Jumat, 24 September 2021

Festival Film Purbalingga Digelar Secara Daring, Begini Perinciannya

Festival Film Purbalingga tahun 2020. (Amin)

Pandemi tak menghalangi pegiat film untuk terus berkarya. Memasuki tahun ke 15, Festival Film Purbalingga (FFP) tahun 2021 akan di gelar bulan ini. Hanya saja, dengan terpaksa program tahunan Cinema Lovers Community (CLC) ini sepenuhnya akan digelar secara daring.


Purbalingga, serayunews.com

Direktur FFP Bowo Leksono menyampaikan, FFP tahun ini akan dilaksanakan Agustus ini. FFP dilaksanakan sepekan, mulai dari tanggal 21-28 dan sepenuhnya dilaksanakan secara daring.

“Pageblug Covid-19 yang memasuki tahun kedua ini belum menurun, malah sebaliknya. Untuk itu, kami memutuskan seluruh penyelenggaraan FFP secara virtual,” kata Bowo.

Disampaikan bahwa bagi penonton dapat mengapresiasi program FPP 2021 melalui kanal youtube Misbar Purbalingga dan aplikasi zoom. Kanal youtube dipergunakan untuk program pembukaan dan malam penganugerahan, sementara aplikasi zoom meeting untuk program lainnya. Untuk mendapatkan tautan zoom dapat diperoleh dengan cara mendaftar melalui laman bit.ly/nontonffp2021.

“Kita yang harus menyesuaikan keadaan. Bagaimana agar program kerja tetap bisa berjalan, tanpa melanggar aturan yang ada,” ujarnya.

Programmer FFP Asep Triyatno mengatakan, program film pelajar favorit penonton yang tahun lalu sempat ditiadakan, pada FFP tahun ini kembali diadakan.

“Penonton akan memilih film favorit lewat aplikasi zoom meeting usai menonton film-filmnya,” katanya.

Pada program non-kompetisi, ada 31 film yang terkirim dari berbagai kota di Indonesia, seperti Tangerang, Jakarta, Cianjur, Tegal, Brebes, Semarang, Klaten, Wonogiri, Malang, Blitar, Banyuwangi, Gianyar, Sintang, dan Banyumas Raya sendiri.

Programmer FFP mengurasi 31 film fiksi, dokumenter, dan animasi menjadi 10 film untuk program non-kompetisi yang dijadikan dua program pemutaran. Ada program khusus pemutaran animasi dari Ark Animasi Studio Tegal.

Untuk program pemutaran dan diskusi focus on Ismail Basbeth yang kini rajin menyutradarai film panjang dan Chairunnisa sutradara perempuan berbakat. Mereka berdua juga dilibatkan sebagai juri kompetisi pelajar.

Program khusus lain, lanjut Asep, berupa bedah buku berjudul “Perlawanan Film-Film Banyumas terhadap Orde Baru” karya Muhammad Taufiqurrohman dkk, dosen FIB Unsoed Purwokerto.

“Ini buku pertama yang utuh berbicara soal perfilman Banyumas Raya,” jelasnya.

Selain pentas seni tradisi dan modern pada pembukaan dan malam penganugerahan, juga dipertahankan program penghargaan Lintang Kemukus bagi seniman tradisi dan modern. Penghargaan ini sebagai bentuk penghormatan pegiat film di Banyumas Raya kepada para seniman pendahulunya.

Tahun ini, FFP terus bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Purbalingga. Selain itu juga didukung Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.

Berita Terkait

Berita Terkini