
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS – Musim kemarau masih menebar ancaman serius bagi petani kentang di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara. Fenomena embun upas atau embun beku yang kerap dijuluki “salju Dieng” kembali muncul dengan intensitas tinggi dan menyebabkan puluhan hektare tanaman kentang rusak hingga gagal panen.
Tidak hanya menjadi daya tarik wisata, embun upas justru menjadi mimpi buruk bagi petani. Lapisan kristal es yang menempel pada daun tanaman saat suhu turun drastis pada dini hari mampu membuat tanaman mengering, layu, bahkan mati hanya dalam hitungan hari.
Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, Peternakan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banjarnegara, Firman Sapta Adi, mengatakan hingga pertengahan musim kemarau tahun ini tercatat sekitar 30 hektare lahan kentang mengalami gagal panen akibat embun upas.
Lahan yang terdampak tersebar di sejumlah kawasan pertanian di Dataran Tinggi Dieng, di antaranya sekitar Lapangan Pandawa, area parkir Candi Arjuna, kompleks Candi Arjuna, Gasiran Aswatama, Kalibana, hingga kawasan Kompleks Setyaki.
“Data sementara ada sekitar 30 hektare lahan kentang yang terdampak embun upas hingga mengalami gagal panen,” ujarnya.
Tanaman kentang dengan umur sekitar 40 hari ke bawah merupakan yang paling rentan terhadap embun upas. Ketika terkena embun beku dengan intensitas tinggi, tanaman pada usia tersebut umumnya tidak dapat diselamatkan.
“Untuk tanaman muda sekitar umur 40 hari ke bawah, dampaknya sangat berat. Jika terkena embun upas seperti beberapa waktu lalu, umumnya tidak bisa diselamatkan,” katanya.
Petani kentang Dieng, Suhatno, mengaku musim kemarau tahun ini terasa lebih berat dibandingkan biasanya. Embun upas dengan ketebalan tinggi sudah beberapa kali turun dan menyebabkan banyak tanaman tidak mampu bertahan.
Menurutnya, tanaman kentang sebenarnya masih memiliki peluang hidup apabila embun yang turun hanya tipis. Namun ketika embun membeku cukup tebal, jaringan tanaman akan rusak sehingga daun mengering dan akhirnya mati.
“Kalau embunnya masih tipis, tanaman masih bisa diselamatkan. Tetapi kemarin embun turun cukup tebal sehingga banyak tanaman langsung mengering dan mati. Otomatis petani mengalami gagal panen dan kerugian besar,” katanya.
Senada dengan itu, petani lainnya, Turip, menyebut embun upas telah turun lebih dari tiga kali selama musim kemarau tahun ini. Kondisi tersebut membuat petani terus dihantui kekhawatiran karena puncak musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga Agustus mendatang.
“Ancaman masih ada karena biasanya embun upas muncul saat puncak kemarau. Tahun ini sudah lebih dari tiga kali turun dengan ketebalan yang cukup tinggi,” ujarnya.
Untuk mengurangi dampak embun upas, petani melakukan berbagai upaya. Salah satu cara yang paling sering dilakukan adalah menyiram lahan pada siang hingga sore hari.
Cara tersebut diharapkan mampu menciptakan uap air yang membantu mengurangi pembekuan pada tanaman saat suhu turun pada malam hingga dini hari.
Selain itu, sebagian petani menutup tanaman menggunakan paranet dengan daun bambu sebagai pelindung agar embun beku tidak langsung mengenai daun kentang.
Namun berbagai langkah tersebut belum mampu memberikan perlindungan secara maksimal, terutama pada tanaman yang masih muda.
Akibatnya, banyak petani hanya berharap masih bisa memanen sebagian hasil tanamannya meski produktivitas turun drastis.
“Kalau beruntung masih bisa panen, tetapi hasilnya turun hingga sekitar 70 persen,” kata Turip.
Setelah tanaman rusak akibat embun upas, sebagian petani memilih menunggu kondisi cuaca kembali normal sebelum memulai musim tanam berikutnya.
Apabila suhu mulai menghangat dan ancaman embun beku berkurang, penanaman kentang diperkirakan kembali dilakukan pada September 2026.
Fenomena embun upas memang menjadi siklus tahunan di Dataran Tinggi Dieng setiap musim kemarau. Di satu sisi, kemunculannya menjadi magnet wisata karena menghadirkan pemandangan menyerupai salju. Namun di sisi lain, fenomena alam tersebut menyisakan kerugian besar bagi para petani yang menggantungkan hidup dari hasil panen kentang.
Dengan prediksi puncak musim kemarau yang masih berlangsung beberapa pekan ke depan, para petani berharap intensitas embun upas tidak semakin meningkat agar kerusakan tanaman tidak meluas dan produksi kentang Dieng tetap terjaga.