
BANYUMAS, SERAYUNEWS-Setiap cangkir kopi selalu punya kisahnya sendiri. Perjalanan membangun Balarama Kopi sejatinya bukan bermula dari ambisi bisnis yang besar, melainkan dari sebuah rasa yang sederhana.
Kisah mula Balarama Kopi atau yang juga dikenal Balarama Ongklok & Kopi di Jalan Brawijaya Nomor 10 Desa Banjarsari Kidul Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas itu diungkap Nurvilio Ramadhani. Rama, begitu biasa disapa, sang pemilik Balarama Kopi bercerita pada Serayunews, Senin (10/8/2026).
Rama bercerita, semua berawal pada tahun 2015 saat ia masih menempuh studi di Yogyakarta. Kala itu, salah seorang temanya mengajak berkunjung ke sebuah kedai Manual. Di sanalah rasa terpesona itu pertama kali muncul. Sebagai penikmat kopi yang gemar duduk santai menikmati senja, rasa penasarannya mulai tumbuh. Ia belajar membedakan karakter biji kopi, memahami pengaruh keasaman tanah tempat kopi ditanam, hingga akhirnya rutin membeli biji kopi sendiri untuk diseduh di rumah.
Langkah itu semakin mantap di tahun 2018. Saat mengunjungi salah satu kedai kopi di Purwokerto, ia mendapati barista yang bertugas tampak enggan melayani. Bukannya kesal, ia justru mengambil kesempatan dalam meracik minumannya sendiri. Eksperimen spontan itu menghasilkan segelas kopi susu yang ternyata berasa pas dan lezat. “Kamu sudah cocok jadi barista,” celetuk om Ben, salah satu teman Rama, kala itu. Dukungan kecil inilah yang memantik niatnya untuk mulai belajar lebih dalam.
Tapi, jalan menuju dunia perkopian tidak lempang. Sebab, dia malah pernah bergumul dengan usaha clothing di Bandung. Pada 2019, ia membuka usaha Clothing di Bandung. Sayang, badai pandemi COVID-19 menghantam keras. Usahanya gulung tikar dalam kurun waktu satu tahun. Tak ingin terus memikul beban finansial yang makin menumpuk, keputusan berat diambil untuk menutup usaha tersebut dan pulang ke kampung halamannya di Sokaraja dalam keadaan bangkrut.
Di titik terendah itulah, sang istri menjadi sosok penguat utama yang mendukungnya 100% untuk bangkit dan memulai semuanya dari nol. “Selama hal tersebut memiliki niat baik dan membuat suami ku bahagia, aku dukung untuk menjalankan apa yang membuat kamu bahagia,” kata Rama mengulang kata istrinya di masa sulit itu.
Memiliki latar belakang pendidikan Sarjana Ekonomi dan sempat mendalami Kedokteran Holistik, tak jarang timbul pertanyaan mengapa karier di bidang kesehatan tidak dilanjutkan. Dengan tersenyum, ia mengakui bahwa dunia medis terasa lebih mengikat. Pilihan jatuh untuk lebih menikmati hidup melalui hobi di dunia kopi. Kendati demikian, sisi kepedulian kesehatannya tidak pernah hilang. Hingga kini, pintu tetap terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin berkonsultasi mengenai kesehatan secara cuma-cuma.
Berdirinya Balarama Kopi pada 24 Januari 2025 sejatinya didasari oleh sebuah keresahan. Ada pengamatan bahwa untuk menikmati segelas kopi enak, masyarakat sering kali harus membayar mahal. Sayangnya, kualitas rasa yang disajikan kerap tidak sebanding dengan harganya yang overpriced.
Berangkat dari situ, menggunakan tabungan pribadi serta memanfaatkan lokasi milik sang ayah, Balarama Kopi resmi didirikan. Nama Balarama sendiri sarat akan makna. Selain terinspirasi dari tokoh wayang Prabu Baladewa (Balarama) yang bijaksana dan mengayomi adik-adiknya, nama ini juga merupakan akronim dari nama sang owner (Rama) dan kedua adiknya: Bagus, Lana, dan Rama. Begitu pula dengan logonya yang berbentuk akar, sebuah harapan agar kedai ini bisa terus tumbuh dan memberi manfaat bagi banyak orang. Logo tersebut dirancang langsung oleh sang adik sebagai wadah portofolionya.

Demi menjaga harga tetap terjangkau tanpa mengorbankan kualitas, pemikiran ekstra dituangkan pada racikan bahan baku. Biji kopi green bean (mentah) jenis Robusta dibeli langsung dari petani Wonosobo di ketinggian 800 meter di atas permukaan laut, lalu diolah dan diracik sendiri. Strategi ini berhasil menekan Harga Pokok Produksi (HPP), sehingga kopi berkualitas bisa dijual dengan harga yang bersahabat di kantong.
Tak hanya kopi, perhatian terhadap kualitas kesehatan juga diterapkan pada menu makanan. Salah satunya adalah Mie Ongklok. Jika di daerah asalnya Wonosobo Jawa Tengah dengan cita rasa yang cenderung manis, di Sokaraja menu ini disesuaikan menjadi lebih gurih. Namun, aspek gizi tetap diperhatikan seperti penggunaan garam non-natrium dibatasi agar tidak memicu tekanan darah tinggi bagi konsumennya.
Balarama Kopi tidak hanya menjadi tempat minum kopi, tetapi juga wadah berkreasi bagi anak muda Lewat berbagai event kreatif yang rutin digelar yang diminati oleh kalangan gen Z, ada keinginan besar untuk membangun mentalitas remaja sekitar agar berani berkarya dan tidak kalah saing dengan anak-anak di kota besar.
Dalam merintis usahanya, strategi promosi mengandalkan word of mouth (dari mulut ke mulut), ulasan digital di Google, serta pendekatan komunitas. Konsistensi menjaga rasa dan harga ekonomis membuat Balarama memiliki banyak pelanggan setia (repeat order).
Uniknya lagi, Balarama tidak hanya menjual minuman siap saji, tetapi juga membuka lini konsultasi branding cafe hingga penjualan resep khusus. Bahan baku diracik secara mandiri, seperti pembuatan gula aren asli tanpa sirup buatan. Balarama bahkan memiliki resep rahasia ekstraksi espreso dengan teknik tekanan khusus. Resep rahasia ini dapat diakses secara resmi melalui pelatihan berbayar atau ikatan MoU khusus seperti yang telah diterapkan oleh beberapa kedai mitra seperti salah satunya Level B Street Coffee.
Menghadapi titik jenuh dan perubahan tren digital yang begitu cepat, Balarama memilih untuk terus berinovasi, baik dari segi pemasaran maupun kejutan unik baru. Ketika rasa lelah menghampiri, kunci utamanya adalah beristirahat, menenangkan pikiran, dan kembali melakukan hobi yang disukai agar ide-ide segar bisa kembali mengalir. Di luar kesibukan kedai, pengelolaan kegiatan kreatif lain juga aktif dijalankan, seperti Garasi Renbo dan Festival Budaya Tari Pari.
Ketika diminta memberikan pesan reflektif untuk masa-masa awal merintis usaha dulu, sebuah ungkapan mendalam terucap dari Rama. “Hidupmu jangan hanya untuk berpikir, tetapi untuk meminta kepada Yang Maha Kuasa. Pasti bakal dikasih, ketika kamu benar-benar memintanya dengan tulus,” kata Rama. (tiya monalisa)