
Berawal dari tiga karyawan dan keinginan menghapus stigma buruk jamu oplosan. Bumi Wijaya tumbuh bersama pemasaran digital. Shopee membuka jalan bagi produk herbal dari sebuah desa di Cilacap menjangkau konsumen di berbagai penjuru Indonesia.
SerayuNews–Deretan motor memenuhi halaman pabrik jamu CV Bumi Wijaya di Desa Gentasari, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap. Para karyawan mengatur motor berhimpitan rapat-rapat di lahan parkir yang hanya sepetak.
Di bibir pintu masuk pabrik, setiap orang meletakkan tas, telepon seluler, dan dompet ke dalam loker. Sebagian karyawan yang bertugas di area steril mengenakan wearpack safety atau pakaian pelindung diri. Salah satu karyawan Aminah, 59 tahun, mengatakan perkembangan jumlah karyawan Bumi Wijaya naik pesat dalam satu dekade terakhir. “Awal berdiri hanya tiga karyawan,” katanya kepada SerayuNews di kantor Bumi Wijaya Selasa 11 Agustus 2026.
Direktur Utama Bumi Wijaya Tatang Mulyadi membenarkan pabriknya beroperasi awal dengan hanya tiga karyawan pada tahun 2012. Aminah adalah karyawan pertama yang direkrut oleh Tatang. Awal beroperasi entitas bisnis berbentuk Koperasi Jamu Aneka Sari. Model bisnis koperasi ini beranggotakan puluhan perajin jamu dari Gentasari.
Desa Gentasari Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap terkenal sebagai salah satu sentra perajin jamu tradisional di Jawa Tengah. Sayangnya citra perajin jamu Gentasari terkenal buruk karena banyak perajin mengoplos jamu dengan bahan kimia obat (BKO). Tindakan ini dilarang oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Melihat sengkarut jamu tradisional di desanya, Tatang termotivasi untuk mengangkat kembali pamor perajin jamu Gentasari. Caranya dengan memulai bisnis jamu tradisional yang murni tanpa BKO. Niat Tatang ini dicemooh oleh perajin jamu yang sudah terbiasa mengoplos dengan BKO. “Saya dianggap mimpi,” katanya kepada SerayuNews.
***
Mimpi Tatang untuk berbisnis jamu murni bergayung sambut setelah bertemu Mukit Hendrayatno yang memiliki bisnis penjualan digital produk madu herbal. Tatang dan Mukit sama-sama berasal dari Desa Gentasari. Kedua orang tua mereka sama-sama perajin jamu kawakan. Bedanya Tatang adalah anak yang terlahir di Gentasari sedangkan Mukit berstatus anak mantu dari salah satu perajin jamu di Gentasari. Keduanya bisa bertemu karena memiliki mimpi yang sama yaitu mempopulerkan kembali pamor jamu Gentasari.

Awalnya Tatang dan Mukit masih berharap bisa menjalankan visinya lewat Koperasi Jamu Aneka Sari. Namun setelah menilai bahwa visi mereka bertepuk sebelah tangan di mata anggota lainnya, keduanya memilih mundur dan mendirikan CV Bumi Wijaya pada tahun 2017.
Tatang dan Mukit telah menggodok matang-matang rencana tersebut. Tatang berperan sebagai manufaktur alias produksi dan Mukit berperan memasarkan secara daring atau online. Mukit mengatakan produk pertama mereka membidik pasar ibu dan anak. “Market ibu dan anak sangat ramai seiring pesatnya belanja online,” kata Mukit kepada SerayuNews.
Produk pertama CV Bumi Wijaya adalah gizidat yaitu herbal berbahan baku madu hutan, ekstrak ikan sidat, dan temulawak yang dikemas dalam botol bervolume 130 mililiter. Tatang mengklaim Gizidat berkhasiat membantu memulihkan nafsu makan anak. Bagi Tatang keunikan Gizidat adalah memanfaatkan ikan sidat sebagai bahan baku. “Belum ada jamu atau produk herbal yang memanfaatkan ikan sidat,” katanya.
Ide memanfaatkan ikan sidat muncul karena Tatang mengetahui banyak tetangganya yang berbudidaya ikan sidat. Mayoritas peternak mengekspor ikan sidat ke Korea Selatan dan Jepang. Adapun masyarakat lokal jarang mengolah atau mengkonsumsi ikan sidat. “Malah dianggapnya pamali.”
Karena stok berlimpah, Tatang termotivasi untuk memanfaatkan ikan sidat dalam bentuk ekstrak ke dalam Gizidat. Namun ide ini menemui jalan terjal. Kandungan ikan sidat, kata Tatang, justru menjadi kendala seretnya BPOM menerbitkan izin edar. Untuk menyiasati regulasi, produksi Gizidat awal hanya mengantongi izin berupa Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) yang diterbitkan Dinas Kesehatan.
Awal beroperasi Bumi Wijaya memproduksi 2.000 botol Gizidat sesuai permintaan tim Mukit. Dalam memasarkan produk Mukit memiliki entitas bisnis bernama CV Family Herbal yang berisi 25 karyawan. Menurut Mukit Gizidat yang belum berizin edar BPOM menjadi kendala pemasaran. “Konsumen belum benar-benar percaya dengan produk yang hanya berizin PIRT,” ujarnya.
Syahdan, di tahun kedua memproduksi Gizidat, BPOM akhirnya menerbitkan izin edar Gizidat pada pertengahan April 2019. Saking gembiranya Tatang dan Mukit menggelar acara syukuran memotong kambing mengundang karyawan Bumi Wijaya dan masyarakat sekitar pabrik.
***
Begitu izin edar Gizidat telah terbit Mukit tancap gas lewat pemasaran digital. Ia mengalokasikan belanja iklan di media sosial Facebook hingga lebih satu juta per hari. Strategi ini menghasilkan penjualan Gizidat mencapai 190 ribu botol Gizidat sepanjang tahun atau 15 ribu botol terjual per bulan di tahun 2019. “Capaian itu meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya,” kata Mukit.
Dengan angka penjualan belasan ribu per bulan di kanal digital menunjukkan Gizidat tidak hanya terdistribusi di pasar lokal atau regional tetapi menembus pasar nasional. Kencangnya aktivasi penjualan di kanal digital mendatangkan agen-agen di kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Makassar, dan Banjarmasin yang berminat ikut memasarkan gizidat.
Penjualan di media sosial mulai lesu seiring hadirnya lokapasar atau marketplace. Shopee yang menguat aktivasinya pada 2019 memberikan goncangan bagi penjualan daring di kanal media sosial. Mukit mulai menimbang untuk membagi kanal pemasaran online di Shopee.
Mukit mengakui Shopee semakin kuat mengakuisisi pembeli daring dan semakin digemari oleh ibu-ibu yang menjadi motor utama belanja daring di Indonesia. Salah satu fitur Shopee yang menarik banyak penggunanya adalah fitur bayar di tempat atau cash on delivery (COD) yang mulai dikenalkan sejak 2018.
Manager Commercial Regulatory CV Family Herbal Sandhy Kurniawan mengatakan fitur COD Shopee memberi dampak nyata mendorong pertumbuhan gizidat. Pasalnya karakter pembeli daring di Shopee lebih memilih pembayaran COD ketimbang pembayaran transfer tunai. Karena fitur COD inilah, lanjut Sandhy, membuat kepercayaan pembeli daring terus bertumbuh kepada Shopee.
Data yang dirangkum SerayuNews dari laporan GoodStats dan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan satu dari dua pengguna internet di Indonesia sering mengakses Shopee. Pada 2025 tingkat kunjungan bulanan di Shopee mencapai 98 – 100 juta kunjungan. Capaian ini mendudukkan Shopee sebagai lokapasar dengan jumlah pengunjung nomor satu di Indonesia. Setali tiga uang, perusahaan riset pasar IPSOS mengumumkan bahwa Shopee menjadi lokapasar unggul dalam memberikan pengalaman belanja paling memuaskan.
Jumlah pengguna Shopee yang melonjak tajam dan kepuasan pengguna yang kuat, menurut Sandhy, wajib direspon oleh penjual digital atau seller yang memasarkan produknya di kanal Shopee. Tidak sekadar mengaktifkan fitur pembayaran COD. “Kami juga menjual produk secara live di Shopee” kata Sandhy kepada SerayuNews.
Pantauan SerayuNews di platform Shopee dari 24-26 Agustus 2026 akun-akun penjualan milik Family Herbal sangat aktif memasarkan produk herbal produksi Bumi Wijaya. Mulai dari pagi jam 05.00 hingga larut malam di atas pukul 21.00 akun pemasaran Family Herbal masih aktif menggelar lapak daringnya secara live. “Audiens sekarang banyak anak muda yang sangat gemar terhadap e-commerce,” ujar Sandhy.
Sandhy mengatakan setelah memasarkan Gizidat lewat platform Shopee penjualannya tembus hingga ratusan ribu botol per tahun. Puncak penjualan Gizidat oleh Family Herbal tercapai pada 2022 mencapai 720 ribu botol terjual per tahun atau setara 60 ribu botol terjual per bulan.
Kenaikan penjualan Gizidat juga disebabkan faktor pandemi Covid yang berlangsung 2020-2023. Pandemi Covid membuat masyarakat meningkat minatnya terhadap produk herbal. Menurut catatan Family Herbal selain Gizidat produk Bumi Wijaya yang meningkat pesat adalah madu freshmag yaitu produk jamu berbahan baku madu yang ditambahkan kunyit dan bahan alami lainnya. Selain minat terhadap produk herbal meningkat, perilaku berbelanja online masyarakat meroket tajam selama pandemi berlangsung.
Sandhy mengatakan penjualan melalui Shopee tidak selalu berlangsung mulus. Pasca-pandemi penjualan mulai turun sejak 2024-2025. Penurunan bukan karena minat masyarakat menurun atau hilang tetapi kehadiran kompetitor dengan strategi pemasaran yang lebih segar.
Family Herbal, lanjut Sandhy, tidak menyerah begitu saja. Setiap anggota tim pemasaran online mulai meriset dan menata ulang strategi penjualan. Selain tetap mengaktifkan fitur pembayaran COD dan berbelanja live streaming tim Family Herbal mulai menggiatkan penjualan dengan mengikuti program affiliasi Shopee. Program affiliasi adalah program yang menggandeng pemasar daring yang berstatus pribadi. Pemasar ini disebut affiliator. Tim pemasaran Family Herbal menggandeng ratusan affiliator untuk meningkatkan kembali penjualan produk-produk herbal.
Selain membenahi pemasaran di Shopee, Sandhy melanjutkan, strategi pemasaran di kanal media social harus sinergi dengan aktivasi penjualan di Shopee. “Penataan harga adalah kunci utama. Tidak boleh ada harga yang berbeda-beda semua kanal penjualan harganya sama,” katanya.

Strategi ini berbuah manis. Penjualan produk-produk Family Herbal mulai meningkat kembali di kuartal kedua 2026. Termasuk Gizidat. Penjualan yang kembali bertumbuh membuat Sandhy optimis target penjualan di akhir 2026 akan tercapai.
***
Pertumbuhan penjualan Gizidat membuat Bumi Wijaya meningkat kemampuan modalnya. Tatang Mulyadi, Direktur Utama Bumi Wijaya mengatakan kemampuan keuangan perusahaan yang terus menguat membuat perusahaannya mampu melahirkan produk-produk baru yang juga laris manis di pasar digital. Shopee menjadi platform penting dari penjualan produk-produk herbal Bumi Wijaya yang motor pemasarannya diperankan oleh CV Family Herbal.
Kondisi keuangan yang kuat juga memberi dampak positif terhadap kesejahteraan karyawan termasuk Aminah yang merupakan karyawan pertama Bumi Wijaya. Ibu tiga anak itu mengakui setelah bekerja di Bumi Wijaya ia mampu menyekolahkan anak bungsunya hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Sebelum menjadi karyawan Bumi Wijaya Aminah bekerja sebagai buruh tani. Karena keterbatasan ekonomi ia hanya mampu membiayai anak pertama dan kedua tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP). “Alhamdulillah sekarang sudah bisa membeli kulkas (lemari pendingin),” katanya.
Kepala Desa Gentasari Budi Harsono membenarkan kontribusi positif berdirinya Bumi Wijaya terhadap masyarakat Desa Gentasari. Pria 59 tahun itu mengatakan Bumi Wijaya berkontribusi siginifikan terhadap penyerapan tenaga kerja yang mayoritas berasal dari penduduk lokal. “Karyawannya banyak berasal dari sekitar pabrik,” katanya kepada SerayuNews di kantornya Selasa 11 Agustus 2026.
Tidak hanya berkontribusi pada serapan tenaga kerja, dalam pembangunan infrastruktur fisik dan kegiatan sosial Bumi Wijaya juga berperan aktif. Beberapa jalan desa di wilayah Gentasari timur, lanjut Budi, ongkos pembangunannya mendapat bantuan dana dari Bumi Wijaya. Adapun kegiatan sosial Bumi Wijaya rutin menyalurkan donasi kepada anak yatim piatu di Gentasari. “Andilnya cukup besar,” ujarnya. (Jurnalis: Umi Uswatun Hasanah dan Akbar Tri Kurniawan)