
SERAYUNEWS— Pendiri Microsoft sekaligus filantropis kawakan, Bill Gates, melalui blog personalnya menyatakan setiap tahun, aktivitas di Bumi menghasilkan 51 miliar ton gas rumah kaca.
Salah satu penyebabnya berasal dari produksi lemak dan minyak dari hewan dan tumbuhan, termasuk minyak sawit. Lalu, Bill Gates menuding Indonesia dan Malaysia sebagai biang kerok minyak sawit.
“Pada 2018, kehancuran yang terjadi di Malaysia dan Indonesia saja sudah cukup parah hingga menyumbang 1,4% emisi global. Angka itu lebih besar dari seluruh negara bagian California dan hampir sama besarnya dengan industri penerbangan di seluruh dunia,” kata Gates dikutip pada hari Minggu (3/3/2024).
Gates menegaskan bahwa masalah pada minyak sawit bukan soal penggunaannya, tetapi bagaimana proses menghasilkannya. Mayoritas jenis sawit asli jenis Afrika Barat dan Tengah tidak tumbuh di banyak wilayah. Pohon itu hanya tumbuh subur di tempat-tempat yang garis khatulistiwa lewati, seperti Indonesia dan Malaysia.
“Hal ini menyebabkan penggundulan hutan di area-area khatulistiwa untuk mengonversinya menjadi lahan sawit,” kata Gates.
Proses ini berdampak buruk bagi keragaman alam dan menyebabkan pukulan telak bagi perubahan iklim. Pembakaran hutan menciptakan emisi yang banyak di atmosfer dan mengakibatkan peningkatan suhu
“Pembakaran hutan melepaskan berton-ton gas rumah kaca ke atmosfer, dan ketika lahan basah yang ada di dalamnya dihancurkan, karbon yang mereka simpan juga ikut terlepas,” katanya.
Gates kemudian bercerita pada 2018 lalu, pembabatan hutan yang terjadi di Malaysia dan Indonesia cukup parah karena menyumbang 1,4 persen emisi global.
“Pada tahun 2018, kehancuran yang terjadi di Malaysia dan Indonesia saja sudah cukup parah hingga menyumbang 1,4 persen emisi global,” ungkapnya.
Sayangnya, Gates mengakui bahwa peran minyak sawit sulit tergantikan. Komoditas sawit murah, tidak berbau, dan melimpah.
“Saat ini, minyak sawit adalah lemak nabati yang paling banyak konsumsinya di seluruh dunia. Sebagian kita temukan pada makanan sehari-hari seperti kue, mie instan, krim kopi, makanan beku, hingga makeup, sabun badan, odol, deterjen, deodoran, makanan kucing, formula bayi, dan sebagainya. Bahkan, minyak sawit juga berguna untuk biofuel dan mesin diesel,” jelasnya.
Untuk alasan-alasan tersebut, Gates mengatakan sudah ada perusahaan-perusahaan yang mencoba mengatasinya. Salah satunya C16 Biosciences yang berupaya membuat alternatif minyak sawit.
Minyak C16 mempunyai pengembangan mirip minyak sawit. Hanya saja, sintetisnya berasal dari mikroba ragi liar yang mengalami fermentasi. Hal ini agar tidak menghasilkan emisi.
Gates berkeyakinan C16 Biosciences atau sintesis sawit ini akan sukses dan mampu menyelamatkan bumi dari kehancuran. Minyak C16 bisa orang manfaatkan dan gunakan dalam aplikasi yang sama seperti minyak sawit.
Bukan hanya soal lingkungan, jika Gates kemudian tertarik untuk berinvestasi di C16 Biosciences. Selain itu, ada potensi cuan yang besar dalam industri tersebut.
Statistik menunjukkan penggunaan minyak sawit terus meningkat. Oleh karena itu, Gates menilai peluang C16 Biosciences bakal meningkat signifikan setiap tahun. Hal itu sejalan permintaan global atas produk-produk yang mengandung bahan tersebut.
Gates menganalogikan investasinya dalam minyak sawit C16 Biosciences seperti membangun fondasi yang kuat untuk bisnisnya. Itu sebabnya Gates bersama sejumlah filantropi dunia seperti Jeff Bezos pendiri Amazon, Michael Bloomberg dan Richard Branson dari Virgin telah berinvestasi. Mereka menginvestasikan 20 Dolar AS atau sekitar Rp283,18 miliar kepada C16 Biosciences.
Bahkan, Gates kabarnya kembali menggelontorkan hibah sebesar 3,5 juta Dolar AS sebagai tambahan dari investasi sebesar 1 juta Dolar AS. *** (O Gozali)