
CILACAP, SERAYUNEWS– Lapas Terbuka Kelas IIB Nusakambangan terus berbenah dengan mengembangkan program pembinaan berbasis ketahanan pangan. Upaya tersebut mendapat apresiasi dari kalangan akademisi dan dunia industri saat perwakilan Program Studi Peternakan Universitas Diponegoro (UNDIP) bersama PT Charoen Pokphand Indonesia berkunjung ke lapas.
Kunjungan itu menjadi ajang untuk melihat langsung transformasi Lapas Terbuka Nusakambangan yang kini tak hanya berfungsi sebagai tempat pembinaan warga binaan, tetapi juga berkembang menjadi sentra peternakan produktif yang melibatkan warga binaan dalam setiap prosesnya.
Dalam kunjungan pada Rabu (24/6) tersebut, rombongan diajak melihat berbagai unit peternakan yang dikelola di lingkungan lapas. Mulai dari peternakan ayam petelur hingga bebek petelur yang menjadi bagian dari program pembinaan kemandirian bagi warga binaan.
Tak hanya itu, para tamu juga diperkenalkan dengan sejumlah produk hasil peternakan yang dipasarkan dengan merek Golden Nusa Egg, di antaranya telur ayam konsumsi, Golden Nusa Egg Omega, hingga telur asin.
Rombongan juga mendapat penjelasan mengenai proses budidaya, manajemen peternakan, hingga pengolahan hasil produksi. Seluruh proses tersebut melibatkan warga binaan sebagai bagian dari pembinaan keterampilan kerja yang diharapkan dapat menjadi bekal setelah mereka menyelesaikan masa pidana.
Ketua rombongan dari Program Studi Peternakan Universitas Diponegoro, Aan, mengapresiasi program pembinaan yang dijalankan Lapas Terbuka Nusakambangan. Menurutnya, pengelolaan peternakan di lapas telah berjalan dengan baik dan memiliki potensi untuk terus dikembangkan.
Ia mengaku terkesan melihat perubahan wajah Nusakambangan yang kini mampu menghadirkan program produktif berbasis ketahanan pangan sekaligus menjadi tempat pembelajaran bagi warga binaan.
Apresiasi serupa juga disampaikan perwakilan PT Charoen Pokphand Indonesia, Erik. Menurutnya, program peternakan yang dikembangkan menunjukkan tata kelola yang baik dan memiliki prospek yang menjanjikan.
Erik menilai kegiatan tersebut bukan hanya menghasilkan produk peternakan, tetapi juga memberikan pengalaman kerja dan keterampilan nyata bagi warga binaan sebagai bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.
Kepala Lapas Terbuka Nusakambangan, Ario Galih Maduseno, mengatakan kolaborasi dengan perguruan tinggi dan dunia industri menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas pembinaan warga binaan.
“Kami terus berupaya menghadirkan program yang tidak hanya mendukung ketahanan pangan nasional, tetapi juga memberikan keterampilan nyata bagi warga binaan agar siap menjadi pribadi yang mandiri dan produktif setelah menyelesaikan masa pidananya,” kata Ario.
Menurutnya, sinergi tersebut diharapkan mampu memperkuat pengembangan program pembinaan yang berkelanjutan sekaligus membuka peluang kerja sama di berbagai sektor.
Melalui program peternakan yang terus dikembangkan, Lapas Terbuka Nusakambangan ingin menunjukkan bahwa lembaga pemasyarakatan tidak hanya berfungsi sebagai tempat menjalani pidana, tetapi juga menjadi ruang pembinaan yang mampu mencetak warga binaan yang terampil, mandiri, dan siap kembali berkontribusi di tengah masyarakat.