
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS — Festival Kopi yang menjadi bagian dari rangkaian Dieng Culture Festival (DCF) 2026 lalu tak sekadar menjadi ruang promosi kopi lokal. Gelaran tersebut mencatat transaksi bernilai besar dengan kontrak pemesanan biji kopi mencapai Rp15 miliar.
Nilai tersebut berasal dari pesanan berbagai jenis kopi, mulai Arabika, Robusta, hingga kopi lokal khas Banjarnegara. Total volume kontrak mencapai sekitar 150 ton dengan pengiriman yang dijadwalkan berlangsung sepanjang 2027.
Selain kontrak jangka panjang, transaksi langsung selama festival juga tercatat sekitar Rp80 juta, baik dari penjualan kopi siap minum maupun biji kopi kering.
Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Banjarnegara, Firman Sapta Adi, mengatakan capaian tersebut tidak lepas dari peran Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) bersama berbagai pemangku kepentingan sektor kopi.
Festival Kopi DCF 2026 juga menjadi ajang mempertemukan pelaku usaha kopi dari berbagai daerah di Indonesia.
“Pada Festival Kopi DCF kemarin kami mengundang 14 kabupaten se-Indonesia. Bahkan ada peserta dari NTT yang meski sedang terkena bencana tetap datang ke Banjarnegara,” katanya, Jumat (4/9/2026).
Menurutnya, pelaku kopi dari Sumatera dan Kalimantan turut hadir melalui dukungan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan HAM serta Bank Indonesia.
Kehadiran pelaku usaha dari berbagai wilayah tersebut membuka peluang terjadinya jejaring bisnis sekaligus memperluas pasar kopi Banjarnegara.
Firman mengatakan pembahasan dalam festival tidak hanya berfokus pada perdagangan kopi. Berbagai aspek dikupas secara menyeluruh, mulai dari budidaya, pemberdayaan petani, kelembagaan, pasar, hingga hilirisasi.
Langkah tersebut penting untuk memperkuat ekosistem kopi lokal agar produk yang dihasilkan tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi memiliki nilai tambah dan daya saing di pasar yang lebih luas.
Dari sisi produksi, sentra kopi Arabika Banjarnegara berada di kawasan dataran tinggi, antara lain Kalibening, Pejawaran, sebagian Pagentan, Wanayasa, dan Karangkobar. Sementara kopi Robusta banyak dikembangkan di wilayah dengan karakter dataran yang lebih panas, seperti Pagedongan dan Susukan.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara, Tursiman, mengapresiasi kolaborasi lintas sektor yang terbangun melalui Festival Kopi DCF 2026.
Menurutnya, integrasi festival kopi dengan DCF menunjukkan bahwa pariwisata, kebudayaan, pertanian, dan ekonomi kreatif dapat berjalan beriringan untuk menciptakan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Festival tersebut sekaligus menjadi sarana memperkenalkan potensi kopi Banjarnegara kepada wisatawan dan pelaku industri dari berbagai daerah.
Pemerintah bersama para pemangku kepentingan pun berkomitmen melanjutkan pengembangan dan promosi kopi lokal secara berkala, terutama untuk memperluas akses pasar nasional maupun internasional.
Dengan potensi produksi dan kualitas yang dimiliki, kopi Banjarnegara diharapkan semakin memiliki posisi kuat di pasar sekaligus menjadi salah satu penggerak ekonomi kreatif dan kesejahteraan masyarakat daerah.