
BANYUMAS, SERAYUNEWS – Selama dua tahun terakhir, Dwi Tarwoko terbiasa menyeduh kopi tanpa tempat berteduh tetap. Di kawasan Stasiun Karangsari dan Taman Desa Panembangan yang dikenal warga sebagai Taman Prayadipta, ia menggelar peralatan seadanya setiap kali membuka usaha, menghadapi cuaca apa pun yang datang hari itu.
Namun, pada 13 Agustus 2026, untuk pertama kalinya Woko memiliki atap sendiri.
Hari itu, Warkop Dobu resmi dibuka di Karanglo, Cilongok, Banyumas. Kedai tersebut menjadi ruang usaha pertama milik pria 24 tahun yang akrab disapa Uncle Woko.
Wawancara ini berlangsung tepat pada hari pembukaan kedai, ketika perjalanan panjang di balik usaha tersebut masih terasa segar untuk diceritakan.
Woko bukan orang yang sejak awal merancang jalan hidupnya sebagai pengusaha kopi.
Lulusan SMK tersebut sempat bekerja sebagai reseller online shop, menjual produk milik orang lain melalui toko daring. Kopi kemudian masuk ke kehidupannya melalui hal yang sederhana: ia memang menyukai minuman tersebut.
Perubahan mulai terjadi saat pandemi Covid-19. Woko memberanikan diri mempelajari kopi lebih dalam secara otodidak melalui berbagai video di YouTube.
Ia tidak pernah mengikuti pelatihan barista formal. Namun, dari proses belajar tersebut, cara pandangnya terhadap kopi perlahan berubah.
Jika sebelumnya ia hanya membeli kopi untuk dinikmati, Woko mulai melihat peluang untuk menikmati kopi sekaligus menjadikannya sumber penghasilan.
“Jadi ga sekadar mengeluarkan duit, tapi dapet duit juga,” katanya.
Dari yang sebelumnya menjual produk orang lain melalui layar, Woko perlahan beralih menjual sesuatu yang ia racik sendiri. Ia tidak lagi sekadar menjadi perantara, tetapi mulai menciptakan produknya sendiri.
Perjalanan Woko tidak langsung dimulai dari sebuah kedai.
Ia memilih konsep street coffee dengan nama Katanya Kopi. Usahanya beroperasi di dua titik, yakni kawasan Stasiun Karangsari dan Taman Prayadipta.
Pilihan tersebut bukan tanpa perhitungan.
Berjualan di ruang terbuka membuat risiko usaha relatif lebih kecil. Modal yang dibutuhkan juga tidak sebesar membuka kedai. Selain itu, Woko bisa memanfaatkan peralatan seduh yang sudah dimilikinya sebelum kembali menambah investasi.
Bagi Woko, keterbatasan bukan alasan untuk menunda memulai usaha.
Ia memilih menggunakan apa yang sudah dimiliki dan mengembangkan usaha secara bertahap. Konsep tersebut pula yang kemudian melahirkan nama Katanya Kopi dari ruang terbuka tempat ia pertama kali berjualan.
Berjualan di ruang terbuka tentu memiliki konsekuensi.
Cuaca menjadi salah satu tantangan yang paling sering dihadapi Woko. Berbeda dengan kondisi Warkop Dobu sekarang yang setidaknya memiliki tempat berteduh, usaha street coffee membuatnya harus siap menghadapi perubahan cuaca.
Tantangan lainnya datang dari ruang publik itu sendiri.
Tidak semua orang menyukai keberadaan pedagang di suatu titik. Woko bahkan pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan hingga harus meninggalkan lokasi berjualan.
Pengalaman tersebut tidak membuatnya berhenti. Justru, ia merasa berbagai kejadian selama berjualan di ruang terbuka membentuk mentalnya sebagai pelaku usaha.
“Akhirnya kebentuk mentalnya sampai sekarang,” ujarnya.
Ia mengenang pengalaman tersebut bukan sebagai keluhan, melainkan bagian dari proses yang membawanya sampai ke titik sekarang.
Perjalanan Woko membangun usaha kopi juga tidak langsung mendapatkan dukungan penuh dari keluarga.
Ketika mulai merintis usaha kopi pada 2024, orang tuanya sempat memandang sebelah mata pilihannya. Woko mengaku sempat merasakan malu pada masa-masa awal tersebut.
Namun, seiring usaha berjalan dan mampu bertahan, pandangan keluarganya perlahan berubah.
Dua tahun setelah mulai merintis, orang tuanya kini justru menjadi salah satu pendukungnya.
Perubahan tersebut menurut Woko terjadi setelah usahanya benar-benar berjalan. Bukan karena janji atau rencana, tetapi karena keluarganya melihat sendiri proses yang ia jalani.
Keputusan membuka Warkop Dobu juga bukan semata-mata karena ingin memperbesar bisnis.
Woko menyebut ada dua alasan yang mendorongnya membuka kedai. Pertama, ia melihat konsep kedai tersebut memiliki keunikan. Kedua, peralatan kopi yang ia miliki sudah semakin banyak hingga memenuhi ruang tamu rumah.
Daripada hanya menumpuk dan tidak digunakan secara maksimal, ia memilih memanfaatkan peralatan tersebut untuk membuka ruang usaha.
Warkop Dobu akhirnya menjadi kelanjutan dari perjalanan yang sudah ia mulai melalui Katanya Kopi.
Nama Katanya Kopi memang tidak lagi menjadi tempat utama untuk berjualan, tetapi pengalaman dari dua titik street coffee tersebut menjadi fondasi bagi Woko untuk membangun kedai pertamanya.
Dari Stasiun Karangsari dan Taman Prayadipta, ia kini memiliki ruang sendiri di Karanglo.
Di tengah semakin banyaknya usaha kopi lokal, Woko memiliki pandangan yang berbeda mengenai persaingan bisnis.
Menurutnya, sejauh ini tidak ada persaingan berarti dengan pelaku usaha kopi lain di sekitarnya.
Sebaliknya, hubungan yang lebih sering ia temui justru berupa ajakan untuk berkolaborasi.
Kolaborasi tersebut membuat perjalanan membangun usaha kopi terasa tidak berjalan sendirian. Para pelaku usaha dapat saling mendukung dan menciptakan ruang bersama untuk berkembang.
Bagi Woko, ekosistem seperti itu menjadi bagian penting dalam perjalanan usaha kopi yang sedang ia bangun.
Setelah melewati perjalanan dari berjualan di pinggir jalan hingga memiliki kedai sendiri, harapan Woko sebenarnya cukup sederhana.
Ia ingin tetap rendah hati kepada teman-teman dan orang-orang di sekitarnya. Di sisi lain, ia berharap usaha yang dijalankannya terus mendapatkan kemudahan.
“Intinya satu, barakallah always,” katanya menutup obrolan.
Dari Stasiun Karangsari hingga dinding Warkop Dobu di Karanglo, perjalanan Woko bukan sekadar perpindahan lokasi berjualan.
Ada proses membangun kepercayaan, baik dari orang-orang di sekitarnya maupun dari dirinya sendiri.
Kopi bagi Woko kini bukan lagi sekadar minuman yang ia nikmati. Kopi telah menjadi sesuatu yang ia bangun perlahan, dari ruang terbuka tanpa tempat tetap hingga akhirnya memiliki dinding dan atapnya sendiri. (Akhmad Sofwan Jauhari)