
CILACAP, SERAYUNEWS – Dampak musim kemarau mulai dirasakan di sejumlah wilayah Kabupaten Cilacap. Hingga awal Juli 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap telah menyalurkan 161 ribu liter air bersih kepada ribuan warga yang mulai mengalami kesulitan mendapatkan air.
Kepala Pelaksana BPBD Cilacap, Taryo, mengatakan hingga Selasa (7/7/2026), pihaknya telah mendistribusikan 31 tangki air bersih ke sembilan desa yang tersebar di tujuh kecamatan. Distribusi tersebut juga diperkuat dengan tambahan dua tangki air dari Palang Merah Indonesia (PMI).
“Alhamdulillah sampai dengan hari kemarin kita sudah mendistribusikan 31 tangki air bagi sembilan desa di tujuh kecamatan. Kemudian ada tambahan dua tangki air dari PMI. Jadi total suplai air bersih sampai dengan hari kemarin sejumlah 33 tangki atau setara 161.000 liter air bagi sekitar 1.600 kepala keluarga atau lebih dari 6.200 jiwa,” kata Taryo, Rabu (8/7/2026).
Ia memastikan distribusi air bersih berjalan lancar. BPBD berkomitmen segera menyalurkan bantuan setiap menerima permohonan dari masyarakat agar kebutuhan air bersih tetap terpenuhi selama musim kemarau.
BPBD Cilacap menjadikan Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut, sebagai salah satu wilayah prioritas distribusi air bersih. Menurut Taryo, pengiriman air dilakukan secara berkala agar masyarakat tidak mengalami krisis air selama kemarau.
“Kampung Laut kita terus dropping. Satu desa yaitu Desa Ujung Alang secara periodik kita dropping dan itu menjadi salah satu atensi kami. Jangan sampai warga di sana kekurangan air bersih,” ujarnya.
Distribusi menuju Kampung Laut dilakukan melalui jalur darat hingga titik tertentu, kemudian dilanjutkan menggunakan perahu menuju lokasi tujuan.
Selain Kampung Laut, permohonan bantuan air bersih juga datang dari sejumlah kecamatan lain seperti Nusawungu, Jeruklegi, Gandrungmangu, Patimuan, Wanareja, dan beberapa wilayah lainnya.
BPBD Cilacap telah melakukan kaji cepat berdasarkan prakiraan musim kemarau dari BMKG. Hasilnya, sebanyak 12 kecamatan diperkirakan berpotensi terdampak kekeringan yang mencakup 50 desa dan 75 dusun atau grumbul.
“Kemarau tahun ini diprediksi lebih kering. Hasil kaji cepat kami ada sekitar 12 kecamatan terdampak di 50 desa dan 75 dusun dengan jumlah penduduk sekitar 83 ribu jiwa,” jelas Taryo.
Menurutnya, BMKG memperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus 2026. Namun dampaknya sudah mulai dirasakan sejak akhir Juni dan semakin terlihat pada awal Juli dengan meningkatnya permintaan bantuan air bersih.
Taryo menjelaskan, daerah yang mengajukan bantuan air bersih tidak hanya berada di kawasan pesisir, tetapi juga wilayah pegunungan yang belum terlayani jaringan Perumda Air Minum (PDAM).
Di wilayah pesisir seperti Nusawungu dan Adipala, masyarakat kesulitan memperoleh air layak konsumsi karena sumber air menjadi payau saat musim kemarau. Sementara di daerah pegunungan, keterbatasan jaringan distribusi air bersih masih menjadi kendala utama.
Meski demikian, kondisi kekeringan pada tahun ini dinilai lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena sejumlah wilayah yang sebelumnya rutin mengalami krisis air kini telah terlayani jaringan PDAM.
“Kalau tahun ini malah semakin sedikit. Beberapa wilayah yang dulu sering mengajukan permohonan air bersih sekarang sudah mulai teraliri jaringan PDAM. Harapan kami ke depan jaringan PDAM bisa terus diperluas sehingga daerah-daerah langganan kekeringan tidak lagi mengalami kesulitan air bersih saat musim kemarau,” pungkasnya.