
PURWOKERTO, SERAYUNEWS– Universitas Terbuka (UT) Purwokerto menggelar Halaqah Ekonomi Syariah bertema “Akses Terbuka untuk Kemaslahatan Bersama: Membangun Inklusivitas Ekonomi Syariah di Lingkungan UT”, Senin (24/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang dialog untuk membahas pengembangan ekonomi syariah di lingkungan perguruan tinggi umum, sekaligus mempertemukan kalangan akademisi, praktisi, pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan dan keagamaan, mahasiswa, serta mitra kelembagaan.
Halaqah tersebut juga menjadi momentum memperkuat jejaring dan kerja sama antara UT dengan sejumlah perguruan tinggi dan lembaga, termasuk UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, BAZNAS RI, serta berbagai perguruan tinggi di Banyumas Raya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Banyumas Drs. H. Sadewo Tri Lastiono, M.M., Ketua Umum Yayasan/Paguyuban Serulingmas (Seruan Eling Banyumas) Dr. H. Wisnu Suhardono, S.E., M.Si., perwakilan BAZNAS Republik Indonesia, para pimpinan perguruan tinggi, tokoh masyarakat, akademisi, civitas akademika UT Purwokerto, serta para praktisi ekonomi syariah.
Direktur UT Purwokerto, Dr. Prasetyarti Utami, S.Si., M.Si., mengatakan halaqah tersebut diharapkan dapat membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai ekonomi syariah, tidak hanya dari sisi teori, tetapi juga peluang penerapannya dalam pendidikan dan pengembangan ekonomi masyarakat.
“Melalui halaqah ini, kami ingin membangun pemahaman bersama dan membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak. Harapannya, dari forum ini bisa muncul masukan dan rekomendasi yang dapat menjadi bahan pengembangan ekonomi Islam di Universitas Terbuka,” ujar Dr. Tami.
Sebelum pelaksanaan halaqah, rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama dan ziarah ke makam R.M. Margono Djojohadikusumo. Kegiatan tersebut dinilai memiliki keterkaitan dengan visi inklusivitas UT sekaligus semangat perjuangan tokoh ekonomi dan patriotik asal Banyumas tersebut.
Spirit tersebut dinilai sejalan dengan visi Universitas Terbuka sebagai perguruan tinggi terbuka dan jarak jauh yang memperluas akses pendidikan tinggi bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa batas.
Semangat membuka akses, mendidik dan memberdayakan masyarakat tersebut kemudian dipertautkan dengan nilai-nilai perjuangan R.M. Margono, khususnya mengenai kemandirian ekonomi, keadilan sosial dan keberpihakan terhadap masyarakat.
Dalam konteks tersebut, ekonomi syariah dipandang memiliki relevansi karena membawa prinsip keadilan, pemerataan, transparansi dan kemaslahatan bersama.
Kehadiran Ketua Umum Yayasan/Paguyuban Serulingmas, Dr. H. Wisnu Suhardono, S.E., M.Si., juga menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut.
Serulingmas dinilai dapat menjadi salah satu simpul penguat kerja sama lokal sekaligus wadah untuk melestarikan nilai-nilai perjuangan R.M. Margono Djojohadikusumo.
Sinergi UT Purwokerto dengan Serulingmas diharapkan dapat ikut membumikan konsep ekonomi syariah agar tidak berhenti di lingkungan akademik, tetapi dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Banyumas dan sekitarnya.
Hal tersebut sejalan dengan tujuan utama halaqah, yakni membangun pemahaman kolektif mengenai pentingnya inklusivitas ekonomi syariah yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas serta memperkuat keterlibatan perguruan tinggi dalam membangun ekosistem ekonomi yang berkeadilan, transparan dan mengedepankan semangat gotong royong.
Dalam sambutannya, Bupati Banyumas Drs. H. Sadewo Tri Lastiono, M.M., menyampaikan apresiasi terhadap UT Purwokerto yang telah menginisiasi forum diskusi mengenai ekonomi syariah.
Ia berharap forum tersebut tidak hanya membahas konsep ekonomi syariah secara normatif, tetapi juga berani mengkaji berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.
Salah satu hal yang menurutnya menarik untuk dibahas adalah praktik perbankan syariah, khususnya mengenai konsep bagi hasil dan pembagian risiko.
Sadewo berharap para akademisi dan praktisi yang hadir dapat memberikan penjelasan secara objektif mengenai anggapan yang berkembang di masyarakat bahwa bank syariah menerapkan sistem bagi hasil dan berbagi risiko, tetapi pada praktik tertentu justru memiliki margin yang dinilai lebih tinggi dibandingkan bank konvensional.
“Ini menjadi bahan yang menarik untuk didiskusikan. Apakah benar kalau di bank syariah hanya bagi hasil dan tidak bagi risiko? Kemudian, mengapa dalam praktiknya margin di bank syariah justru ada yang dinilai lebih besar dibandingkan bank konvensional?” kata Sadewo dalam sambutannya.
Menurutnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dibahas secara akademis agar masyarakat memperoleh pemahaman yang utuh mengenai prinsip, mekanisme dan praktik ekonomi syariah.
Selain persoalan perbankan syariah, Sadewo juga berharap keberadaan UT Purwokerto semakin berkembang dan mampu memperkuat posisi Purwokerto sebagai salah satu kota pendidikan utama di Jawa Tengah.
Ia berharap perkembangan UT Purwokerto dapat ikut mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat ekosistem pendidikan tinggi di Banyumas.
“Harapannya UT Purwokerto semakin berkembang dan Purwokerto bisa menjadi kota pendidikan nomor dua di Jawa Tengah,” ujarnya.
Sejumlah topik strategis dibahas dalam halaqah tersebut. Di antaranya peran filantropi Islam dalam pengembangan ekonomi, ekonomi Islam dalam menghadapi tantangan ekonomi global, pengembangan kurikulum Ekonomi Islam, hingga peluang dan tantangan pembukaan Program Studi Ekonomi Islam di perguruan tinggi umum.
Selain itu, aspek integritas juga menjadi perhatian. Salah satu sesi membahas pentingnya amanah dan integritas akuntan syariah, termasuk upaya mencegah fraud dalam pengelolaan aktivitas ekonomi syariah.
Sejumlah narasumber hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Prof. Ojat Darojat, M.Bus., Ph.D. sebagai keynote speaker, KH Muhammad Hazbi Zaenal, Ph.D. dari BAZNAS RI, Dr. KH. Luthfi Hamidi, M.A. dari UNU Al-Ghazali, serta Prof. Dr. Ibnu Qizam, M.Si., Ak., CA. dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Jakarta.
Hadir pula Associate Prof. Akhmad Darmawan, S.E., M.Si., Ph.D., Associate Prof. Dr. Hj. Erika Amelia Kamil, S.E., M.Si., serta Dr. Prasetyarti Utami, S.Si., M.Si. yang memberikan rekomendasi dan masukan terkait pengembangan kurikulum Ekonomi Islam di Universitas Terbuka.
Melalui integrasi konsep akses terbuka, optimalisasi dana sosial keagamaan bersama BAZNAS RI, dukungan pemerintah, serta kemitraan dengan Serulingmas dan perguruan tinggi di Banyumas Raya seperti Unsoed, UIN, UNU dan UMP, UT Purwokerto menyatakan kesiapan untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun ekosistem akademik dan masyarakat yang mandiri, inklusif dan berkeadilan.
Rangkaian kegiatan juga diisi dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Universitas Terbuka dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Kerja sama tersebut diharapkan menjadi bagian dari penguatan jejaring akademik dan kelembagaan kedua institusi, khususnya dalam pengembangan pendidikan, kurikulum dan kajian ekonomi Islam.
Pada sesi akhir, peserta menyusun rekomendasi dan masukan untuk pengembangan kurikulum Ekonomi Islam di Universitas Terbuka.
Hasil diskusi diharapkan tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi dapat menjadi bahan tindak lanjut dalam pengembangan pendidikan ekonomi Islam di lingkungan UT.
Dr. Tami mengatakan, kegiatan tersebut juga merupakan bagian dari upaya memperkuat posisi perguruan tinggi sebagai ruang yang terbuka terhadap perkembangan kebutuhan masyarakat, termasuk dalam bidang ekonomi syariah.
“Yang kami harapkan bukan hanya terlaksananya kegiatan, tetapi juga terbangunnya jejaring komunikasi dan kolaborasi yang berkelanjutan. Dengan begitu, pengembangan ekonomi syariah dapat dilakukan secara lebih inklusif dan memberikan manfaat yang lebih luas,” pungkasnya.