
SERAYUNEWS — Semangat gotong royong kembali diwujudkan melalui program rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Kelurahan Krandegan, Kecamatan Banjarnegara.
Program ini menyasar rumah milik Nuryati, warga RT 3 RW 9, yang sebelumnya hidup dalam kondisi hunian memprihatinkan.
Kegiatan bedah rumah ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kelurahan Krandegan, Yayasan Kita Peduli Banjarnegara, serta STIE Tamansiswa Banjarnegara.
Lurah Krandegan, Sudirman, menjelaskan program ini didukung berbagai pihak, termasuk bantuan sosial dari STIE Tamansiswa sebesar Rp10 juta yang diperkuat kontribusi YKPB dan donatur.
“Dana tersebut digunakan untuk merehabilitasi dua rumah warga, salah satunya milik Ibu Nuryati,” ujarnya.
Sudirman mengungkapkan, rumah Nuryati sebelumnya tidak layak huni. Dinding belum permanen, atap berisiko roboh, serta tidak memiliki fasilitas sanitasi dasar seperti kamar mandi dan jamban.
Perbaikan difokuskan pada pembangunan dinding permanen, pembenahan atap, serta penyediaan sanitasi berupa jamban, septic tank, dan bak mandi.
Proses pembangunan melibatkan partisipasi aktif warga sekitar sebagai bentuk gotong royong.
Pengerjaan ditargetkan selesai dalam waktu 10 hari agar rumah dapat segera ditempati dengan kondisi lebih layak dan aman.
Pelaksana Tugas Kepala Dinsos PPPA Banjarnegara, Sila Satriana, mengapresiasi kolaborasi lintas sektor dalam program ini.
“Ini merupakan contoh nyata sinergi dalam membantu masyarakat. Permasalahan sosial tidak bisa diselesaikan sendiri, tetapi harus melalui kebersamaan,” katanya.
Ia berharap kegiatan serupa terus berkembang dan menginspirasi lebih banyak pihak untuk berkontribusi dalam pengentasan kemiskinan.
Di sisi lain, Nuryati sebagai penerima bantuan mengaku sangat bersyukur atas perhatian yang diberikan.
“Terima kasih, sekarang rumah saya bisa diperbaiki dan lebih layak,” katanya.
Program bedah rumah ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah, lembaga, dan masyarakat mampu menghadirkan solusi konkret bagi warga kurang mampu.
Pendekatan gotong royong dinilai tetap relevan sebagai kekuatan utama dalam menjawab persoalan sosial di tingkat lokal.