
BANYUMAS, SERAYUNEWS – Menjalani aktivitas sebagai mahasiswa tidak selalu hanya berkaitan dengan kegiatan akademik.
Sejumlah mahasiswa di Purwokerto mulai mencoba membangun usaha kecil di tengah kesibukan kuliah, mulai dari bisnis pakaian bekas layak pakai hingga memproduksi camilan ringan.
Bagi mereka, usaha yang dijalankan tidak hanya bertujuan menambah penghasilan, tetapi juga menjadi pengalaman untuk belajar mengelola bisnis, membaca peluang pasar, serta membangun relasi.
Salah satunya dilakukan oleh Nugi, mahasiswa salah satu universitas di Purwokerto yang mulai menjalankan bisnis thrifting sejak 2023 ketika masih berada di semester tiga.
Bisnis thrifting yang dijalankan Nugi bermula dari hal sederhana. Saat pindah kos, ia membawa banyak pakaian dari rumah yang sebagian sudah jarang digunakan.
Melihat pakaian yang menumpuk di lemari, Nugi mencoba menjualnya melalui media sosial.
“Awalnya cuma iseng karena banyak baju yang nggak kepakai. Waktu pindahan kos, baju dari rumah numpuk di lemari, terus saya coba jual,” ujar Nugi saat ditemui serayunews pada Kamis, (03/09/2026).
Ia mulai menawarkan pakaian tersebut melalui Facebook dan kepada teman-teman terdekat. Dari sana, ia mulai mendapatkan pembeli, termasuk dari luar daerah.
Melihat adanya peluang, Nugi kemudian memperluas pemasaran melalui marketplace. Stok pakaian yang awalnya berasal dari barang pribadi mulai berkembang dengan membeli pakaian satuan hingga mengambil stok dalam jumlah lebih banyak.
Salah satu perkembangan bisnisnya terjadi ketika tren pakaian Polo meningkat. Saat itu, Nugi mencoba membeli satu bal pakaian Polo untuk dijual kembali.
“Awalnya dari barang bekas sendiri. Setelah habis, saya coba beli satu-satu. Kemudian mulai beli borongan,” katanya.

Berbeda dengan Nugi yang memanfaatkan tren pakaian, Monalisa memilih usaha camilan ringan dengan melihat peluang dari lingkungan mahasiswa.
Mahasiswa salah satu universitas di Purwokerto itu mulai merintis usaha camilan pada Oktober 2025. Sebelum menjual risol, ia lebih dulu mencoba membuat produk camilan ringan.
Monalisa memilih produk makanan karena melihat adanya peluang pasar di kalangan mahasiswa. Selain itu, camilan ringan dinilai lebih mudah dikelola karena dapat disimpan dan tidak harus selalu diproduksi dalam jumlah besar setiap hari.
“Saya memilih makanan karena melihat peluang pasar di mahasiswa. Camilan ringan juga tahan lama, jadi lebih mudah untuk stok,” ujar Monalisa saat ditemui serayunews pada Kamis, (03/09/2026).
Dalam proses awal, Monalisa belajar secara mandiri melalui eksperimen. Dukungan keluarga dan orang terdekat juga membantunya dalam menjalankan usaha.
Produk utama yang dijual Monalisa adalah kulpi atau camilan berbahan kulit lumpia goreng.
Produk tersebut memiliki beberapa varian rasa, mulai dari pedas daun jeruk, balado pedas, jagung manis, original daun jeruk, hingga varian manis seperti coklat, matcha, dan tiramisu.
Untuk harga, varian pedas dijual Rp7 ribu, sedangkan varian manis Rp8 ribu karena menggunakan bahan baku yang berbeda.
Dalam menjalankan bisnis, keduanya memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai pasar awal.
Monalisa menjadikan mahasiswa sebagai target utama. Selain menjual langsung kepada teman-temannya, produk tersebut juga dititipkan di kantin kampus dan sejumlah warung sekitar.
Menurutnya, mahasiswa menjadi pasar yang potensial karena memiliki kebiasaan berkumpul dan membutuhkan makanan ringan untuk menemani aktivitas.
“Mahasiswa itu suka ngumpul, jadi saya melihat ada peluang untuk menemani aktivitas mereka,” kata Monalisa.
Sementara itu, Nugi memanfaatkan beberapa platform digital seperti Facebook, Instagram, dan marketplace untuk memasarkan bisnis thrifting miliknya.
Menurut Nugi, setiap platform memiliki tantangan berbeda. Ia menyebut pemasaran melalui Instagram masih menjadi salah satu hal yang perlu dikembangkan karena membutuhkan konsistensi dalam membuat konten.
“Yang paling sulit membangun pasar di Instagram karena mungkin saya kurang update dan belum banyak membuat konten,” ujar Nugi.
Meski menjalankan bisnis, Nugi dan Monalisa tetap berusaha membagi waktu dengan kegiatan akademik.
Nugi memanfaatkan waktu yang memungkinkan untuk melakukan transaksi dengan pembeli. Jika ada pembeli yang ingin melakukan COD, ia menyesuaikan dengan jadwal kuliah.
Namun, ketika terjadi benturan antara bisnis dan perkuliahan, ia memilih menyelesaikan kewajiban akademik terlebih dahulu.
“Kalau ada tugas kuliah, saya kerjakan dulu tugasnya. Kuliah tetap lebih penting,” katanya.
Hal serupa dilakukan Monalisa. Produksi camilan biasanya dilakukan setelah kegiatan perkuliahan selesai.
Ia juga tetap menempatkan tugas kuliah sebagai prioritas ketika harus memilih antara pesanan dan kewajiban akademik.
Bagi Nugi, menjalankan usaha selama kuliah memberikan pengalaman baru dalam berinteraksi dengan pelanggan dan membangun jaringan.
Menurutnya, bisnis tidak hanya berkaitan dengan pendapatan tambahan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengenal banyak orang dan memahami proses jual beli.
“Dari usaha kita bisa bertemu orang baru, membuka relasi, dan belajar bagaimana dunia jual beli,” ujar Nugi.
Sementara itu, Monalisa menilai bisnis yang dijalankan menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan diri. Ia mengaku tetap mempertahankan usahanya karena ingin terus belajar menghadapi berbagai kondisi dalam dunia bisnis.
“Dunia bisnis itu ada pasang surutnya. Jadi bagaimana kita bisa bertahan dan tetap bersyukur dengan apa yang didapat hari itu,” kata Monalisa.
Saat ini, keduanya masih terus mengembangkan usaha masing-masing sambil menyelesaikan pendidikan. Bagi mereka, bisnis yang dimulai dari skala kecil menjadi pengalaman untuk memahami dunia usaha sejak masih berada di bangku kuliah. (Akhmad Sofwan Jauhari)