
SERAYUNEWS – Gerhana bulan merupakan fenomena astronomi yang terjadi ketika Bumi berada di antara Matahari dan Bulan dalam satu garis lurus.
Dalam posisi tersebut, cahaya Matahari yang seharusnya dipantulkan oleh Bulan terhalang oleh Bumi. Akibatnya, sebagian atau seluruh permukaan Bulan tertutup bayangan Bumi.
Secara ilmiah, bayangan Bumi terdiri dari dua bagian, yaitu umbra dan penumbra. Umbra adalah bagian inti bayangan yang paling gelap, sedangkan penumbra merupakan bayangan samar di sekelilingnya. Saat Bulan masuk sepenuhnya ke dalam umbra, terjadilah gerhana bulan total.
Menariknya, ketika gerhana bulan total berlangsung, Bulan tidak benar-benar gelap. Warna kemerahan justru muncul di permukaannya.
Fenomena ini sering disebut sebagai “Bulan Darah”. Warna merah tersebut terjadi karena atmosfer Bumi menyaring cahaya Matahari. Cahaya biru tersebar, sementara cahaya merah dan oranye tetap diteruskan menuju Bulan.
Fenomena ini telah diamati para astronom dan pengamat langit di berbagai belahan dunia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyebut gerhana bulan total akan terjadi di Indonesia pada tanggal 3 Maret 2026.
Gerhana Bulan Pertanda Apa dalam Islam?
Dalam ajaran Islam, gerhana bulan bukan sekadar peristiwa alam biasa. Fenomena ini dipahami sebagai salah satu tanda kebesaran Allah SWT.
Al-Qur’an menyebut gerhana sebagai bagian dari ayat-ayat atau tanda kekuasaan-Nya, sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Qiyamah ayat 6–9.
Rasulullah SAW juga memberikan penjelasan tegas terkait makna gerhana. Dalam hadis riwayat Muhammad yang tercantum dalam Sahih al-Bukhari, beliau bersabda bahwa matahari dan bulan tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Keduanya adalah tanda kebesaran Allah.
Hadis tersebut muncul dalam konteks penting. Saat putra Rasulullah, Ibrahim, wafat, kebetulan terjadi gerhana matahari.
Sebagian masyarakat saat itu mengaitkannya dengan kematian sang putra. Namun Nabi secara tegas membantah anggapan tersebut dan memerintahkan umatnya untuk melaksanakan salat dan berdoa ketika melihat gerhana.
Penegasan ini menjadi bukti bahwa Islam menolak tafsir mistis dan takhayul terhadap fenomena alam.
Sejarah Pensyariatan Salat Gerhana
Pensyariatan salat gerhana (shalat khusuf untuk gerhana bulan) memiliki beberapa pendapat di kalangan ulama. Sebagian menyatakan salat gerhana disyariatkan pada tahun kesepuluh Hijriah, bertepatan dengan wafatnya Ibrahim.
Sementara ulama mazhab Syafi’i berpendapat bahwa salat gerhana matahari disyariatkan pada tahun kedua Hijriah dan gerhana bulan pada tahun kelima Hijriah.
Perbedaan pendapat ini menunjukkan dinamika ijtihad para ulama dalam memahami sejarah hukum Islam.
Namun yang pasti, salat gerhana merupakan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan ketika fenomena tersebut terjadi.
Tata Cara dan Anjuran Saat Terjadi Gerhana
Salat gerhana bulan dilakukan sebanyak dua rakaat. Bacaan dalam salat ini dianjurkan dikeraskan. Beberapa ulama juga membolehkan pengulangan dua rakaat hingga gerhana berakhir.
Selain salat, Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak doa, istighfar, dan sedekah.
Dalam hadis lain disebutkan bahwa Allah menjadikan gerhana sebagai sarana untuk menumbuhkan rasa takut dan kesadaran spiritual hamba-Nya.
Dengan demikian, gerhana menjadi momentum refleksi diri, bukan ajang spekulasi atau penyebaran mitos.
Bantahan Islam terhadap Mitos Jahiliyah
Sebelum Islam datang, masyarakat Arab memiliki keyakinan bahwa gerhana berkaitan dengan kematian tokoh besar.
Keyakinan ini bahkan terekam dalam sejumlah riwayat. Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan Ibnu Hibban, disebutkan bahwa anggapan tersebut adalah kebohongan.
Islam secara tegas mematahkan mitos jahiliyah tersebut. Nabi Muhammad SAW mengarahkan umat untuk melihat gerhana sebagai fenomena alam yang tunduk pada hukum Allah, bukan akibat peristiwa kehidupan manusia.
Langkah ini bukan hanya membangun kesadaran teologis, tetapi juga mendorong pola pikir rasional.
Islam tidak menolak sains, justru sejalan dengan penjelasan ilmiah tentang bagaimana gerhana terjadi. Yang ditolak adalah takhayul yang tidak berdasar.
Demikian informasi tentang gerhana bulan dalam perspektif islam. Semoga bermanfaat.****











