
SERAYUNEWS-Desa Klampok, Kecamatan Purwareja Klampok, Kabupaten Banjarnegara menggelar Festival Kupat Landan dan Tahu Kiringan pada Sabtu (2/5/2026). Kegiatan ini menjadi ajang pelestarian kuliner tradisional sekaligus upaya memperkuat ekosistem budaya dan ekonomi masyarakat setempat.
Kepala Desa Klampok, Agus Supriyono, menyampaikan bahwa ribuan sajian khas desa tersebut disiapkan dalam festival ini. Sebanyak 3.000 kupat landan dan 6.000 tahu kiringan diproduksi oleh warga, dengan sebagian diarak keliling desa sebagai simbol rasa syukur.
“Sebanyak 1.000 kupat landan dan 1.000 tahu kiringan dikirab oleh warga sebelum dibagikan kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan, festival ini tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga berdampak nyata terhadap peningkatan ekonomi warga. Di Desa Klampok, terdapat sekitar 25 perajin tahu kiringan dan 20 pembuat kupat landan yang terus mempertahankan produksi tradisional tersebut.
Menurut Agus, kupat landan memiliki keunikan tersendiri dibanding ketupat pada umumnya. Proses pembuatannya menggunakan campuran air abu pelepah kelapa, yang berfungsi sebagai pewarna alami, memberikan aroma khas, serta membuat teksturnya lebih tahan lama dengan warna kecokelatan.
“Melalui festival ini, kami ingin memperkenalkan kupat landan dan tahu kiringan agar semakin dikenal masyarakat luas,” katanya.
Anggota DPRD Jawa Tengah, Zaki Mubarok, yang turut hadir dalam acara tersebut menekankan pentingnya pelestarian kuliner dan kesenian tradisional agar mampu bersaing di tingkat nasional hingga internasional.
Ia mengungkapkan, kupat landan dan tahu kiringan saat ini tengah diusulkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Selain itu, pihaknya juga mendorong adanya regulasi prioritas kebudayaan pada tahun 2026 guna mendukung pengembangan infrastruktur pariwisata.
“Kolaborasi antara kuliner khas dan kesenian tradisional menjadi daya tarik wisata yang potensial sekaligus menjaga nilai-nilai budaya,” katanya.
Festival ini juga dimeriahkan dengan pertunjukan Tari Aplang, yang menjadi bagian dari kekayaan seni tradisional daerah tersebut.
Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disparbud Banjarnegara, Kuat Herry Isnanto, menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan festival, khususnya dari sisi penguatan gastronomi lokal.
“Kami mendukung penuh. Kupat landan dan tahu kiringan sedang dalam proses pengajuan sebagai WBTB. Harapannya bisa memberikan dampak besar seperti kuliner khas daerah lain yang telah dikenal luas,” ujarnya.
Dengan menggabungkan potensi kuliner dan seni tradisional, Festival Kupat Landan dan Tahu Kiringan diharapkan mampu menjadi agenda wisata unggulan yang tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga menggerakkan perekonomian masyarakat di Banjarnegara.