
BANYUMAS, SERAYUNEWS – Di kaki Gunung Slamet, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, tersimpan cerita tentang perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Salah satu nama yang berkaitan erat dengan kisah tersebut adalah Poedjadi Djaring Bandajoeda.
Poedjadi merupakan seorang perwira infanteri yang terlibat dalam berbagai penugasan militer sejak masa pendudukan Jepang hingga periode perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Perjalanannya kemudian berlanjut ke berbagai jabatan militer dan pemerintahan, termasuk menjadi Bupati Banyumas. Salah satu kisah yang paling dikenang dari perjalanan perjuangannya terjadi di Gununglurah.
Peristiwa tersebut kemudian ditandai dengan berdirinya Monumen Palagan Poedjadi Djaring Bandajoeda.
Poedjadi Djaring Bandajoeda lahir di Banyumas pada 5 Oktober 1925. Ia merupakan anggota korps Infanteri dengan NRP 10712.
Pendidikan militernya ditempuh hingga Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat atau SESKOAD. Ia juga pernah mengikuti Kursus Dosen Kewiraan di Lemhannas.
Kariernya sudah dimulai ketika Indonesia masih berada dalam masa pendudukan Jepang. Pada 1943 hingga 1944, Poedjadi tercatat bertugas sebagai Bundantjo di Cilacap.
Kemudian pada 1944, ia menjadi Shotaitjo di Cilacap dan melanjutkan tugas sebagai Shikihantjo di Kroya pada 1944 hingga 1945.
Setelah Indonesia merdeka, Poedjadi menjalankan tugas militer di Purwokerto. Ia tercatat menjadi Komandan Peleton KI-II Batalyon 16/III pada 1945 hingga 1948.
Pengalaman tersebut kemudian berlanjut dengan penugasan sebagai Komandan Kompi II Yon II Brigade VIII Purwokerto pada 1948 hingga 1952.
Perjalanan perjuangan Poedjadi berlangsung di berbagai daerah. Pada masa PETA, BKR, dan TKR, ia tercatat menjadi pelatih bintara PETA pada 1944.
Ia juga terlibat dalam pembentukan BKR dan TKR serta menjadi anggota Batalyon Imam Adrowi. Sejumlah pertempuran kemudian menjadi bagian dari perjalanan militernya.
Di antaranya Pertempuran Magelang pada 31 Oktober hingga 3 November 1945 dan Palagan Ambarawa pada 22 November hingga 15 Desember 1945.
Pada 1946, ia juga tercatat terlibat dalam Pertempuran Semarang Barat atau Boja. Setahun berikutnya, perjuangan berlanjut dalam Pertempuran Bandung Timur.
Ketika Belanda menduduki Kota Purwokerto pada akhir Juli 1947, perlawanan juga terjadi di wilayah sekitar kota.
Salah satu lokasi yang disebut dalam data perjuangan Poedjadi adalah Gunung Tugel, Karang Klesem, Purwokerto.
Di lokasi tersebut, pasukan Indonesia berupaya memukul mundur pasukan Belanda yang bertugas mengintai Brigade Gatot Soebroto yang hendak bergerak menuju Banjarnegara.
Setelah berbagai pengalaman tersebut, Poedjadi kemudian dipercaya menjadi Komandan Kompi Batalyon Broto Siswoyo.
Ketika Belanda melancarkan agresi pada Desember 1948, Poedjadi kembali terlibat dalam berbagai pertempuran.
Pada 19 hingga 20 Desember 1948, ia bersama pasukan Siliwangi menghadapi upaya pasukan Belanda memasuki Banjarnegara melalui Mantrianom.
Setelah itu, pertempuran dan penghadangan berlangsung di sejumlah wilayah. Catatan penugasan Poedjadi mencatat pergerakan pasukannya di Kertanegara, Purbalingga, Walik, Lerep, Bukateja, Gembong, Mersi, Sokaraja, Linggasari, Bumisari, Sirayu, Banjarsari, Sinduraja, Klahang, Cilongok, Jatilawang, Kembaran, Karang Pule, hingga sejumlah wilayah lainnya.
Pertempuran tersebut tidak selalu berupa serangan terbuka. Sebagian dilakukan dengan menghadang patroli, mencegat kendaraan, menyerang pos, atau memanfaatkan kondisi wilayah untuk menghambat pergerakan pasukan Belanda.
Pada 13 April 1949, misalnya, pasukan Poedjadi tercatat melakukan pencegatan konvoi Belanda di tiga tempat di wilayah Cilongok, Pageraji, dan Karang Gude atau Karang Kemiri.
Beberapa hari kemudian, pasukan kembali melakukan penghadangan terhadap iring-iringan kendaraan Belanda di Pekodokan dan Gunung Tugel.
Salah satu peristiwa penting dalam perjalanan Poedjadi terjadi di Desa Gununglurah. Ketika itu masyarakat sedang menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk bekerja di sawah.
Sejumlah warga kemudian melihat banyak tentara Belanda melintas melalui jembatan gantung yang menjadi jalur menuju Desa Gununglurah.
Melihat situasi tersebut, para petani segera meninggalkan lokasi dan menyampaikan informasi kepada para pejuang yang berada di markas kompi.
Informasi dari warga menjadi bagian penting dalam menghadapi patroli tersebut. Para pejuang kemudian mempersiapkan diri sebelum pasukan Belanda memasuki wilayah yang telah ditentukan.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa perjuangan pada masa itu tidak hanya dilakukan oleh mereka yang membawa senjata. Masyarakat juga memiliki peran dengan memberikan informasi mengenai pergerakan pasukan lawan.
Setelah mendapatkan laporan dari warga, pasukan yang berada di Gununglurah bersiap menghadapi patroli Belanda. Sekitar 250 tentara berada di bawah komando Poedjadi. Mereka kemudian menunggu pasukan Belanda di tengah area persawahan.
Poedjadi menggunakan strategi yang disebut sebagai taktik tapel kuda. Pola tersebut digunakan untuk membuat pasukan lawan berada dalam posisi yang dapat dikepung.
Pasukan tidak langsung bergerak terbuka. Mereka menunggu hingga posisi pasukan Belanda masuk ke area yang telah dipersiapkan.
Ketika posisi dianggap tepat, serangan dilakukan dari berbagai arah. Strategi tersebut menjadi salah satu bagian yang membuat kisah pertempuran di Gununglurah terus dikenang dalam cerita masyarakat setempat.
Adapula cerita menarik mengenai sebuah peci berwarna merah yang dikaitkan dengan Poedjadi. Peci tersebut merupakan hasil tirakat di Bandayuda.
Peci itu kemudian digunakan sebagai tanda untuk memberikan instruksi kepada pasukan ketika pertempuran berlangsung.
Gerakan peci ke arah kanan menjadi tanda bagi pasukan yang berada di sebelah kanan untuk melakukan serangan.
Sebaliknya, ketika peci digerakkan ke arah kiri, pasukan di sisi kiri mendapatkan tanda untuk bergerak. Cara tersebut menjadi bentuk komunikasi sederhana di tengah situasi pertempuran.
Dengan tanda yang dapat dilihat oleh pasukan, Poedjadi dapat mengarahkan pergerakan anak buahnya tanpa harus menyampaikan perintah secara langsung kepada seluruh pasukan.
Pertempuran Gununglurah Berakhir Pertempuran akhirnya berujung pada kekalahan pasukan Belanda. Sebagian besar pasukan Belanda berhasil dikalahkan. Empat orang kemudian disisakan untuk membawa jenazah pasukan Belanda yang telah gugur dalam pertempuran.
Jenazah tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam kereta. Peristiwa itu kemudian menjadi bagian dari sejarah perjuangan di Gununglurah.
Masyarakat tidak hanya mengingat pertempuran tersebut sebagai bentrokan antara dua pasukan, tetapi juga sebagai bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan di wilayah Banyumas.
Untuk mengenang peristiwa tersebut, dibangun sebuah tugu di lokasi terjadinya pertempuran. Tugu itu kemudian dikenal sebagai Monumen Palagan Poedjadi Djaring Bandajoeda.
Keberadaan monumen menjadi penanda bahwa kawasan Gununglurah pernah menjadi salah satu tempat berlangsungnya perjuangan bersenjata pada masa mempertahankan kemerdekaan.
Nama Poedjadi yang digunakan pada monumen tersebut sekaligus mengingatkan masyarakat terhadap sosok komandan yang memimpin pasukan dalam peristiwa tersebut.
Perjalanan Poedjadi tidak berhenti setelah masa perang kemerdekaan berakhir.
Ia kemudian dipercaya menduduki berbagai posisi di lingkungan militer. Di antaranya Komandan Kompi I Yonif 431 Raiders Slawi, Wakil Komandan Yonif 432 Slawi, Komandan Yonif 442 Kudus, serta Komandan Yonif 441 Semarang.
Ia juga pernah menjadi Kepala Staf Korem 032 Bukittinggi, Perwira yang Diperbantukan kepada Pangdam VII/Diponegoro, Kepala Staf Korem 071 Wijayakusuma Purwokerto, Komandan Brigif 4 Slawi, hingga Inspektur Dam VII/Diponegoro.
Pada 1970 hingga 1972, ia merangkap sebagai anggota DPRD Jawa Tengah. Kariernya kemudian berlanjut ke pemerintahan daerah.
Poedjadi dipercaya menjadi Bupati Kepala Daerah Tingkat II Banyumas pada 1972 hingga 1978. Jabatan tersebut menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan pengabdiannya.
Ia juga pernah menjadi Kepala BP7 Banyumas, Ketua DHC Angkatan 45 Kabupaten Banyumas, Ketua Kadin Kabupaten Banyumas, Ketua Yayasan Sendang Mas, serta Ketua Yayasan Wijayakusuma.
Ia menerima Bintang Gerilya, Bintang Kartika Eka Paksi Nararya, Bintang Sewindu, Satya Lencana Bhakti, Satya Lencana Perang Kemerdekaan I dan II, serta Satya Lencana Gerakan Operasi Militer II hingga VI.
Selain itu, terdapat Satya Lencana Sapta Marga, Satya Lencana Kesetiaan 8–16 Tahun, Satya Lencana Penegak, Tanda Penghargaan Veteran Republik Indonesia, Lencana Cikal Bakal TNI, serta Lencana Darma Bhakti Gerakan Pramuka.
Deretan penghargaan tersebut menjadi bagian dari catatan panjang pengabdiannya di lingkungan militer maupun masyarakat.
Poedjadi Djaring Bandajoeda memiliki perjalanan hidup yang panjang dalam sejarah Banyumas.
Ia pernah berada di medan pertempuran, memimpin pasukan dalam berbagai operasi, menjalankan sejumlah jabatan militer, kemudian dipercaya menjadi Bupati Banyumas.
Sementara itu, di Gununglurah, namanya tetap dikenang melalui sebuah monumen.
Monumen tersebut menjadi pengingat bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan juga berlangsung di tengah masyarakat desa.
Warga memberikan informasi, para pejuang menyusun strategi, dan medan persawahan menjadi tempat berlangsungnya pertempuran.
Bagi Anda yang melihat Monumen Palagan Poedjadi Djaring Bandajoeda, kisah di baliknya bukan sekadar tentang sebuah bangunan.
Di sana terdapat cerita tentang seorang pejuang, masyarakat yang ikut membantu, serta perjuangan panjang mempertahankan kemerdekaan di Banyumas.