
SERAYUNEWS- Pemerintah resmi meluncurkan Paket Stimulus Ekonomi I Tahun 2026 sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Ini sekaligus untuk mendukung kelancaran mobilitas masyarakat menjelang libur Idulfitri 2026. Paket kebijakan ini diumumkan dalam keterangan pers yang digelar di Stasiun Gambir, Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Peluncuran stimulus ekonomi tersebut dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, didampingi sejumlah menteri terkait, antara lain Menteri Sosial, Menteri Ketenagakerjaan, Menteri PANRB, Menteri Perhubungan, Menteri Sekretaris Negara, serta Sekretaris Kabinet.
Kehadiran lintas kementerian ini menegaskan bahwa stimulus dirancang secara terintegrasi dan menyentuh berbagai sektor strategis.
Pemerintah menilai momentum menjelang Idulfitri menjadi periode krusial bagi perekonomian nasional, terutama dari sisi konsumsi rumah tangga dan pergerakan masyarakat antarwilayah.
Salah satu fokus utama Paket Stimulus Ekonomi I 2026 adalah pemberian diskon tarif transportasi untuk berbagai moda perjalanan.
Program ini bertujuan meringankan biaya perjalanan masyarakat sekaligus mengendalikan lonjakan harga tiket yang kerap terjadi menjelang musim mudik.
Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp911,16 miliar yang bersumber dari APBN dan non-APBN. Dana tersebut digunakan untuk memberikan subsidi tarif kepada jutaan penumpang selama periode mudik Lebaran 2026.
Untuk moda transportasi darat, pemerintah memberikan diskon tarif kereta api sebesar 30 persen dari harga tiket normal.
Kebijakan ini diharapkan mendorong masyarakat memilih kereta api sebagai sarana mudik utama karena lebih aman, terjangkau, dan ramah lingkungan. Selain itu, penggunaan transportasi massal dinilai mampu menekan kepadatan arus lalu lintas di jalur darat.
Pemerintah juga memberikan perhatian khusus pada transportasi laut dengan mengalokasikan diskon tarif angkutan laut sebesar 30 persen dari tarif dasar.
Kebijakan ini ditujukan untuk menjaga konektivitas antarwilayah kepulauan, khususnya di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) yang sangat bergantung pada transportasi laut selama periode Lebaran.
Stimulus paling signifikan diberikan pada sektor angkutan penyeberangan. Pemerintah menetapkan diskon hingga 100 persen dari tarif jasa kepelabuhanan.
Kebijakan ini diharapkan dapat memperlancar arus mudik lintas pulau dan mengurangi antrean panjang di pelabuhan penyeberangan.
Untuk sektor penerbangan, pemerintah memberikan diskon tiket pesawat sebesar 17–18 persen khusus kelas ekonomi penerbangan domestik.
Diskon ini menjadi upaya konkret pemerintah untuk menekan harga tiket pesawat yang kerap melonjak tajam saat musim mudik, sekaligus menjaga daya beli masyarakat kelas menengah.
Selain insentif tarif, pemerintah juga menerapkan kebijakan Work From Anywhere (WFA) atau Flexible Working Arrangement (FWA) guna mengurai kepadatan mobilitas masyarakat.
Skema ini berlaku selama lima hari kerja, yakni pada:
Kebijakan WFA/FWA ditujukan bagi ASN dan pekerja swasta, dengan pengaturan teknis disesuaikan kebijakan instansi dan perusahaan masing-masing. Pemerintah berharap fleksibilitas kerja ini dapat menyebar waktu perjalanan mudik sehingga tidak menumpuk pada satu periode tertentu.
Dalam rangka menjaga daya beli masyarakat, pemerintah juga menyalurkan bantuan pangan kepada kelompok rentan.
Bantuan disalurkan sekaligus untuk dua bulan kepada 35,04 juta keluarga penerima manfaat (KPM) yang berada pada desil 1 hingga desil 4.
Total estimasi kebutuhan anggaran program bantuan pangan ini mencapai Rp11,92 triliun.
Pemerintah menegaskan bahwa Paket Stimulus Ekonomi I Tahun 2026 tidak hanya bertujuan mendukung kelancaran mudik Idulfitri, tetapi juga menjaga stabilitas ekonomi nasional dan mendorong konsumsi domestik.
Melalui kombinasi diskon transportasi, fleksibilitas kerja, dan bantuan pangan, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi tetap terjaga serta masyarakat dapat menyambut Idulfitri 2026 dengan lebih aman, nyaman, dan terjangkau.