Sabtu, 31 Juli 2021

Hasil Kerajinan Napi Lapas Permisan Nusakambangan Dipajang di Galeri Wijayakusuma, Yuk Cek Apa Saja! 

Galeri Wijayakusuma Lapas Permisan Nusakambangan (Ulul Azmie)

Hasil kerajinan dan keterampilan warga binaan Lapas Kelas IIA Permisan Nusakambangan dipromosikan lewat Galeri Wijayakusuma. Galeri ini diresmikan oleh Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemenkumham Jawa Tengah A Yuspahruddin, Sabtu (19/06/2021).


Nusakambangan, serayunews.com

Peresmian Galeri Wijayakusuma ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pengguntingan pita oleh Kakanwil Kemenkumham Jawa tengah A Yuspahruddin dihadiri Kadiv Pemasyarakatan, Kadiv Administrasi, Koordinator Lapas se-Nusakambangan dan Kepala UPT wilayah Nusakambangan Cilacap.

Galeri Wijayakusuma yang terletak di halaman depan Lapas Kelas IIA Lapas Permisan Nusakambangan tersebut, merupakan display aneka kerajinan hasil karya warga binaan lapas setempat. Hasil karya yang dipajang mulai dari kain batik, kaligrafi, kaos sablon, sabun, jam dinding, keset dan hasil kerajinan lainnya.

Galeri dibuat untuk memudahkan masyarakat luar, rekanan maupun instansi untuk meninjau secara langsung. Karena di galeri ditampilkan proses melalui media televisi, dimana proses produksi seperti batik dan keterampilan lain merupakan hasil kreatifitas warga binaan itu sendiri, sehingga pengunjung tidak perlu lagi masuk ke dalam lapas.

Kakanwil Kemenkumham Jawa Tengah A Yuspahruddin menyambut baik didirikannya Galeri Wijayakusuma tersebut. Ia akan mensosialisasikan kepada UPT lain se-Jawa Tengah, agar ide tersebut bisa diimplementasikan dan dikreasikan dengan nuansa yang berbeda.

“Saya apresiasi ide yang luar biasa saya mesti dukung, saya minta kabupaten seluruh Jawa Tengah ikut mensosialisasikan dan menghidupkan galeri ini, bahwa tempat di ujung Pulau Nusakambanhan ini, Kalapas Permisan memiliki ide membangun galeri ini,” ujar Kakanwil Yuspahruddin kepada awak media.

Kakanwil menambahkan, bahwa Lapas Kelas IIA Permisan Nusakambangan ini merupakan Lapas Medium Security, di dalamnya terdapat pembinaan kemandirian, warga binaan dilatih keterampilan sebagai bekal saat keluar dan menunjang kehidupannya.

Sedangkan untuk mempromosikam hasil karya yang dipajang dalam galeri tersebut, ia meminta kepada Koordinator Lapas se-Nusakambangan, agar setiap tamu yang berkunjung untuk diarahkan ke galeri tersebut.

Kakanwil Kemenkumham Jawa Tengah Resmikan Galeri Wijayakusuma Lapas Permisan Nusakambangan (Ulul Azmie)

Warga binaan sedang membuat kaligrafi (Ulul Azmie)

“Saya juga beli, karena saya suka dengan warna batiknya, kualitasnya juga baik, sama dengan baju yang saya pakai sekarang, saya juga ajak ke UPT lain untuk berkreasi,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Lapas se-Nusakambangan Jalu Yuswa Panjang melalui Kepala Lapas Permisan Sopian mengatakan, dari jumlah 448 warga binaan di Permisan baru sekitar 120 orang yang mengikuti pelatihan keterampilan. Menurutnya, pelaksanaan dinilai belum maksimal mengingat keterbatasan tempat dan SDM yang ada.

Ia mengatakan,  bahwa semua warga binaan memiliki hak yang sama dalam mengembangkan diri mereka baik yang pidana mati, seumur hidup maupun pidana sementara, mulai dari terpidana kasus narkoba, teroris maupun pidana umum. Pelatihan keterampilan yang diikuti warga binaan meliputi membuat batik, kaligrafi, sablon, menjahit, membuat roti (bakery), membuat sabun, keset, dan sejumlah kerajinan lainnya yang berjumlah sekitar 11 jenis kegiatan.

“Potensi yang diunggulkan batik, karena batik sudah cukup lama dan menyerap tenaga yang lebih banyak dari pada yang lain. Harapan saya, target keluar dari situ bisa memiliki kegiatan yang sifatnya produktif,” ujarnya.

Pembuatan batik di Lapas Permisan Nusakambangan (Ulul Azmie)

Menurutnya, batik khas yang dikembangkan yakni batik suket teki, harga yang ditawarkan juga terjangkau mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 120 ribu tergantung motifnya. Saat ini juga pihaknya sedang mengambangkan batik motif Corona. Menurutnya pesanan batik sangat meningkat, sehingga belum bisa memenuhi seluruh permintaan pasar.

Salah satu warga binaan asal Banjarmasin Supangat Riyadi mengatakan, bahwa ia mengikuti pelatihan secara bertahap, dari semula tidak bisa membatik saat ini sudah bisa membatik dan mendesain sendiri.

“Semua dilatih dari tidak bisa menjadi bisa, mulai dari mendesain, mewarnai hingga finishing,” ujarnya.

Supangat yang sudah menjalai hukuman lima tahun di Nusakambangan, kini ia sudah bisa membuat batik dari beberapa jenis seperti batik tulis, print, cap dan kombinasi. Sedangkan motif batik diambil dari berbagai daerah mulai dari Kalimantan, Jogja, Pekalongan dan daerah Cilacap sendiri dengan motif Wijayakusuma.

“Nanti saya bisa kembangkan batik di wilayah saya, karena disana masih minim, nanti kalau ada teman dan modal bisa buka usaha batik di sana,” ujarnya.

Baca juga Layak Dicontoh! Warga Banjarnegara Ini Sudah Donor Darah Lebih dari 75 Kali

Editor :M Amron

Berita Terkait

Berita Terkini