
SERAYUNEWS – Ratusan warga Desa Petambakan, Kecamatan Madukara, Kabupaten Banjarnegara, menggelar salat gerhana bulan berjemaah di masjid desa setempat, Selasa (3/3/2026) malam.
Fenomena gerhana bulan yang selama ini kerap dikaitkan dengan tafsir mistis dan mitos, kini dimaknai berbeda oleh masyarakat Petambakan.
Warga justru menjadikan peristiwa alam tersebut sebagai momentum ibadah, refleksi diri, dan penguatan spiritual.
Dalam tradisi lama, khususnya dalam naskah Jawa kuno seperti Serat Centhini maupun Primbon Betaljemur Adammakna, gerhana bulan di bulan Ramadan kerap disebut sebagai pertanda kurang baik.
Namun, masyarakat Desa Petambakan kini meninggalkan tafsir tersebut. Mereka memilih menyikapi gerhana sebagai tanda kebesaran Tuhan yang patut disambut dengan ibadah.
Salat gerhana bulan berjemaah tersebut dipimpin sekaligus dikhatibi oleh Sekretaris Desa Petambakan, Khoiruman.
Dalam khutbahnya, ia menegaskan bahwa gerhana bukanlah pertanda mistis maupun isyarat datangnya musibah tertentu.
Mengutip Al-Qur’an Surah Fushilat ayat 37, Khoiruman menjelaskan bahwa gerhana merupakan salah satu tanda kebesaran Allah SWT.
Ia juga menyinggung Surah Ali Imran ayat 190 yang mengajak manusia untuk berpikir tentang keteraturan alam semesta.
“Gerhana mengingatkan kita tentang keteraturan kosmik. Jika bulan keluar dari orbitnya, akan terjadi kekacauan. Begitu pula manusia, jika keluar dari aturan Allah, maka akan timbul kerusakan moral dan sosial,” ujarnya.
Khoiruman menambahkan, fenomena gerhana seharusnya menumbuhkan sikap rendah hati karena manusia tidak memiliki kuasa atas peristiwa alam.
Ia juga mengingatkan bahwa gerhana merupakan tanda kebesaran Tuhan sekaligus pengingat akan peristiwa yang lebih besar, yakni hari kiamat.
Pelaksanaan salat gerhana dilakukan dua rakaat dengan dua kali rukuk di setiap rakaat, sesuai tuntunan syariat. Selama berlangsungnya gerhana, para jemaah juga diajak untuk memperbanyak zikir dan istigfar.
Kegiatan ibadah tersebut berlangsung khusyuk dan tertib hingga gerhana berakhir. Warga berharap, melalui salat gerhana berjamaah ini, keimanan semakin kuat dan kesadaran spiritual masyarakat terus tumbuh.
Masyarakat Petambakan menilai, fenomena alam seperti gerhana bulan bukan untuk ditakuti secara berlebihan, melainkan dimaknai sebagai bagian dari tanda-tanda kebesaran Sang Pencipta.