
CILACAP, SERAYUNEWS – Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap memastikan ketersediaan air untuk lahan pertanian masih aman meski wilayah tersebut mulai memasuki musim kemarau. Kondisi ini diyakini mampu mendukung pertumbuhan tanaman padi hingga memasuki masa panen pada Agustus-September 2026.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Sigit Widayanto, mengatakan intensitas hujan memang mulai menurun. Bahkan, di sejumlah wilayah sudah hampir satu bulan tidak diguyur hujan. Namun, kondisi tersebut belum berdampak terhadap kebutuhan air bagi lahan pertanian yang saat ini memasuki Musim Tanam (MT) III.
“Untuk wilayah yang sudah tanam, masih aman. Padi itu tidak setiap waktu membutuhkan air dalam jumlah banyak. Ada fase-fase tertentu yang kebutuhan airnya lebih sedikit. Sementara ini kondisinya masih aman,” ujarnya, Sabtu (4/7/2026).
Menurutnya, ketersediaan air juga didukung pengaturan distribusi melalui jaringan irigasi yang telah disesuaikan dengan pola tanam petani.
Sigit menjelaskan, pemerintah bersama Komisi Irigasi telah mengatur jadwal penutupan saluran irigasi di Daerah Irigasi (DI) Menganti, DI Serayu, maupun saluran irigasi Serayu. Penjadwalan tersebut dilakukan agar pasokan air tetap tersedia sesuai kebutuhan tanaman di lapangan.
“Jadwal penutupan saluran irigasi sudah disesuaikan dengan pola tata tanam yang dilaksanakan masyarakat. Jadi untuk tanaman yang sudah berjalan saat ini masih aman sampai nanti memasuki masa panen,” ujarnya.
Selain mengoptimalkan distribusi air, Dinas Pertanian juga terus mendorong pemanfaatan lahan yang belum ditanami padi melalui berbagai program penyediaan air. Langkah itu dilakukan untuk meningkatkan luas tanam selama musim kemarau sekaligus mendukung target produksi padi tahun ini.
Di sisi lain, bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) dari Kementerian Pertanian juga dimanfaatkan guna mempercepat pengolahan lahan sehingga pelaksanaan musim tanam dapat berlangsung lebih optimal.
Meski kondisi air dinilai aman, Dinas Pertanian memperkirakan target Luas Tambah Tanam (LTT) pada Juni 2026 sulit tercapai. Dari target 23.126 hektare yang ditetapkan Kementerian Pertanian, realisasi diperkirakan hanya sekitar 10 ribu hektare.
Sigit menjelaskan kondisi tersebut disebabkan sebagian besar lahan sawah di Kabupaten Cilacap telah menyelesaikan masa tanam sehingga ruang untuk penambahan luas tanam menjadi terbatas.
“Kelihatannya agak berat mencapai target 23 ribu hektare karena sebagian besar sawah di Kabupaten Cilacap sudah tutup tanam. Prediksi kami bulan Juni paling sekitar 10 ribu hektare,” jelasnya.
Meski demikian, capaian kinerja sepanjang Januari hingga Mei 2026 dinilai cukup menggembirakan. Selama lima bulan pertama tahun ini, realisasi luas tambah tanam berada pada kategori hijau atau melampaui 80 persen dari target bulanan.
Untuk tahun 2026, Kabupaten Cilacap mendapat target luas tanam sekitar 174 ribu hektare. Dengan luas baku sawah sekitar 66 ribu hektare, pemerintah menargetkan indeks pertanaman meningkat dari 2,1 menjadi 2,6 kali tanam dalam setahun.
Sigit mengakui tidak tercapainya target luas tambah tanam akan berpengaruh terhadap target produksi padi. Karena itu, berbagai upaya terus dilakukan agar capaian tetap berada di atas 80 persen.
“Kalau LTT tidak tercapai, otomatis target produksi juga tidak tercapai. Makanya kita terus berupaya agar pencapaiannya minimal di atas 80 persen sehingga produksi tetap terjaga,” katanya.
Ia optimistis Kabupaten Cilacap tetap mampu mempertahankan status sebagai daerah surplus beras pada 2026.
“Insyaallah kita masih surplus untuk padi di tahun 2026. Kalau target luas tambah tanam minimal tercapai 80 persen, surplusnya akan semakin besar,” ujar Sigit.
Sigit memperkirakan tanaman padi yang saat ini memasuki musim tanam akan mulai dipanen pada Agustus hingga September 2026, sehingga kebutuhan pangan masyarakat tetap dapat terpenuhi meski musim kemarau mulai berlangsung.