
KEBUMEN, SERAYUNEWS – Dulu, kedatangan penyu ke Pantai Lembupurwo, menjadi kesempatan bagi sebagian warga untuk mencari telur. Telur-telur yang ditemukan di pasir bisa dijual atau dikonsumsi.
Kini, situasinya perlahan berubah. Warga yang sebelumnya hanya mendengar cerita tentang keberadaan penyu mulai terlibat langsung dalam konservasi. Setiap indukan yang naik ke pantai untuk bertelur justru dijaga. Telurnya dipindahkan ke tempat penangkaran agar peluang menetas lebih besar, sebelum tukik dilepas kembali ke laut.
Perubahan itu menjadi bagian dari perjalanan Kelompok Tani Hutan Cemara Lembupurwo dalam menjaga ekosistem pesisir, di wilayah Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.
Ketua Kelompok Tani Hutan Cemara Lembupurwo, Munadi, mengatakan konservasi penyu mulai mereka jalankan secara lebih efektif sejak 2023. Sebelumnya, pada akhir 2022, kelompoknya mulai menemukan indukan penyu yang mendarat dan bertelur.
“Jadi dari tahun 2022 akhir itu kami dapat 25 indukan yang mendarat dan bertelur. Seperti itu. Sampai sekarang. Jadi ada populasi yang meningkat,” kata Munadi, Rabu (19/8/2026).
Munadi mengakui sebelum kegiatan konservasi berjalan, masyarakat belum memiliki banyak informasi mengenai penyu yang mendarat di Pantai Lembupurwo.
Informasi yang mereka dapat justru berasal dari cerita masyarakat yang menemukan telur penyu. Sebagian telur kemudian dijual atau dikonsumsi.
“Nah, dengan adanya kegiatan kami di sini, kami untuk menanggulangi hal tersebut. Karena apa? Bahwasanya penyu itu hewan yang langka, juga dilindungi,” ujarnya.
Kesadaran itu kemudian perlahan dibangun. Warga tidak lagi melihat telur penyu sebagai sesuatu yang bisa dimanfaatkan, tetapi sebagai bagian penting dari keberlangsungan populasi satwa laut yang dilindungi.
Dari proses tersebut, sejak 2022 hingga sekarang diperkirakan sekitar 1.500 tukik telah berhasil ditetaskan dan dilepasliarkan.
“Ya, dari tahun 2022 berkisar 1.500-an. Ya, karena sebenarnya kami berjalan untuk efektif di konservasi penyu itu, penangkaran penyu itu di tahun 2023. 2022 kita baru proses awalnya saja,” jelas Munadi.
Penyu yang ditemukan bertelur di kawasan tersebut sejauh ini didominasi jenis penyu lekang.
Bagi warga, menjaga telur penyu bukan pekerjaan sederhana. Ada banyak ancaman yang dapat membuat telur gagal menetas atau tukik tidak bertahan hidup.
Munadi menjelaskan penyu memiliki siklus reproduksi yang panjang. Selain itu, tingkat kehidupan tukik juga sangat rendah karena menghadapi ancaman predator maupun manusia.
“Karena waktu reproduksinya itu sangat lama, 2 tahun sekali. Dan daya kehidupannya itu sangat-sangat rendah. Dari misalkan dari 100 telur, hanya berapa persen yang kemungkinan hidup, 1-2% mungkin yang kemungkinan hidup itu,” katanya.
Ancaman juga datang dari faktor lingkungan. Suhu pasir memiliki pengaruh terhadap jenis kelamin tukik yang menetas.
“Karena apa? Dengan suhu yang tinggi, dengan suhu yang tinggi, dia itu akan menetas menjadi betina. Dengan suhu yang rendah, dia itu kemungkinan tidak akan menetas, sedikit yang menetas,” ujar Munadi.
Karena itulah proses konservasi tidak berhenti pada pengumpulan telur. Kelompok juga melakukan pengawasan hingga tukik siap dilepasliarkan.
Mereka bahkan bekerja sama dengan nelayan. Jika ada penyu yang terperangkap jaring atau terkena pancing, nelayan diminta melaporkannya kepada kelompok konservasi.
Penyu yang mengalami luka akan dikarantina dan dirawat sebelum dikembalikan ke laut.
“Jikalau nelayan dapat penyu terperangkap oleh jaring maupun kena pancing, agar melapor kepada kami. Nanti akan dikarantina di tempat kami dulu. Setelah selesai, setelah sembuh dari luka, nanti akan dikembalikan, dilepaskan,” tuturnya.
Gerakan konservasi tersebut kemudian diperkuat melalui program TJSL Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Lomanis.
Supervisor HSSE Fuel Terminal Lomanis, Ahsanul Khalis, mengatakan pelestarian penyu menjadi salah satu fokus dalam program Lembupurwo Sea Turtle and Mangrove Conservation.
Menurutnya, pelepasan tukik bukan sekadar kegiatan seremonial. Ada pesan ekologis yang ingin dibangun, yakni menjaga keberlangsungan populasi penyu di habitat alaminya.
“Begitu juga dengan tukik. Si kecil yang akan kembali ke laut hari ini adalah simbol dari siklus kehidupan yang harus kita jaga bersama. Melepas mereka ke habitat aslinya adalah bagian dari upaya menjaga keberlanjutan populasi penyu yang saat ini semakin terancam,” kata Ahsanul.
Pada 2026, program TJSL Pertamina di Pantai Lembupurwo mencakup sejumlah kegiatan. Selain konservasi penyu, terdapat pengembangan UMKM pesisir, perbaikan fasilitas konservasi penyu, pengelolaan sampah, serta penanaman mangrove dan pelepasan tukik.
Dalam kegiatan konservasi yang dilakukan, Pertamina bersama masyarakat juga menanam 900 mangrove dan 100 pohon cemara.
Ahsanul mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen perusahaan terhadap pelestarian ekosistem pesisir.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan atau TJSL Pertamina Field Terminal Lomanis, yaitu program Lembupurwo Sea Turtle and Mangrove Conservation,” ujarnya.
Perubahan terbesar dari konservasi tersebut bukan hanya bertambahnya jumlah tukik yang dilepas ke laut. Lebih dari itu, terjadi perubahan cara pandang masyarakat terhadap penyu.
Jika sebelumnya telur penyu masih diburu karena memiliki nilai konsumsi maupun ekonomi, kini warga justru ikut menjaga agar telur tersebut dapat menetas.

Munadi berharap dukungan terhadap konservasi di Lembupurwo terus berlanjut. Termasuk dukungan dari Pertamina yang selama dua tahun terakhir ikut membantu kelompok melalui berbagai bentuk kegiatan.
“Sehubungan dengan bantuan dari Pertamina, alhamdulillah sudah berjalan 2 tahun. Kami sangat-sangat berterima kasih kepada Pertamina yang telah mensupport, memberi bantuan kepada kami berbagai bentuk, baik pelatihan, pembinaan, maupun fasilitas yang lain,” katanya.
Ahsanul pun menegaskan program TJSL tidak hanya diarahkan untuk masyarakat, tetapi juga memastikan alam tetap menjadi bagian penting dari pembangunan.
“Program TJSL yang kami laksanakan tidak hanya bertujuan untuk mengembangkan masyarakat, tetapi juga untuk menempatkan pelestarian alam sebagai prioritas penting. Kami menyadari bahwa keberlangsungan bisnis harus sejalan dengan keberlangsungan lingkungan,” ujarnya.
Di Pantai Lembupurwo, perubahan itu kini bisa dilihat dari jejak-jejak kecil di pasir. Telur yang dahulu dicari untuk diburu kini dijaga hingga menetas.
Dan ketika tukik-tukik kecil itu akhirnya bergerak menuju laut, masyarakat tidak lagi menjadi penonton. Mereka telah berubah menjadi penjaga awal perjalanan panjang satwa yang terancam punah tersebut.