
CILACAP, SERAYUNEWS – Pemerintah Kabupaten Cilacap mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk memperkuat sistem ketahanan pangan daerah. Melalui Sistem Informasi Pangan Terpadu (SI-PANDA) Cilacap, pemerintah menargetkan setiap kebijakan di sektor pangan dapat diambil berdasarkan data yang terintegrasi dan diperbarui secara real time.
Inovasi tersebut diperkenalkan dalam Sosialisasi SI PANDA Cilacap yang digelar pada Kamis (16/7/2026). Sistem ini akan menghubungkan berbagai data strategis, mulai dari produksi pertanian, harga komoditas pangan, inflasi, hingga indikator ketahanan pangan yang selama ini masih tersebar di sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD).
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Cilacap, Buddy Haryanto, mengatakan pengembangan SI-PANDA merupakan bagian dari upaya memperkuat transformasi digital sekaligus meningkatkan kualitas pengambilan keputusan pemerintah daerah.
“Selama ini data produksi, harga pangan, dan inflasi masih tersebar di berbagai instansi. Penyajiannya juga belum real time, sehingga respons terhadap gejolak harga maupun potensi krisis pangan belum dapat dilakukan secara optimal,” ujar Buddy.
Buddy menjelaskan, selama ini Kabupaten Cilacap belum memiliki sistem yang mampu mengolah seluruh data pangan secara terpadu dengan dukungan teknologi AI. Akibatnya, koordinasi antarinstansi sering terkendala karena masing-masing perangkat daerah memiliki data sendiri-sendiri.
Melalui SI-PANDA, kondisi tersebut akan diubah. Pemerintah tidak akan membangun aplikasi baru di setiap OPD, melainkan mengintegrasikan seluruh data yang sudah dimiliki ke dalam satu dashboard yang dapat dipantau secara langsung oleh pimpinan daerah melalui Cilacap Food Security Command Center (CFSCC).
“Ini bukan membuat sistem baru di setiap dinas. Kami mengintegrasikan data yang sudah ada agar tampil dalam satu dashboard. Ketika terjadi fluktuasi harga atau persoalan pangan, pimpinan dapat segera mengambil keputusan berdasarkan data, bukan sekadar perkiraan,” katanya.
Dengan sistem tersebut, perkembangan harga, produksi, hingga kondisi stok pangan dapat dipantau secara cepat sehingga pemerintah memiliki dasar yang lebih kuat dalam menentukan langkah ketika terjadi gejolak di lapangan.
Buddy menegaskan, keberhasilan SI-PANDA tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga kualitas data yang disampaikan oleh setiap perangkat daerah sebagai produsen data.
Menurutnya, data yang akurat, lengkap, dan terus diperbarui menjadi syarat utama agar sistem AI mampu menghasilkan analisis dan rekomendasi yang tepat bagi pemerintah.
“Sebagus apa pun sistem atau aplikasinya, apabila datanya tidak diperbarui, hasilnya juga tidak akan optimal. Karena itu kami membutuhkan komitmen seluruh OPD untuk menghadirkan data yang akurat, lengkap, dan mutakhir,” tegasnya.
Dalam tahap awal, SI-PANDA ditargetkan mampu menghadirkan sistem informasi pangan berbasis AI yang terintegrasi. Ke depan, sistem tersebut juga akan membangun basis data historis sebagai bahan analisis untuk mendukung kebijakan ketahanan pangan jangka panjang.
Sebagai salah satu lumbung padi terbesar di Jawa Tengah, Kabupaten Cilacap dinilai membutuhkan sistem informasi yang mampu menyajikan kondisi pangan secara cepat, akurat, dan mudah diakses. Dengan dukungan data real time, pemerintah daerah diharapkan dapat lebih sigap menjaga stabilitas harga, memastikan ketersediaan pasokan, serta menyusun kebijakan pangan yang lebih tepat sasaran bagi masyarakat.