SERAYUNEWS – Mengamati hilal merupakan bagian penting dalam penentuan awal bulan Hijriah, terutama untuk menentukan awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha.
Meskipun teleskop sering digunakan untuk membantu observasi, ada berbagai metode tradisional dan alat sederhana yang dapat digunakan untuk melihat hilal tanpa teleskop.
Lalu, bagaimana cara mengamati hilal dan alat apa saja yang bisa digunakan? Yuk, simak artikel ini sampai akhir.
Sebelum membahas cara melihat hilal secara langsung, perlu diketahui bahwa ada metode hisab yang digunakan dalam penentuan awal bulan Hijriah.
Hisab adalah metode perhitungan matematis dan astronomis yang memperkirakan posisi bulan tanpa perlu observasi langsung.
Dengan hisab, para ahli dapat menentukan kapan hilal kemungkinan besar terlihat berdasarkan data astronomi.
Para pengamat hilal yang bertugas biasanya telah mengambil sumpah di bawah pengawasan Kementerian Agama (Kemenag) dan hakim.
Jika hasil pengamatan mereka dibutuhkan sebagai bukti, mereka bisa dimintai pertanggungjawaban untuk memastikan keakuratan observasi.
Saat observasi dilakukan, pengamat mengarahkan alat optik ke barat, tepat di lokasi terbenamnya matahari.
Alat yang digunakan bisa berupa teleskop, monokuler, binokuler, atau teodolit.
Namun, jika tidak memiliki alat-alat tersebut, ada cara lain untuk mengamati hilal secara langsung.
Cara paling sederhana adalah mencoba melihat hilal langsung dengan mata telanjang setelah matahari terbenam.
Namun, metode ini sangat bergantung pada kondisi cuaca dan tingkat kecerahan hilal.
Jika langit berawan atau polusi cahaya tinggi, kemungkinan hilal tidak akan terlihat dengan jelas.
Salah satu teknik tradisional yang sering digunakan adalah mengamati bayangan benda atau pohon saat matahari terbenam atau ketika matahari berada pada posisi 45 derajat dari ufuk.
Ketika hilal muncul, bayangan tersebut bisa terlihat bergerak atau menghilang, memberikan indikasi adanya hilal.
Beberapa alat sederhana dapat membantu pengamatan hilal, antara lain:
Mengamati hilal tanpa teleskop memang lebih menantang, tetapi masih bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti melihat dengan mata telanjang, mengamati bayangan, atau menggunakan alat bantu sederhana.
Meskipun begitu, metode hisab tetap menjadi acuan utama dalam menentukan awal bulan Hijriah.
Dengan berkembangnya teknologi, observasi hilal kini semakin akurat, tetapi metode tradisional tetap memiliki nilai penting dalam menjaga warisan budaya Islam.***