
PURBALINGGA, SERAYUNEWS — Momen pernikahan yang seharusnya dipenuhi canda tawa bahagia mendadak berubah menjadi kepanikan bagi pasangan calon pengantin Bagus Ferdinan dan Dwi Novianti.
Tepat di hari bahagia mereka, Jumat (4/9/2026), rencana untuk mengikrarkan janji suci di Kantor Urusan Agama (KUA) Kutasari terpaksa buyar karena kondisi kesehatan yang tak terduga.
Rencana semula seketika berubah saat Bagus mendadak mengalami penurunan kondisi fisik secara drastis dalam perjalanan menuju lokasi akad.
Melihat kondisi mempelai pria yang terus melemah, pihak keluarga langsung mengambil keputusan cepat untuk membawanya ke Unit Gawat Darurat (UGD) Puskesmas Kutasari guna mendapatkan penanganan medis darurat.
Di tengah kecemasan keluarga dan hiruk-pikuk penanganan medis di ruang UGD, kepastian mengenai prosesi ijab kabul sempat menjadi tanda tanya besar. Namun, situasi darurat tersebut tidak menyurutkan niat kedua mempelai untuk meresmikan ikatan suci mereka.
Petugas dari KUA Kutasari yang menerima laporan kondisi tersebut memilih untuk mendatangi langsung lokasi tempat mempelai pria dirawat. Setelah tim medis Puskesmas Kutasari memastikan kondisi Bagus cukup stabil untuk berkomunikasi, prosesi akad nikah pun digelar sederhana namun khidmat tepat di atas ranjang perawatan.
Dengan bimbingan penghulu serta disaksikan oleh keluarga terdekat dan tenaga medis yang bertugas, ijab kabul berhasil diucapkan dengan lancar.
Seluruh rukun dan keabsahan administrasi pernikahan tetap terpenuhi secara sah di mata hukum maupun agama.
Kehadiran petugas ke fasilitas kesehatan ini merupakan bentuk penerapan Inovasi Layanan CEKATAN (Cepat Kepada Kelompok Rentan).
Melalui model pelayanan proaktif ini, petugas hadir secara fleksibel untuk memberikan kepastian layanan bagi masyarakat yang sedang mengalami kondisi darurat atau terhalang kendala fisik.
Kepala KUA Kutasari, Syarifudin, menjelaskan bahwa fleksibilitas dalam kondisi darurat merupakan hal yang mutlak untuk memastikan hak-hak administrasi masyarakat tetap terpenuhi.
“Ketika masyarakat membutuhkan pelayanan dalam kondisi tertentu, kami berusaha hadir dan memberikan solusi. Pelayanan tidak harus menunggu masyarakat datang ke kantor, tetapi harus mampu menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat,” ungkap Syarifudin.
Aksi sigap ini menjadi bukti nyata hadirnya pelayanan publik yang humanis dan tidak menyulitkan warga, bahkan dalam situasi paling tidak terduga sekalipun.