
SERAYUNEWS – Kabupaten Banyumas berada dalam posisi strategis untuk mengakselerasi pembangunan daerah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Ikatan historis dan emosional yang kuat antara sang Presiden dengan tanah leluhurnya di Banyumas, dinilai sebagai modal besar yang harus dikapitalisasi secara cerdas oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyumas.
Pengamat Politik dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Ahmad Sabiq, menilai bahwa momentum ini merupakan kesempatan langka yang tidak boleh disia-siakan.
Akar Historis dan “Darah Banyumas” Presiden Prabowo Subianto memang tidak asing dengan napas budaya Banyumas. Kakek beliau, R.M. Margono Djojohadikusumo, yang dikenal sebagai pendiri BNI sekaligus tokoh koperasi Indonesia, merupakan putra asli Banyumas. Hingga kini, makam leluhur keluarga Djojohadikusumo masih terawat rapi di Dawuhan, Banyumas.
“Presiden berkali-kali membanggakan ‘darah Banyumas’-nya dalam berbagai forum. Dalam kacamata politik, ini adalah modal ‘diplomasi kultural’ yang sangat bernilai,” ujar Ahmad Sabiq, Senin (4/5/3026).
Meskipun memiliki kedekatan personal, Sabiq mengingatkan bahwa Pemkab Banyumas tidak bisa hanya mengandalkan sentimen semata untuk menarik anggaran pusat. Di tengah kebijakan efisiensi nasional, diperlukan strategi yang elegan dan masuk akal.
Di antaranya, Pemkab didorong untuk melakukan revitalisasi area makam Dawuhan yang terintegrasi dengan pengembangan desa wisata.
Bisa juga mengusulkan pembangunan pusat pendidikan atau lembaga koperasi yang menyandang nama besar Margono Djojohadikusumo sebagai penghormatan terhadap jasa leluhur Presiden.
Menawarkan Banyumas sebagai lokasi uji coba program nasional agar menjadi prioritas pantauan pusat.
Menyelaraskan dengan “Asta Cita” Kunci utama agar usulan daerah diterima oleh pemerintah pusat adalah sinkronisasi kebijakan. Ahmad Sabiq menekankan bahwa program pembangunan di Banyumas harus “nyambung” dengan visi Asta Cita (delapan program prioritas) milik Presiden Prabowo.
“Pemkab harus membedah program nasional tersebut. Upaya ‘nyundul’ anggaran tidak akan berhasil jika program yang diajukan tidak selaras dengan prioritas pusat. Narasi kebanggaan lokal harus dibarengi dengan kesiapan teknis yang matang,” kata Sabiq.
Dengan pendekatan yang memadukan kedekatan emosional dan kesesuaian program strategis, Banyumas berpeluang besar menjadi salah satu daerah yang mengalami percepatan pembangunan signifikan dalam lima tahun ke depan.
Senada dengan Ahmad Sabiq, Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menyampaikan, terlepas dari momentum tersebut, kepala daerah memang harus memutar otak agar tidak hanya mengandalkan APBD.
“Apalagi dengan kondisi efisiensi seperti saat ini,” ujarnya.
Maka dari itu, kepala daerah perlu memasarkan daerahnya dengan rencana pembangunan dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Pemda tidak bisa lagi hanya mengandalkan transfer dana pusat yang konstan.
Kepala daerah perlu kreatif untuk meyakinkan pusat bahwa anggaran yang diminta akan digunakan untuk program yang tepat sasaran.
“Nah, makanya saya itu bupati yang menjadi marketing juga, agar bagaimana di tengah anggaran yang sedang efisiensi, tapi pembangunan tetap bisa jalan,” kata dia.
Sadewo menambahkan, salah satu hal yang sedang diusulkan adalah adanya sekolah integrasi. Pemkab telah menyediakan lahan yang diproyeksi untuk dibangun gedung tersebut.
“Saya sedang mengusulkan adanya sekolah terintegrasi, proyeksinya ada di Kecamatan Banyumas, ada lahan sekitar 20 hektar milik Pemda disana,” kata dia.