
SERAYUNEWS- Perkembangan kecerdasan buatan kembali memasuki fase sensitif. ChatGPT, layanan AI percakapan milik OpenAI, kini dibekali kemampuan untuk memprediksi usia pengguna secara otomatis.
Fitur ini dirancang untuk memperkuat perlindungan terhadap anak-anak dan remaja yang semakin aktif menggunakan teknologi AI dalam kehidupan sehari-hari.
Langkah ini diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap dampak AI pada kesehatan mental generasi muda.
OpenAI menilai bahwa metode deklarasi usia secara manual sudah tidak lagi efektif, karena mudah dimanipulasi dan sulit diverifikasi secara akurat, terutama oleh pengguna di bawah umur.
Dengan sistem prediksi usia berbasis perilaku digital, ChatGPT kini dapat menyesuaikan pengalaman pengguna secara otomatis.
Konten sensitif akan dibatasi tanpa perlu campur tangan manual, sekaligus menciptakan ruang interaksi yang lebih aman, relevan, dan sesuai tahap perkembangan usia.
Sistem prediksi usia yang diterapkan ChatGPT bekerja dengan mengamati berbagai sinyal penggunaan akun. Teknologi ini tidak mengandalkan satu data tunggal, melainkan menggabungkan pola aktivitas yang terbentuk seiring waktu.
Melalui pendekatan ini, AI mampu mengenali karakteristik pengguna remaja yang biasanya memiliki pola waktu aktif, gaya bertanya, dan intensitas interaksi berbeda dibanding pengguna dewasa. Hasil analisis tersebut kemudian digunakan untuk menentukan tingkat perlindungan yang diterapkan.
ChatGPT menggunakan pendekatan perilaku digital untuk memperkirakan usia pengguna. Sistem ini bekerja cerdas tanpa melanggar privasi, berikut ini cara kerjanya:
1. Menghormati privasi tanpa membaca identitas personal pengguna
2. Menganalisis perilaku akun secara agregat
3. Memeriksa usia yang diinput saat pendaftaran
4. Menilai usia dan riwayat aktivitas akun
5. Mengamati kebiasaan login dan waktu penggunaan
6. Menganalisis ritme serta pola percakapan
7. Menggabungkan seluruh indikator untuk estimasi usia
8. Menghasilkan prediksi lebih akurat dibanding deklarasi manual
Kombinasi data perilaku membuat prediksi usia lebih akurat. Perlindungan pengguna pun jadi lebih efektif.
ChatGPT kini mengaktifkan perlindungan otomatis untuk pengguna di bawah umur. Sistem bekerja sejak awal tanpa pengaturan manual. Keamanan anak jadi fokus OpenAI berikut ini cara kerjanya:
1. Sistem langsung mendeteksi akun pengguna di bawah 18 tahun
2. ChatGPT otomatis membatasi konten sensitif
3. Perlindungan aktif tanpa notifikasi mengganggu
4. Pengguna tidak perlu melakukan pengaturan manual
5. Sistem mencegah risiko sejak awal penggunaan
6. Pendekatan proaktif cegah paparan berbahaya
7. Keamanan anak dan remaja jadi prioritas utama
Pendekatan ini mencegah risiko sejak awal. Konten sensitif langsung dibatasi. Pengguna muda jadi lebih aman.
Pembatasan konten diterapkan secara berlapis agar tetap kontekstual dan tidak berlebihan. Tujuannya adalah menjaga keseimbangan antara keamanan dan kegunaan AI sebagai alat belajar.
Konten yang disaring meliputi topik kekerasan ekstrem, seksual eksplisit, simulasi berbahaya, hingga pembahasan yang berpotensi memicu perilaku menyakiti diri. Sistem juga membatasi narasi yang mendorong standar tubuh ekstrem atau tantangan berisiko.
OpenAI tidak mengembangkan fitur ini secara sepihak. Prosesnya melibatkan masukan dari psikolog anak, akademisi, serta peneliti perkembangan remaja yang memahami dinamika emosional usia muda.
Pendekatan ilmiah ini membantu AI memahami bahwa anak dan remaja memiliki tingkat kontrol impuls dan regulasi emosi yang berbeda. Oleh karena itu, interaksi AI harus disesuaikan agar tidak menimbulkan dampak psikologis jangka panjang.
OpenAI menyadari bahwa sistem prediksi tidak selalu sempurna. Karena itu, pengguna dewasa yang keliru terklasifikasi tetap diberikan jalur pemulihan akses.
Melalui proses verifikasi identitas berbasis selfie dengan mitra pihak ketiga, status akun dapat dikembalikan. Proses ini dirancang agar cepat, aman, dan tidak menyimpan data identitas secara permanen.
Peluncuran fitur ini tidak terlepas dari meningkatnya tekanan regulator global. Di Amerika Serikat, OpenAI tengah menghadapi pengawasan ketat terkait dampak AI terhadap remaja dan kesehatan mental.
Situasi serupa juga terjadi di berbagai negara yang mulai menuntut platform digital bertanggung jawab atas perlindungan pengguna muda. Fitur prediksi usia menjadi salah satu jawaban strategis terhadap tuntutan tersebut.
Penggunaan ChatGPT di kalangan remaja terus meningkat, baik untuk belajar, hiburan, maupun eksplorasi pengetahuan. Namun, kemampuan menyaring informasi belum sepenuhnya matang pada usia tersebut.
Dengan sistem prediksi usia, AI diharapkan tidak hanya menjadi alat pintar, tetapi juga mitra yang memahami batasan. Perlindungan ini sekaligus mendorong ekosistem AI yang lebih etis dan berkelanjutan.
Langkah OpenAI menghadirkan prediksi usia menandai perubahan besar dalam cara platform AI berinteraksi dengan penggunanya. Dari sekadar merespons perintah, ChatGPT kini turut mempertimbangkan konteks usia demi menciptakan pengalaman yang aman.
Ke depan, fitur semacam ini diprediksi akan menjadi standar industri. Bukan hanya sebagai kewajiban hukum, tetapi sebagai bentuk tanggung jawab moral teknologi terhadap generasi masa depan.