
SERAYUNEWS – Pemerintah Kabupaten Cilacap melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Cilacap terus melakukan terobosan dalam menangani persoalan sampah yang kerap dikeluhkan masyarakat.
Selain memaksimalkan pengangkutan sampah setiap hari, DLH Cilacap kini menguji coba inovasi berbasis limbah bernama Eco Lindi untuk mengatasi bau menyengat di tempat penampungan sementara (TPS).
Kepala DLH Kabupaten Cilacap Achmad Nurlaeli mengatakan, strategi utama yang saat ini diterapkan adalah memastikan seluruh sampah di TPS terangkut setiap hari dengan mengoptimalkan armada dan kru yang tersedia, meski jumlah kendaraan masih terbatas.
“Penanganan yang kami lakukan saat ini adalah mengoptimalkan armada yang kami miliki beserta krunya. Prinsipnya, setiap hari sampah di TPS harus terangkut habis,” kata Achmad Nurlaeli.
Ia mengakui keterbatasan armada menjadi tantangan besar dalam pengelolaan sampah di Cilacap.
“Armada kami ini jumlahnya bisa dibilang ngepres. Ketika ada dua kendaraan off karena kerusakan, maka di beberapa titik hampir pasti terjadi overload,” jelasnya.
Untuk mencegah penumpukan sampah, DLH Cilacap menaruh perhatian serius pada perawatan armada pengangkut.
Setiap kendaraan yang mengalami kerusakan langsung ditangani agar tidak terlalu lama berhenti beroperasi.
“Begitu ada kendaraan rusak, langsung kami tangani. Jangan sampai ada kendaraan rusak sampai dua atau tiga hari masih nongkrong. Ini penting supaya pengangkutan tetap berjalan,” ujarnya.
Selain pengangkutan rutin, DLH Cilacap juga membentuk Tim Sapu Bersih yang bertugas memantau potensi penumpukan sampah, terutama di wilayah perkotaan yang dinilai paling rawan.
“Tim ini melakukan pemantauan. Kalau terlihat ada potensi penumpukan, tim langsung bergerak setelah armada rutin selesai beroperasi. Personelnya sekitar lima sampai tujuh orang,” kata Achmad.
Ia menambahkan, wilayah perkotaan menjadi prioritas penanganan karena volume sampah dan aktivitas masyarakat lebih tinggi dibanding wilayah pinggiran.
Tak hanya fokus pada pengangkutan, DLH Cilacap juga serius menangani persoalan bau sampah yang selama ini menjadi keluhan utama warga.
Untuk itu, DLH melakukan studi banding ke DLHK Sidoarjo dan mengenal inovasi bernama Eco Lindi.
“Keluhan paling besar ketika ada tumpukan sampah itu bau. Kalau baunya tidak tertangani, berarti masalah sampah belum selesai,” ujarnya.
Eco Lindi merupakan cairan hasil pengolahan lindi, yaitu air yang keluar dari tumpukan sampah.
Inovasi ini dikembangkan dengan prinsip bahwa bau dapat dinetralisir menggunakan unsur asalnya.
“Bau durian bisa dihilangkan dengan kulit durian. Nah, bau sampah ini ditangani dengan limbah sampah itu sendiri, yaitu lindi. Dari situ muncul inovasi yang dinamakan Eco Lindi,” jelas Achmad.
DLH Cilacap mendapat Eco Lindi dari DLHK Sidoarjo, selanjutnya DLH Cilacap mengembangkan cara penggunaanya agar lebih efektif. Eco Lindi diuji coba di sejumlah TPS dan titik rawan bau dengan hasil yang cukup efektif.
“Pada uji coba awal, sekitar 30 menit baunya sudah berkurang. Setelah konsentrasinya kami tingkatkan, di beberapa lokasi seperti Kalidonan dan Swadaya, sekitar 20 menit baunya sudah hilang,” katanya.
Cairan ini juga diuji pada truk pengangkut sampah.
“Truk yang biasanya bau sampah, setelah disemprot Eco Lindi, baunya hilang. Bahkan air lindi yang sangat bau, setelah disemprot, baunya bisa hilang dalam waktu kurang dari 30 menit,” ungkapnya.
Meski masih dalam tahap uji coba, DLH Cilacap optimistis Eco Lindi dapat menjadi inovasi berkelanjutan.
Ke depan, cairan ini diharapkan membantu proses dekomposisi sampah sehingga lindi tidak mencemari lingkungan.
“Kami berharap lindi yang sudah terdekomposisi ini tidak lagi mencemari sawah atau pemukiman, bahkan bisa menjadi penyubur tanaman,” ujarnya.
Saat ini penggunaan Eco Lindi masih dibatasi karena keterbatasan stok. Namun jika hasil uji coba terus menunjukkan efektivitas, inovasi ini akan dioptimalkan secara lebih luas.
“Ini memang masih uji coba, tapi kami sudah pada tingkat keyakinan. Mudah-mudahan ini bisa menjadi terobosan yang berkelanjutan untuk penanganan sampah di Cilacap,” pungkas Achmad.