
SERAYUNEWS – Langit Indonesia akan menyuguhkan fenomena langka pada Selasa, 3 Maret 2026. Pada malam tersebut terjadi Gerhana Bulan Total yang bertepatan dengan 13 Ramadan 1447 Hijriah.
Momen ini bukan sekadar peristiwa astronomi, tetapi juga menjadi pengingat kebesaran Allah SWT bagi umat Islam.
Melalui imbauan resminya, Kementerian Agama Republik Indonesia mengajak umat Islam untuk menunaikan shalat khusuf atau shalat gerhana bulan ketika fenomena berlangsung.
Lalu bagaimana bacaan niatnya? Berapa rakaat shalatnya? Dan seperti apa tata caranya? Berikut panduan lengkap untuk Anda.
Shalat gerhana bulan dikenal dalam fikih sebagai shalat khusuf. Ibadah ini dilakukan ketika terjadi gerhana bulan, baik total maupun sebagian.
Dalam buku Tuntunan Praktek Ibadah karya H.A. Rusdiana dijelaskan bahwa hukum shalat gerhana adalah sunnah muakkad, yakni ibadah sunnah yang sangat dianjurkan.
Shalat ini berlaku bagi laki-laki dan perempuan, baik yang sedang menetap maupun bepergian.
Pelaksanaannya dimulai sejak gerhana terlihat hingga fenomena tersebut berakhir.
Shalat bisa dilakukan sendiri, tetapi lebih utama bila dikerjakan secara berjamaah di masjid.
Shalat gerhana bulan dilaksanakan sebanyak dua rakaat.
Namun ada perbedaan mencolok dibanding shalat sunnah dua rakaat biasa.
Dalam dua rakaat tersebut terdapat empat kali membaca Al-Fatihah, empat kali rukuk, empat kali iktidal, dan empat kali sujud.
Pola inilah yang membuat shalat gerhana terasa lebih panjang dan khusyuk.
Shalat ini tidak didahului azan maupun iqamah. Sebagai gantinya, muazin atau imam menyerukan:
“Ash-shalaatu jaami’ah”
Seruan ini bertujuan mengajak jamaah berkumpul untuk melaksanakan shalat bersama.
Berikut niat shalat gerhana bulan yang dibaca dalam hati saat takbiratul ihram:
أصَلَّى سُنَّةَ الْخُسُوفِ رَكَعَتَيْنِ اللَّهِ تَعَالَى
Arab Latin: Ushallii sunnatal khusuufi rak’ataini lillaahi ta’aalaa
Artinya: Aku niat shalat sunnah Gerhana bulan dua rakaat karena Allah Ta’ala
Agar Anda lebih mudah mempraktikkannya, berikut urutan pelaksanaan shalat gerhana bulan:
Disunnahkan untuk mengeraskan bacaan ketika shalat gerhana bulan.
Setelah selesai, imam menyampaikan dua khutbah sebagaimana khutbah Jumat.
Berikut doa yang dianjurkan dibaca usai shalat:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِىْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. يَارَبَّنَالَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِىْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ
Arab Latin: Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin. Hamdan yuwafi ni’amahu wa yukaafiu maziidah. Yaa rabbanaa lakal hamdu wa lakasy syukru kamaa yanbaghi lijalaali wajhikal ‘adzimi sulthonik
Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam. Pujian yang sebanding dengan nikmat-nikmatNya dan menjamin tambahannya. Wahai Tuhan kami, bagi-Mu-lah segala puji, dan bagi-Mu-lah segalah syukur, sebagaimana layak bagi keluhuran zat-Mu dan keagungan kekuasaan-Mu.”
Doa dilanjutkan dengan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW yang memohon keselamatan, perlindungan, dan kemuliaan derajat di sisi Allah SWT.
Data astronomi menunjukkan bahwa gerhana bulan total kali ini dapat disaksikan dari seluruh wilayah Indonesia, meski dengan waktu pengamatan yang berbeda sesuai zona waktu.
Wilayah Indonesia bagian timur seperti Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara, hingga Papua dan sekitarnya mulai dapat melihat fase Umbra I pada sore menjelang malam, sekitar pukul 17.49 WITA atau 18.49 WIT, dan berakhir sekitar pukul 21.17 WITA atau 22.17 WIT.
Sementara itu, masyarakat di wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, hingga sebagian besar Sulawesi akan menyaksikan fase Umbra II mulai sekitar pukul 18.00 WIB atau 19.03 WITA dan berakhir sekitar pukul 20.17 WIB atau 21.17 WITA.
Untuk wilayah Sumatera bagian tengah hingga barat, termasuk Jakarta dan Jawa Barat, puncak gerhana terjadi sekitar pukul 18.33 WIB dan selesai sekitar pukul 20.17 WIB.
Adapun Aceh dan Sumatera Utara mulai dapat menyaksikan fase Umbra III sekitar pukul 19.03 WIB hingga 20.17 WIB.
Selama rentang waktu tersebut, umat Islam dianjurkan melaksanakan shalat gerhana.
Gerhana dalam Islam bukanlah pertanda kesialan, melainkan tanda kekuasaan Allah SWT atas alam semesta.
Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk memperbanyak doa, zikir, istigfar, dan sedekah ketika gerhana terjadi.
Karena momen ini bertepatan dengan Ramadan, Anda dapat menjadikannya sebagai kesempatan memperbanyak amal.
Shalat gerhana menjadi sarana mendekatkan diri sekaligus merenungkan kebesaran Sang Pencipta.***