
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Inflasi di wilayah Banyumas Raya pada Juni 2026 tetap terjaga dan masih berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen (year on year/yoy).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Kota Purwokerto mencatat inflasi sebesar 0,12 persen secara bulanan (month to month/mtm) dan 2,79 persen secara tahunan (yoy). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 0,28 persen (mtm) dan 2,88 persen (yoy).
Sementara itu, Kabupaten Cilacap mengalami inflasi 0,10 persen (mtm) dan 2,88 persen (yoy), juga lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang tercatat sebesar 0,31 persen (mtm) dan 3,22 persen (yoy).
Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Purwokerto, Christoveny menyebut, laju inflasi Banyumas Raya lebih rendah dibandingkan inflasi nasional maupun Provinsi Jawa Tengah. Secara nasional, inflasi Juni 2026 tercatat sebesar 0,44 persen (mtm) dan 3,34 persen (yoy), sedangkan Jawa Tengah sebesar 0,31 persen (mtm) dan 2,92 persen (yoy).
BI menjelaskan, inflasi Juni terutama dipengaruhi oleh penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang mendorong kenaikan biaya transportasi dan distribusi barang. Selain itu, kenaikan harga bawang merah akibat penurunan produksi di sejumlah daerah sentra turut memberikan tekanan terhadap inflasi.
Di sisi lain, meningkatnya aktivitas rekreasi masyarakat selama libur sekolah pada akhir Juni juga mendorong kenaikan harga di sejumlah sektor jasa.
Namun, tekanan inflasi berhasil diredam oleh turunnya harga daging ayam ras, cabai merah, dan cabai rawit berkat pasokan yang tetap terjaga serta berbagai upaya stabilisasi harga pangan.
Di Purwokerto, kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan inflasi 1,64 persen (mtm) dan andil 0,20 persen. Disusul kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya yang mengalami inflasi 0,95 persen dengan andil 0,02 persen.
Sementara di Cilacap, kelompok transportasi mencatat inflasi 1,23 persen dengan andil 0,14 persen. Adapun kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mengalami inflasi 0,30 persen dengan andil 0,03 persen.
Menurut BI, kenaikan biaya transportasi dipengaruhi penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Sementara meningkatnya permintaan selama masa libur sekolah mendorong kenaikan harga pada sektor restoran maupun rekreasi.
Bank Indonesia menilai inflasi yang tetap terkendali merupakan hasil sinergi bersama pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), didukung implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional.
Berbagai langkah pengendalian inflasi terus dilakukan melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), antara lain pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM), Gempita Raya dalam Karya Kreatif Serayu x Banyumas Digifest 2026, kerja sama antardaerah (KAD), penguatan distribusi pangan melalui toko tani, serta komunikasi efektif kepada masyarakat.
Ke depan, TPID Banyumas Raya akan terus memperkuat strategi pengendalian inflasi melalui pendekatan 4K, yakni menjaga keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif agar stabilitas harga tetap terjaga sesuai target nasional.