Ilustrasi penanganan kekeringan di Pemalang. (Dok Pemkab Pemalang)
PEMALANG, SERAYUNEWS — Bencana kekeringan parah kembali melanda kawasan lereng Gunung Slamet, tepatnya di Desa Siremeng, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang. Imbasnya warga beli air hingga jutaan rupiah.
Musim kemarau yang berlangsung lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya ini membuat pasokan air bersih warga kering kerontang.
Akibatnya, warga dan peternak lokal harus merogoh kocek hingga jutaan rupiah demi membeli air tangki.
Kondisi tahun ini dinilai menjadi salah satu yang terparah, karena fasilitas penampungan air hujan (kolah) milik warga sudah tak lagi mampu menyuplai kebutuhan harian.
Kekeringan Kian Parah, Pasokan Air Hujan Warga Kering Total
Dampak kemarau panjang ini dirasakan langsung oleh Rodiyah, warga Desa Siremeng yang juga sebagai peternak ayam. Ia mengungkapkan bahwa ancaman kekeringan kali ini jauh lebih berat dibandingkan tahun lalu.
“Tahun kemarin yang di rumah enggak sampai beli air. Kalau sekarang parah banget, kekeringannya lama. Mau tidak mau harus beli,” tutur Rodiyah, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, pengiriman air tangki disesuaikan dengan jarak tempuh dari sumber air seperti Karangsari atau Belik.
Untuk wilayah Desa Siremeng, harga air dibanderol sekitar Rp250.000 per tangki.
Namun, untuk wilayah yang lebih tinggi dan terjal seperti Penakir atau Dukuhkantong, tarifnya bisa melonjak hingga Rp300.000 per tangki karena memperhitungkan konsumsi bahan bakar armada pengangkut.
Sektor Peternakan Terpukul: 10 Tangki Air Ludes dalam Setengah Bulan
Sebagai peternak ayam, Rodiyah menanggung beban ganda. Selain kebutuhan domestik, populasi ayam ternaknya membutuhkan pasokan air minum yang sangat besar. Dalam kurun waktu setengah bulan (sekitar 15 hari) saja, usahanya telah menghabiskan hingga 10 tangki air (kapasitas 5.000–6.000 liter per tangki).
Pembelian air berulang ini secara langsung memangkas margin keuntungan hasil panen ternaknya.
“Iya, mengurangi hasil (keuntungan). Ada uang, ada hasil, tapi ya terpaksa buat beli air minum ternak. Tapi alhamdulillah masih ada sisa hasil sedikit,” tambah Rodiyah.
Kebutuhan Domestik Ikut Lumpuh, Warga Keluarkan Rp200 Ribu per Minggu
Tidak hanya berdampak pada sektor usaha peternakan, krisis air bersih akibat bencana kekeringan ini dirasakan langsung oleh warga pemukiman untuk kebutuhan sehari-hari.
Karti, warga Desa Siremeng lainnya, menceritakan bahwa dirinya harus memesan pasokan air bersih menggunakan toren berkapasitas sekitar 4.000 liter dengan harga Rp200.000 per pengisian.
“Beli yang harga Rp200.000, isi toren 4.000 liter. Ini sudah beli sekitar 4 sampai 5 kali. Satu toren itu cuma tahan sekitar satu minggu untuk semua kebutuhan,” jelas Karti.
Ia merincikan bahwa pasokan air beli tersebut digunakan secara hemat untuk seluruh aktivitas rumah tangga, mulai dari memasak, mandi, mencuci pakaian, hingga membersihkan perabotan rumah.
Masyarakat Desa Siremeng kini hanya bisa berharap adanya penanganan darurat dan penyaluran bantuan air bersih secara berkala dari pemerintah daerah guna meringankan beban ekonomi warga di tengah bencana kekeringan yang masih berlangsung.