
PURBALINGGA, SERAYUNEWS– Menjadi mahasiswa rantau di Purbalingga, Jawa Tengah, sering kali dibayangkan sebagai pengalaman yang tenang. Kabupaten yang terkenal dengan keindahan Gunung Slamet dan kuliner mendoannya ini memang menawarkan suasana yang asri. Namun, di balik ketenangan tersebut, para mahasiswa baru dari luar daerah ternyata rentan mengalami culture shock atau gegar budaya.
Rasa asing yang muncul bukan sekadar rindu rumah (homesick), melainkan gabungan dari benturan kebiasaan sehari-hari, makanan, bahasa, hingga ritme hidup masyarakat setempat.
1. Dialek Ngapak yang Terkesan “Ngegas”
Bagi mahasiswa asal Jawa Barat, Jakarta, atau luar Pulau Jawa, pendengaran mereka harus beradaptasi ekstra cepat saat pertama kali tiba. Masyarakat Purbalingga menggunakan bahasa Jawa dialek Ngapak yang khas dengan intonasi tegas dan lugas.
Bagi yang belum terbiasa, gaya bicara yang cablaka (apa adanya) dan intonasi tinggi ini sering disalahartikan sebagai orang yang sedang marah. Padahal, itu adalah bentuk keramahan dan keterbukaan khas warga lokal. Salah satu mahasiswa Program Studi Komunikasi & Penyiaran Islam (KPI) UIN Prof KH Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto yang kuliah di Purbalingga Midah Faidatul Azizah mengungkapkan kekagetannya. “Saya merasa shock dengan intonasi orang Purbalingga ketika berbicara mereka yang tegas dan medok sehingga seperti orang marah” ujar Midah Faidatul Azizah asal Subang Jawa Barat ini, Jumat (21/8/2026).
Sekadar diketahui, UIN Saizu memang memiliki dua kampus. Kampus utama ada di Purwokerto Kabupaten Banyumas dan sebagian lain ada di Kabupaten Purbalingga. Program Studi KPI ada di Kabupaten Purbalingga.
2. Kuliner Serba Gurih dan Dominasi Mendoan
Perbedaan cita rasa makanan juga menjadi tantangan tersendiri. Mahasiswa asal daerah yang terbiasa dengan makanan manis atau sangat pedas harus menyesuaikan lidah dengan kuliner Purbalingga yang dominan gurih. Keberadaan mendoan basah yang dijual di hampir setiap sudut jalan—yang cara pengolahannya berbeda dengan keripik tempe di daerah lain—sering membuat mahasiswa baru kaget di minggu-minggu pertama. “Semenjak saya tinggal di Purbalingga saya jadi tau kalau ada makanan namanya mendoan yang rasanya enak banget”, kata Muhammad Amril Khakam Mahasiswa KPI semester 5 asal Lamongan Jawa Timur.
3. Ritme Hidup “Slow Living” dan Toko Tutup Lebih Awal
Bagi mahasiswa yang berasal dari kota-kota besar dengan aktivitas 24 jam, ritme hidup di Purbalingga tergolong santai (slow living). Lingkungan sekitar kampus cenderung sepi lebih cepat begitu malam tiba. Sebagian besar warung makan dan toko lokal sudah tutup menjelang malam, yang memaksa mahasiswa mengubah jam makan dan pola aktivitas harian mereka.
4. Sistem Transportasi dan Lingkungan yang Tenang
Pilihan transportasi umum di daerah yang terbatas membuat mahasiswa harus lekas beradaptasi dengan kendaraan pribadi atau bergantung pada transportasi berbasis aplikasi. Bagi yang terbiasa dengan fasilitas kota megapolitan, keterbatasan ini memerlukan perencanaan mobilitas yang lebih matang.
Culture shock di Purbalingga pada dasarnya adalah proses alami yang melatih kemandirian dan toleransi. Dengan membuka diri, mencoba berinteraksi menggunakan bahasa lokal, serta menikmati kuliner setempat, rasa asing tersebut perlahan akan berganti menjadi rasa nyaman di tanah perantauan. (nur kholifah)