
PURWOKERTO, SERAYUNEWS — Mengantongi uang ekstra dari sisa anggaran bulanan sampai penghasilan tambahan tentu memberikan rasa bebas buat jajan. Menariknya, cara cewek Gen Z membelanjakan uang lebih ini cukup beragam antara memenuhi keinginan sesaat atau tetap mengutamakan fungsi.
Melihat fenomena tersebut, sejumlah perempuan Gen Z membagikan cerita mereka saat memegang dana ekstra. Tanggapan yang terkumpul memperlihatkan suatu hal yang menarik, mereka pintar memilih mana kebutuhan mendesak dan mana barang wishlist yang siap dibeli.
Triana Agustin, seorang mahasiswi dari Universitas Wijayakusuma Purwokerto mengatakan, kehadiran uang lebih tidak langsung dihabiskan begitu saja. Sikap rasional tetap menjadi penentu utama dalam mengambil keputusan belanja.
“Jika aku punya uang lebih, hal pertama yang dibeli yaitu barang yang diinginkan tapi lihat dulu lebihnya berapa. Karena masih mahasiswa, uang lebih yang dimiliki biasanya untuk membeli tas yang ada di keranjang kuning,” ungkap Agustin.
Sikap ini menunjukkan bahwa cewek Gen Z tetap memperhitungkan skala prioritas finansial mereka sebelum merealisasikan wishlist belanja.
Berbeda dengan Agustin, Zahwa Kaerunisa memilih pendekatan yang fleksibel dan situasional. Baginya, dana ekstra adalah momentum untuk memilah mana yang merupakan kebutuhan mendesak dan mana yang sekadar keinginan untuk membeli makan.
“Tergantung kondisi. Semisal ada beberapa kebutuhan aku yang habis, contohnya skincare atau makeup, kalau ada uang lebih pasti aku beliin itu. Tapi kalau semua itu masih banyak, uangnya suka aku belikan makanan,” tutur Zahwa.
Strategi Zahwa mencerminkan bahwa produk self-care sudah dianggap sebagai kebutuhan pokok harian bagi Gen Z, sementara kuliner menjadi opsi self-reward saat kebutuhan dasar sudah terpenuhi.
Uang lebih juga bisa menjadi jembatan untuk mengejar kepuasan emosional melalui aktivitas kreatif. Hal inilah yang dirasakan oleh Yusi Istiqomah mahasiswa AMIKOM Purwokerto. Tanpa ragu, pilihan pertamanya jatuh pada perlengkapan seni pendukung hobinya.
“Yang akan aku beli yaitu alat lukis, khususnya cat akrilik Winsor & Newton,” ujarnya.
Baginya, mengalokasikan uang pada barang berkualitas dari brand terpercaya bukan sekadar belanja hobi, melainkan bentuk investasi pada ruang berkarya dan kesehatan mental.
Sementara itu, Aurasya Desandra mahasiswa Politeknik Madyathika Purbalingga memiliki pandangan yang cukup lugas mengenai filosofi uang lebih. Menurutnya, dana ekstra memang sejatinya dialokasikan untuk memuaskan keinginan (wants) yang selama ini tertunda, bukan lagi untuk kebutuhan harian (needs).
“Intinya barang yang keinginan, bukan kebutuhan. Contohnya lipstik YSL,” jelas Aurasya singkat.
Pilihan Aurasya menegaskan fenomena beauty gratification, di mana memiliki produk beauty impian memberikan kepuasan tersendiri sebagai simbol apresiasi atas pencapaian pribadi.
Cara cewek Gen Z memanfaatkan uang lebih memang sangat beragam. Ada yang memilih melengkapi wishlist lama, menjaga stok perawatan diri, memanjakan hobi, hingga mengapresiasi diri dengan barang impian. Pilihan mana pun yang diambil, semuanya tentang menemukan keseimbangan antara kebutuhan nyata dan rasa bahagia untuk diri sendiri. (tiya monalisa)