, umat Islam diajak untuk:
· Mensyukuri nikmat iman dan kesempatan menjalankan ibadah Ramadan
· Mengingat kebesaran Allah SWT
· Menyambut Hari Raya Idul Fitri dengan penuh kegembiraan dan ketakwaan
Gema takbir yang berkumandang sepanjang malam Lebaran juga menjadi simbol kebersamaan umat Islam dalam merayakan hari kemenangan setelah sebulan penuh menahan diri dari berbagai hal yang membatalkan puasa.