
SERAYUNEWS– Nama Nurul Akmal, Atlet Angkat Besi Wanita asal Aceh kembali menggema di ruang publik, bukan karena torehan medali, melainkan karena sebuah unggahan emosional di media sosial.
Melalui akun Instagram pribadinya, atlet angkat besi nasional itu menuliskan kalimat yang menyentuh hati banyak orang, “Aku hanya bisa belajar menerima semuanya. Apakah aku tidak pantas untuk mendapatkannya (PNS)?”
Unggahan tersebut langsung viral dan memicu gelombang respons dari warganet.
Banyak pihak menilai curhatan itu bukan sekadar keluh kesah pribadi, melainkan representasi kegelisahan atlet berprestasi yang merasa belum mendapatkan penghargaan negara secara layak.
Nurul Akmal bukanlah atlet biasa. Perempuan asal Aceh itu telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk dunia angkat besi dan membawa nama Indonesia ke panggung internasional.
Ia tercatat dua kali tampil di Olimpiade, yakni Tokyo 2020 dan Paris 2024, sebuah pencapaian langka yang hanya diraih segelintir atlet nasional.
Konsistensinya di level dunia menunjukkan bahwa Nurul Akmal merupakan atlet elite dengan kualitas internasional.
Keikutsertaannya di Olimpiade menjadi bukti bahwa ia bukan sekadar pelengkap kontingen, melainkan tulang punggung cabang angkat besi Indonesia.
Prestasi Nurul Akmal tidak berhenti di Olimpiade. Ia secara rutin menyumbangkan medali di berbagai ajang internasional bergengsi. Beberapa di antaranya:
1. Medali perak SEA Games 2021 Vietnam
2. Medali perak Islamic Solidarity Games 2017 di Baku, Azerbaijan
3. Medali perunggu Islamic Solidarity Games 2021 di Konya, Turki
4. Medali perak Kejuaraan Asia 2023 di Tashkent, Uzbekistan
5. Medali perunggu Qatar Cup 2019 di Doha
Di level nasional, Nurul Akmal juga tercatat sebagai pemegang rekor angkat besi Indonesia, memperkuat statusnya sebagai salah satu lifter perempuan terbaik sepanjang sejarah Indonesia.
Di balik pencapaian luar biasa tersebut, realitas yang dihadapi Nurul Akmal justru berbanding terbalik. Hingga kini, ia belum berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan hanya berstatus PPPK paruh waktu.
Kondisi ini dinilai ironis, mengingat banyak atlet dengan prestasi di bawah level Olimpiade justru memperoleh jaminan karier yang lebih pasti.
Status PPPK paruh waktu membuat masa depan atlet seperti Nurul Akmal masih dibayangi ketidakpastian, terutama ketika masa kompetisi mulai menurun atau pensiun dari dunia olahraga.
Kasus Nurul Akmal menjadi sorotan karena memperlihatkan ketimpangan antara prestasi dan penghargaan negara. Publik menilai sistem penghargaan terhadap atlet nasional masih belum memiliki standar yang jelas, adil, dan berkelanjutan.
Banyak atlet mengorbankan masa muda, pendidikan, bahkan kesehatan demi prestasi. Namun setelah meraih puncak karier, tidak sedikit dari mereka yang harus berjuang sendiri menghadapi masa depan tanpa kepastian ekonomi dan karier.
Unggahan Nurul Akmal memantik dukungan luas. Warganet, pengamat olahraga, hingga komunitas atlet mendesak pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem kesejahteraan atlet.
Publik menilai negara tidak boleh hanya hadir saat atlet meraih medali dan menaikkan peringkat internasional, tetapi juga harus memberikan jaminan hidup, kepastian karier, dan penghargaan struktural bagi mereka yang telah mengharumkan nama bangsa.
Curhatan Nurul Akmal dinilai bukan bentuk keluhan pribadi semata. Lebih dari itu, unggahan tersebut menjadi alarm keras bagi pemangku kebijakan bahwa ada persoalan mendasar dalam tata kelola atlet berprestasi di Indonesia.
Jika atlet sekelas Olimpiade masih harus mempertanyakan kelayakan mendapatkan status PNS, publik menilai ada yang perlu dibenahi secara serius dalam sistem pembinaan dan penghargaan atlet nasional.
Kasus Nurul Akmal diharapkan menjadi momentum perubahan. Banyak pihak berharap pemerintah, kementerian terkait, dan induk organisasi olahraga dapat duduk bersama untuk merumuskan kebijakan yang lebih adil dan berkelanjutan.
Penghargaan terhadap atlet tidak cukup hanya berupa bonus atau pujian sesaat, tetapi harus diwujudkan dalam jaminan masa depan yang nyata, agar para pahlawan olahraga Indonesia merasa benar-benar dihargai oleh negara yang mereka bela.