
BANYUMAS, SERAYUNEWS – Gerimis dan kabut tipis yang turun di Bumi Perkemahan Wana Wisata Baturraden, Banyumas, Sabtu (27/6/2026) malam itu tidak mendinginkan suasana. Meski sempat tertunda sejenak akibat hujan deras yang mengguyur, antusiasme ratusan pencinta musik yang memadati area venue justru kian menghangat. Malam itu, Jazz Gunung Slamet resmi menandai tahun ketiganya menembus batas ruang konser konvensional.
Bagi para penikmatnya, festival ini bukan sekadar panggung musik biasa. Penonton yang datang pun bukan hanya warga lokal Purwokerto, melainkan penjelajah melodi dari berbagai penjuru tanah air. Mereka rela menembus dinginnya udara gunung demi sebuah romansa visual dan audio yang langka.
“Konser musik di tengah hutan, dan perpaduan lighting-nya bagus,” ujar Indah, warga Purwokerto yang sengaja datang bersama rekannya.
Menonton Jazz Gunung Slamet ini merupakan kali keduanya bagi Indah. Menurutnya kombinasi apik antara aransemen jazz yang elegan, barisan pohon pinus yang menjulang, dan permainan lampu panggung yang dramatis memberikan pengalaman menonton yang magis dan berbeda. Daya tarik itu kian lengkap dengan kehadiran grup musik idolanya, Nonaria dan Mocca.
Malam itu dibuka dengan manis oleh petikan nada dari Amelia Ong. Suasana kian hidup saat giliran Nonaria, Emptyyy, serta Kevin Yosua Big 6 feat. Gracy Tamangendar mengambil alih panggung. Sebagai gong penutup, Mocca tampil memukau dan menuntaskan kerinduan penonton yang telah menanti hingga pengujung acara.

CEO Jazz Gunung, Bagas Indyatmono, menjelaskan bahwa tahun ini mereka mengusung konsep “Jazztination”. Sebuah perkawinan apik antara musik jazz dan kekuatan destinasi wisata. Lewat konsep ini, penonton diajak melintasi batas konser biasa menuju pengalaman berwisata yang utuh di kawasan Baturraden.
“Acara berlangsung aman, lancar, dan penonton antusias, walaupun tadi sempat gerimis. Karena cuaca juga, tadi break-nya kami majukan, baru kemudian dilanjut penampilan para musisi sampai terakhir,” kata Bagas.
Namun, kejutan terbesar tahun ini bukan hanya soal aransemen musik. Di sudut area, penyelenggara menghadirkan pasar UMKM dan spot kuliner unik bertajuk “Kampung Durian”. Di sini, para pengunjung, khususnya pemegang tiket VIP, bisa menikmati legitnya berbagai jenis durian lokal Banyumas sembari telinga mereka dimanjakan oleh improvisasi saksofon dan piano.
“Ini pertama kali di dunia bisa nonton konser jazz sambil makan durian,” ujar Bagas.
Melihat sambutan hangat yang memenuhi Wana Wisata Baturraden malam itu, Bagas melempar sinyal hijau bagi para pencinta musik tanah air. Dengan karakter alam Baturraden yang begitu menyatu dengan jiwa Jazz Gunung, Kabupaten Banyumas dipastikan bersiap kembali menjadi tuan rumah bagi edisi Jazz Gunung Series berikutnya.