
CILACAP, SERAYUNEWS-Salah satu yang menjadi fenomena dewasa ini terkait dunia kerja adalah underemployment yakni ketidaksesuaian jurusan kuliah dengan pekerjaan. Bahkan, tidak jarang ada yang benar-benar beda haluan antara jurusan kuliah yang diambil dengan pekerjaan yang dijalani.
Mereka yang lulus kuliah bertitel sarjana tertentu dihadapkan pada kenyataan bahwa lapangan kerja yang sesuai dengan jurusan makin sempit karena banyaknya lulusan perkuliahan. Di sisi lain, jika tak bekerja, maka pusaran pengangguran menganga di depan mata.
Data Badan Pusat Statistik pada Agustus tahun lalu menyebutkan bahwa 900 ribuan sarjana yang menganggur. Para sarjana ini seperti terjepit dalam dua tembok terus bergerak menyempit. Mau tak mau, sebagian para sarjana melepas asa dan bertarung di ruang kerja yang tak sesuai dengan jurusannya.
Seorang pemuda sarjana hukum asal Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap, berinisial M (26), dihadapkan pada situasi bahwa asanya bekerja di lingkungan hukum jauh panggang dari api. Salah satunya karena persaingan tinggi.
“Secara keinginan, cita-cita awalnya adalah bekerja di bidang yang linier dengan latar belakang pendidikanku, seperti di instansi pemerintahan atau layanan publik. Namun, realitas di lapangan mengajarkan bahwa menembus bidang tersebut membutuhkan kualifikasi dan kompetensi akademik yang sangat tinggi serta persaingan yang ketat,” ujar sarjana hukum salah satu perguruan tinggi negeri di Banyumas ini, Rabu (22/7/2026).
Pada akhirnya, M realistis. Senjata pamungkas tentang kehalalan pekerjaan menjadi alasan utama mengapa dia mau menjadi kurir. “Nek aku condong meng lebih mudah. Karena iya aku ora pilih-pilih, apa bae gas, selagi pada-pada cocok dan halal,” tuturnya dengan bahasa campuran Indonesia dan panginyongan.
Mulanya M menjalani kesehariannya sebagai kurir di salah satu penyedia layanan jasa lokal di Gandrungmangu, Cilacap. Kini, beberapa bulan setelah bergabung M bahkan dipercaya membantu pekerjaan administrasi.
Bagi M, bekerja di perusahaan lokal bukan persoalan gengsi. Justru dari tempat itulah ia belajar tentang tanggung jawab, komunikasi dengan pelanggan, hingga pentingnya menjaga kepercayaan. Sebagai sarjana hukum, M tak berkutat dengan pasal-pasal. Tidak berkutat dengan logika-logika hukum dalam pekerjaannya.