
SERAYUNEWS – Petani di Desa Bulaksari, Kecamatan Bantarsari, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, berhasil mengolah kotoran sapi menjadi pupuk organik atau kompos yang kini mulai diminati pasar. Inovasi tersebut dilakukan sebagai upaya mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia sekaligus menjaga kesuburan tanah.
Pengembangan pupuk organik itu berawal dari bantuan Program Unit Pengolahan Pupuk Organik (UPPO) yang diterima pada tahun 2024 lalu. Bantuan tersebut dimanfaatkan para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Sido Makmur Desa Bulaksari.
Program UPPO itu merupakan bantuan dari mantan Anggota DPR RI, Sunarna. Bantuan yang diberikan meliputi delapan ekor sapi, mesin pengolahan pupuk, hingga unit rumah kompos untuk mendukung produksi pupuk organik di desa tersebut.
Ketua Kelompok Tani Sido Makmur, Samingan mengatakan, kelompoknya sebenarnya sudah lebih dulu memproduksi pupuk organik sebelum bantuan UPPO datang. Karena itu, setelah bantuan diterima, proses produksi bisa langsung berjalan.
“Dulu kami memang sudah mengolah pupuk organik dari kotoran ternak. Kebetulan setelah ada bantuan sapi dari Pak Sunarna, kotorannya langsung kami manfaatkan dan diolah menjadi pupuk,” ujar Samingan, Selasa (19/5/2026).
Dalam proses produksinya, kotoran sapi diolah menggunakan mesin bantuan UPPO. Tahapan pengolahan dilakukan melalui fermentasi dan pengomposan hingga menghasilkan pupuk organik siap pakai.
Namun demikian, proses produksi belum sepenuhnya berjalan maksimal. Salah satu kendala utama yang dihadapi petani adalah proses pengeringan pupuk yang masih sangat bergantung pada kondisi cuaca.
Menurut Samingan, saat cuaca mendukung, kelompok tani mampu memproduksi pupuk organik hingga sekitar satu ton setiap bulan. Sebaliknya, saat musim hujan, kapasitas produksi menurun karena proses pengeringan membutuhkan waktu lebih lama.
“Kalau cuaca bagus, produksi bisa mencapai sekitar satu ton per bulan. Kendala utamanya memang di pengeringan,” ujarnya.
Saat ini, pemasaran pupuk organik produksi Kelompok Tani Sido Makmur masih difokuskan untuk wilayah Kabupaten Cilacap. Konsumennya berasal dari kalangan petani hingga pedagang tanaman hias.
Harga pupuk organik tersebut dijual mulai Rp7 ribu hingga Rp10 ribu per kantong. Harga menyesuaikan jumlah pembelian serta jarak pengiriman.
“Kami jual ke petani dan pedagang tanaman hias. Harganya antara Rp7 ribu sampai Rp10 ribu per kantong, tergantung jumlah pembelian dan jarak kirim,” jelasnya.
Samingan berharap semakin banyak petani mulai menyeimbangkan penggunaan pupuk kimia dengan pupuk organik. Selain untuk menekan biaya produksi, penggunaan pupuk organik juga dinilai mampu menjaga kesehatan tanah dan lingkungan dalam jangka panjang.
“Kami mendorong petani supaya tidak hanya bergantung pada pupuk kimia. Sebaiknya dipadukan dengan pupuk organik, misalnya masing-masing 50 persen,” katanya.