
SERAYUNEWS- Fenomena langit spektakuler akan kembali menghiasi awal Mei 2026. Hujan meteor Eta Aquarids diprediksi mencapai puncaknya pada malam 5 hingga dini hari 6 Mei 2026.
Kejadian ini dikabarkan akan menjadi salah satu peristiwa astronomi paling dinantikan oleh pecinta langit malam di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Fenomena tahunan ini dikenal menghadirkan meteor cepat dengan jejak cahaya panjang yang melintas di langit.
Bahkan, pada kondisi tertentu, pengamat berpeluang menyaksikan fireball atau bola api terang yang tampak lebih mencolok dibanding meteor biasa. Eta Aquarids berasal dari sisa-sisa debu kosmik yang ditinggalkan Komet Halley, komet legendaris yang melintasi Tata Surya setiap sekitar 76 tahun sekali.
Saat Bumi melewati jalur puing komet tersebut, partikel-partikel kecil memasuki atmosfer dan terbakar sehingga menciptakan garis cahaya yang terlihat dari permukaan Bumi.
Fenomena ini diperkirakan akan menjadi salah satu atraksi astronomi terbaik pada Mei 2026, meski pengamatan tahun ini sedikit terkendala oleh cahaya Bulan yang cukup terang.
Melansir berbagai sumber, berikut Serayunews sajikan ulasan selengkapnya mengenai hujan Meteor Eta Aquarids 2026 yang mencapai puncak pada 6 Mei. Ini cara nonton dan lokasi terbaik melihat “Bintang Jatuh”:
Berdasarkan berbagai laporan astronomi internasional, puncak hujan meteor Eta Aquarids akan berlangsung pada malam tanggal 5 Mei hingga menjelang subuh 6 Mei 2026.
Pada periode tersebut, Bumi berada di area paling padat dari aliran debu yang ditinggalkan Komet Halley.
Partikel-partikel kecil tersebut melesat ke atmosfer dengan kecepatan mencapai 64 kilometer per detik dan menghasilkan kilatan cahaya yang tampak seperti “bintang jatuh”.
Pengamat di Belahan Bumi Selatan diperkirakan memiliki peluang terbaik untuk menyaksikan fenomena ini karena posisi titik radian meteor berada lebih tinggi di langit.
Dalam kondisi ideal tanpa polusi cahaya dan tanpa gangguan Bulan, wilayah selatan Bumi dapat menyaksikan hingga 50 meteor per jam. Sementara itu, pengamat di Belahan Bumi Utara, termasuk Indonesia, diperkirakan dapat melihat sekitar 10 hingga 30 meteor per jam.
Meski jumlahnya lebih sedikit dibanding wilayah selatan, Indonesia tetap menjadi lokasi yang cukup baik untuk menikmati hujan meteor Eta Aquarids karena berada dekat garis khatulistiwa.
Tahun ini, pengamatan hujan meteor Eta Aquarids sedikit menantang akibat kondisi Bulan yang cukup terang.
Pada malam puncak, Bulan berada dalam fase waning gibbous atau bulan cembung mengecil dengan tingkat iluminasi mencapai sekitar 84 persen. Cahaya Bulan yang kuat berpotensi mengurangi visibilitas meteor-meteor redup.
Akibatnya, jumlah meteor yang terlihat bisa lebih sedikit dibanding prediksi maksimal. Namun, para astronom menyebut Eta Aquarids tetap menarik karena sering menghadirkan meteor terang dan fireball yang mampu menembus cahaya Bulan.
Karena itu, waktu terbaik untuk mengamati hujan meteor diperkirakan terjadi sebelum fajar ketika titik radian mulai tinggi di langit timur dan sebagian langit masih cukup gelap.
Eta Aquarids merupakan salah satu hujan meteor tahunan yang terjadi ketika Bumi melintasi jalur puing Komet Halley.
Komet Halley sendiri menjadi salah satu komet paling terkenal dalam sejarah astronomi. Catatan penampakannya telah ada sejak ribuan tahun lalu. Komet tersebut terakhir kali mendekati Matahari dan Bumi pada tahun 1986 dan diperkirakan kembali terlihat pada tahun 2061.
Setiap kali melintas, Komet Halley meninggalkan jejak debu dan batuan kecil di sepanjang orbitnya. Ketika Bumi melewati area tersebut, partikel-partikel itu memasuki atmosfer dan terbakar akibat gesekan udara.
Fenomena inilah yang menghasilkan hujan meteor Eta Aquarids pada Mei dan Orionid pada Oktober setiap tahunnya. Nama Eta Aquarids berasal dari titik radian atau area langit tempat meteor tampak berasal, yakni di dekat bintang Eta Aquarii dalam rasi Aquarius.
Berbeda dengan fenomena astronomi lain yang membutuhkan teleskop khusus, hujan meteor justru paling nyaman dinikmati menggunakan mata telanjang.
Pengamat hanya memerlukan lokasi gelap, cuaca cerah, dan kesabaran untuk menyaksikan meteor melintas di langit.
Berikut beberapa tips penting untuk menikmati hujan meteor Eta Aquarids:
1. Pilih Lokasi Minim Polusi Cahaya
Semakin gelap lokasi pengamatan, semakin banyak meteor yang dapat terlihat. Hindari area perkotaan yang dipenuhi lampu jalan, gedung, dan kendaraan.
Lokasi seperti pegunungan, pantai, pedesaan, atau area terbuka jauh dari kota menjadi tempat ideal untuk berburu meteor.
2. Amati Sebelum Subuh
Waktu terbaik menyaksikan Eta Aquarids adalah sekitar pukul 02.00 dini hari hingga menjelang matahari terbit.
Pada waktu tersebut, titik radian di rasi Aquarius mulai tinggi di langit timur sehingga peluang melihat meteor menjadi lebih besar.
3. Jangan Menatap Bulan
Karena cahaya Bulan cukup terang tahun ini, pengamat disarankan menghindari pandangan langsung ke Bulan agar mata tetap sensitif terhadap cahaya redup meteor.
Fokuskan pandangan pada area langit yang paling gelap.
4. Biarkan Mata Beradaptasi
Mata manusia memerlukan waktu sekitar 20 hingga 30 menit untuk menyesuaikan diri dengan kondisi gelap.
Karena itu, hindari melihat layar ponsel terlalu sering saat berburu meteor.
5. Gunakan Aplikasi Astronomi
Aplikasi pengamatan bintang dapat membantu menemukan posisi rasi Aquarius dan titik radian meteor di langit.
Fenomena hujan meteor juga menjadi momen favorit bagi fotografer langit malam atau astrophotography.
Untuk mendapatkan hasil terbaik, pengamat dapat menggunakan kamera DSLR atau mirrorless dengan pengaturan long exposure.
Berikut tips dasar memotret hujan meteor:
1. Gunakan tripod agar kamera stabil
2. Pakai lensa wide-angle
3. Atur exposure panjang antara 15-30 detik
5. Gunakan ISO tinggi sesuai kondisi langit
6. Cari area tanpa cahaya lampu
7. Ambil gambar secara kontinu
Karena meteor muncul secara acak, teknik continuous shooting sangat membantu meningkatkan peluang menangkap meteor dalam foto.
Istilah “bintang jatuh” sebenarnya kurang tepat secara ilmiah.
Meteor bukanlah bintang, melainkan partikel debu atau batuan kecil dari komet dan asteroid yang terbakar saat memasuki atmosfer Bumi.
Ukuran partikel tersebut umumnya hanya sebesar pasir atau kerikil kecil, tetapi mampu menghasilkan cahaya terang karena kecepatannya sangat tinggi.
Jika ada bagian batuan yang berhasil mencapai permukaan Bumi, benda tersebut disebut meteorit.
Selain Eta Aquarids, terdapat beberapa hujan meteor besar lain yang rutin muncul setiap tahun dan menjadi favorit pengamat langit, di antaranya:
1. Perseid
Terjadi pada pertengahan Agustus dan terkenal sangat aktif serta mudah diamati.
2. Geminid
Muncul pada Desember dan sering menghasilkan meteor paling banyak dalam setahun.
3. Orionid
Juga berasal dari Komet Halley dan terjadi setiap Oktober.
4. Leonid
Terjadi pada November dan terkenal karena badai meteor besar yang kadang muncul.
4. Lyrid
Muncul setiap April dan menjadi salah satu hujan meteor tertua yang pernah dicatat manusia.
Selain hujan meteor Eta Aquarids, langit Mei 2026 juga dipenuhi sejumlah fenomena astronomi lain yang menarik perhatian.
Beberapa di antaranya adalah:
– Pertemuan Venus dengan Bulan
– Kemunculan Blue Moon
– Pengamatan planet terang menjelang subuh
– Konjungsi beberapa objek langit
Fenomena-fenomena tersebut membuat Mei 2026 menjadi bulan yang sangat menarik bagi pecinta astronomi.