
SERAYUNEWS – Pelaku usaha oleh-oleh di Purwokerto kini tengah menghadapi tekanan berat. Lonjakan harga plastik kemasan yang nyaris dua kali lipat menjadi pukulan telak, bahkan dampaknya dinilai lebih berat ketimbang kenaikan harga kedelai.
Kondisi ini dirasakan langsung oleh Nanda Amalia Kuswanda, pemilik Galeri Eco 21 di kawasan wisata Sawangan. Ia mengungkapkan bahwa biaya operasional usahanya membengkak akibat kenaikan dua komponen utama: kedelai dan plastik.
“Bahan baku naik, otomatis kami juga harus menaikkan harga. Dampaknya tentu terasa,” ujar Nanda, Selasa (7/4/2026).
Nanda merinci, lonjakan paling tajam terjadi pada plastik kemasan. Sebelumnya, satu pak plastik isi 50 lembar hanya dibanderol Rp42.000, namun kini melonjak menjadi Rp72.000.
Dengan kebutuhan operasional mencapai tiga pak atau 150 lembar per hari, Nanda harus merogoh kocek hingga Rp216.000 hanya untuk urusan plastik. Di sisi lain, harga kedelai pun terus merangkak naik meski secara bertahap.
“Kalau kedelai memang naiknya bertahap, tapi tetap merisaukan,” ujarnya.
Situasi ini menempatkan pelaku usaha di posisi sulit. Menaikkan harga jual berisiko menurunkan daya beli masyarakat, namun bertahan dengan harga lama akan menggerus keuntungan.
“Kalau harga terlalu tinggi dan tidak terjangkau, otomatis ekonomi bisa lesu. Konsumen juga akan berpikir ulang untuk membeli,” katanya.
Sebagai langkah awal, Nanda telah melakukan penyesuaian harga kecil. Produk keripik tempe yang semula Rp19.000 kini dijual Rp20.000 per bungkus. Ia menyebut kenaikan ini dipicu oleh harga bahan baku yang sudah tidak stabil sejak sebelum Lebaran.
Biasanya, harga bahan baku akan melandai setelah momen Lebaran usai. Namun tahun ini, trennya justru terbalik.
“Biasanya setelah Lebaran turun, tapi ini malah naik lagi. Jadi kami masih menunggu, sambil melihat perkembangan harga dari pabrik plastik,” kata dia.
Saat ini, Galeri Eco 21 mampu memproduksi 50 hingga 100 bungkus keripik tempe setiap harinya. Nanda menegaskan bahwa plastik dan kedelai kini menjadi faktor krusial bagi keberlangsungan usahanya. Tanpa adanya kestabilan harga, pelaku usaha kecil terancam kian terjepit di tengah tingginya biaya produksi dan melemahnya daya beli.