SERAYUNEWS – Pola asuh atau parenting VOC sedang banyak dibahas hingga memicu pro dan kontra.
Parenting VOC merupakan metode pengasuhan yang menerapkan kedisiplinan, peraturan ketat, dan cenderung bersifat otoriter. Lalu, apa dampak parenting VOC terhadap anak?
Istilah ini pertama kali menjadi viral di TikTok dan dikenalkan oleh beberapa akun, salah satunya adalah konten kreator @Akulah yang membahas tentang Parenting VOC vs MakMak Batak.
Konten ini dengan cepat memperoleh perhatian masyarakat dan memicu berbagai reaksi.
Dalam konteks ini, istilah VOC tidak mengacu pada Vereenigde Oostindische Compagnie (Perusahaan Hindia Timur Belanda) yang memiliki peran dalam sejarah kolonialisme.
Namun, istilah ini menjadi metafora untuk pola asuh yang ketat, disiplin, dan otoriter.
Parenting VOC atau gaya pengasuhan otoriter adalah metode asuh yang menerapkan disiplin dan aturan yang ketat.
Gaya pengasuhan ini memanfaatkan singkatan dari Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) sebagai metafora untuk pengasuhan yang keras serta otoriter.
Gaya parenting ini merefleksikan pola asuh yang berfokus pada kontrol dan ketaatan ketat, serta lebih mengutamakan hasil daripada proses atau empati terhadap anak.
Banyak pengguna media sosial yang mendukung model ini karena dianggap efektif dalam membentuk anak-anak tangguh dan disiplin.
Namun, terdapat juga kritik terhadapnya karena terlalu keras dan kurang memberikan kesempatan bagi anak untuk tumbuh secara emosional serta kreatif.
Ada juga yang berpendapat bahwa pola asuh ini dapat menyebabkan masalah mental pada anak.
Parenting VOC menjadikan orangtua sangat kaku, bersikap jauh, dan kurang menunjukkan kehangatan alias dingin, serta menuntut.
Karena mereka menerapkan peraturan yang ketat untuk mengontrol anak-anak mereka, dengan menempatkan harapan yang tinggi terhadap mereka.
Mengenai peraturan, umumnya mereka menerapkannya tanpa menjelaskan maksud dari peraturan tersebut.
Mereka mengharapkan anak-anaknya mengikuti peraturan tanpa mempertanyakan, jika tidak ingin menghadapi hukuman berat sebagai akibatnya.
Padahal, cara orangtua mendidik dan berinteraksi dengan anak akan memengaruhi moral, nilai, dan perilaku mereka ketika dewasa nanti.
Orangtua otoriter dapat memberikan dampak negatif pada anak seperti di bawah ini.
Selain itu, mengutip dari Verywell Mind, anak mungkin berperilaku ketakutan atau terlalu malu di sekitar orang lain.
Kemudian, anak akan menghubungkan kepatuhan dan kesuksesan dengan kasih sayang, serta mudah beradaptasi, tetapi juga mengalami depresi dan kecemasan.
Anak juga menunjukkan perilaku lebih agresif terhadap orang lain, memiliki gejala negatif lebih tinggi seperti hiperaktif dan masalah perilaku.
Selanjutnya, anak mengalami kesulitan dalam pengendalian diri, karena jarang mampu membuat pilihan dan mengalami konsekuensi alami.
Bagi para pendukungnya, metode pengasuhan VOC merupakan jawaban untuk tantangan zaman kini, di mana kedisiplinan adalah kunci menuju keberhasilan.
Mereka meyakini generasi muda perlu dibangun dengan struktur kokoh, agar tidak gampang terjebak dalam cara hidup serba instan dan mudah putus asa.
Sebagian orang tua memandang pendekatan ini sebagai cara untuk menanamkan nilai-nilai seperti tanggung jawab, ketekunan, dan kerja keras sejak awal.
Namun, di sisi lain, kritik tajam juga muncul mengenai pengaruhnya terhadap perkembangan anak.
Meskipun kedisiplinan penting, anak-anak juga membutuhkan ruang untuk bereksplorasi, berkreasi, dan mengembangkan emosi.
Model pengasuhan lebih seimbang yang menggabungkan disiplin dengan kasih sayang dan pemahaman, akan lebih efektif dalam membentuk anak-anak tangguh dan bahagia.***