
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS — Sekitar 100 pusaka Nusantara dipamerkan dalam Pameran dan Bincang Budaya bertajuk “Keris Menceritakan Perjalanan Sejarah Bangsa” di Balai Kelurahan Karangtengah, Banjarnegara.
Paguyuban Pelestari Tosan Aji (Puri Taji) Kudi Mas Banjarnegara menggelar kegiatan tersebut bukan sekadar untuk memamerkan keris dan pusaka tradisional. Pameran menjadi ruang edukasi bagi masyarakat untuk memahami keris sebagai warisan budaya yang menyimpan nilai sejarah, filosofi, simbol, seni, dan kearifan lokal.
Kegiatan yang berlangsung sejak Minggu (30/8/2026) tersebut terbuka untuk umum. Kudi Mas menggelarnya bersama Karang Taruna Kelurahan Karangtengah sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI bertajuk Harmony Budaya #3.
Ketua Kudi Mas Banjarnegara, Sagiyo, mengatakan pameran dan bincang budaya tersebut merupakan bagian dari upaya memberikan pemahaman yang lebih utuh mengenai tosan aji, khususnya keris.
Menurutnya, masyarakat masih kerap mengaitkan keris dengan hal-hal mistis. Padahal, keris memiliki perjalanan sejarah dan kandungan nilai budaya yang jauh lebih luas.
“Kami ingin berbagi pengetahuan nilai historis dan budaya. Utamanya, pesan simbolik dalam pamor dan ricikan keris sebagai warisan budaya tak benda kepada masyarakat luas,” ujar Sagiyo.
Ia menambahkan, Kudi Mas ingin menjadikan dialog kebudayaan tersebut sebagai sarana menumbuhkan kesadaran sejarah sekaligus memperkuat proses pewarisan nilai-nilai kearifan budaya kepada generasi muda.
Bincang budaya diikuti sekitar 50 peserta dari berbagai kalangan. Mereka antara lain berasal dari Permadani, Bambu Aji, budayawan, seniman, pemerhati sejarah, mahasiswa KKN, serta masyarakat sekitar.
Narasumber senior Kudi Mas, Ki Suprapto, memaparkan berbagai aspek mengenai tosan aji. Pembahasan mencakup sejarah dan filosofi keris, karakter fisik, istilah dalam dunia perkerisan, hingga etika memperlakukan pusaka.
“Kita edukasi tentang tosan aji terutama keris, antara lain tentang pamor, sejarah, perkiraan era pembuatan, cara memegang, hingga cara menyampirkan keris yang benar sesuai pakem dan tata krama,” katanya.
Materi tersebut memberikan pemahaman bahwa keris tidak hanya dapat dilihat berdasarkan bentuk fisiknya. Setiap bagian memiliki istilah, fungsi simbolik, serta konteks budaya yang berkembang dalam tradisi perkerisan.
Peserta bincang budaya dari Paguyuban Permadani, Heru Wiharso, mengaku prihatin dengan masih berkembangnya pandangan negatif terhadap pusaka tradisional.
Menurutnya, keris semestinya dipahami sebagai bagian dari perjalanan kebudayaan dan sejarah bangsa, bukan hanya dikaitkan dengan hal-hal mistis.
“Keris sering jadi stigma miring yang dilekatkan dengan hal-hal mistis, padahal keris adalah warisan budaya. Di sinilah diperlukan edukasi terutama bagi Gen Z dan masyarakat awam agar paham cara pandang dan nilai keris sebenarnya,” katanya.
Ia menyebut edukasi mengenai dunia perkerisan atau paduwungan juga menjadi salah satu materi yang dikenalkan di lingkungan Permadani.
Menurut Heru, pemahaman tersebut penting agar generasi muda memiliki perspektif yang lebih tepat terhadap keris dan berbagai pusaka tradisional Nusantara.
Selain keris, sekitar 100 koleksi pusaka milik anggota Kudi Mas turut dipamerkan dalam kegiatan tersebut.
Beragam jenis tosan aji dipajang sehingga masyarakat dapat melihat secara langsung bentuk dan karakter pusaka yang selama ini menjadi bagian dari sejarah kebudayaan Nusantara.
Koleksi tersebut antara lain kudi, kujang, keris, tombak, dan pedang.
Pusaka yang dipamerkan berasal dari berbagai periode, mulai era kerajaan kuno hingga masa setelah Indonesia merdeka. Keragaman koleksi tersebut memberikan gambaran mengenai perkembangan bentuk dan tradisi pusaka dari waktu ke waktu.
Melalui pameran dan bincang budaya tersebut, Kudi Mas berharap masyarakat semakin dekat dengan warisan budaya Nusantara sekaligus memiliki perspektif yang lebih luas mengenai keris dan tosan aji.
Kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk mempertemukan komunitas budaya, pemerhati sejarah, seniman, mahasiswa, dan masyarakat umum dalam pembahasan mengenai warisan budaya.
Bagi generasi muda, pameran ini memberikan kesempatan untuk mengenal keris tidak hanya sebagai benda pusaka. Di balik sebilah keris terdapat jejak sejarah, filosofi, seni, simbol, serta nilai budaya yang terus berkembang dan perlu dipelajari.
Upaya mengenalkan nilai tersebut diharapkan dapat memperkuat proses pewarisan budaya agar pengetahuan mengenai keris dan tosan aji tidak berhenti pada koleksi, tetapi tetap hidup di tengah masyarakat dan generasi berikutnya.