SERAYUNEWS – Awal tahun 2026, jagat media sosial kembali ramai membicarakan es gabus, jajanan tradisional yang sempat berjaya di era 1980–1990-an.
Perbincangan ini bermula dari sebuah insiden yang menimpa Sudrajat, pedagang es keliling di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat.
Ia menjadi sorotan publik setelah dagangan es gabusnya dituding menggunakan bahan berbahaya berupa spons atau busa kasur.
Tuduhan tersebut belakangan terbukti tidak benar. Hasil uji laboratorium memastikan bahwa es gabus yang dijual sepenuhnya menggunakan bahan pangan dan aman dikonsumsi.
Peristiwa ini pun membuka diskusi lebih luas mengenai minimnya pemahaman masyarakat terhadap jajanan tradisional, sekaligus membangkitkan kembali nostalgia akan kudapan legendaris yang pernah menjadi favorit anak-anak Indonesia.
Apa Itu Es Gabus?
Es gabus merupakan jajanan tradisional Indonesia berbentuk kudapan beku dengan tekstur khas.
Di beberapa daerah, jajanan ini juga dikenal dengan nama es wadai atau es kue. Berbeda dengan es lilin atau es krim modern, es gabus memiliki tekstur padat namun empuk, tidak mudah mencair, dan terasa ringan saat digigit.
Ciri paling menonjol dari es gabus terletak pada tampilannya yang berwarna-warni. Warna cerah seperti hijau, merah muda, kuning, atau putih biasanya disusun berlapis sehingga tampak menyerupai pelangi.
Es ini umumnya dibungkus plastik bening tipis dan dijual dengan harga terjangkau, membuatnya sangat digemari anak-anak.
Bahan Dasar dan Ciri Khas Es Gabus
Bahan utama es gabus adalah tepung hunkwe, yaitu pati yang berasal dari kacang hijau. Tepung inilah yang membedakan es gabus dari jenis es tradisional lainnya.
Selain hunkwe, bahan lain yang digunakan meliputi santan, gula, garam, dan pewarna atau perisa alami seperti pandan.
Perpaduan santan dan gula menghasilkan rasa manis gurih yang lembut. Teksturnya yang unik, padat tetapi berpori halus, sering kali membuat orang awam mengira es gabus terbuat dari bahan non-pangan.
Padahal, tekstur tersebut justru menjadi ciri autentik dari es gabus yang dibuat dengan takaran hunkwe yang tepat.
Penjelasan Ilmiah di Balik Tekstur Mirip Spons
Tekstur es gabus yang menyerupai gabus atau spons sejatinya dapat dijelaskan secara ilmiah.
Saat tepung hunkwe dimasak bersama santan dan gula, pati di dalamnya membentuk gel yang kuat. Proses pendinginan kemudian membuat struktur gel tersebut semakin kokoh.
Ketika adonan dibekukan, kandungan air di dalam gel mengalami kristalisasi dan membentuk pori-pori mikro.
Pori inilah yang menciptakan sensasi ringan, sedikit kering, dan empuk saat digigit. Justru apabila es gabus terlalu keras atau menyerupai es batu, itu menandakan komposisi bahan tidak seimbang.
Jejak Sejarah dan Pengaruh Budaya Peranakan
Es gabus diyakini telah ada sejak masa kolonial, meski tidak diketahui secara pasti kapan pertama kali diperkenalkan.
Penggunaan tepung hunkwe yang berasal dari istilah Hokkien menunjukkan adanya pengaruh budaya Tionghoa Peranakan dalam perkembangan kuliner ini.
Dalam catatan kuliner tradisional, es gabus disebut berasal dari wilayah Yogyakarta sebelum akhirnya menyebar ke berbagai daerah di Indonesia.
Pada masanya, es ini sering disajikan dalam acara keluarga, hajatan, atau dijajakan di depan sekolah dasar oleh pedagang keliling.
Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980–1990-an, es gabus bukan sekadar jajanan, melainkan bagian dari kenangan masa kecil.
Harganya yang murah dan rasanya yang khas menjadikannya primadona sebelum es krim pabrikan mendominasi pasar.
Seiring waktu, keberadaan es gabus memang semakin jarang ditemui. Namun viralnya kembali jajanan ini justru membuka peluang bagi generasi muda untuk mengenal kembali kuliner tradisional yang hampir terlupakan.
Meski kini sulit ditemukan di pasaran, es gabus sebenarnya cukup mudah dibuat sendiri di rumah dengan bahan sederhana.
Tepung hunkwe, santan, gula, dan sedikit pewarna alami sudah cukup untuk menghasilkan es gabus dengan cita rasa klasik. Kreasi modern pun mulai bermunculan, seperti penambahan susu atau variasi rasa lain tanpa menghilangkan karakter aslinya.
Es gabus kini bukan sekadar viral, tetapi kembali diakui sebagai bagian dari kekayaan kuliner Indonesia yang patut dibanggakan.***