
SERAYUNEWS – Laju inflasi di wilayah Purwokerto dan Cilacap pada Desember 2025 tercatat masih terkendali dan berada dalam sasaran inflasi nasional.
Kondisi ini mencerminkan efektivitas sinergi kebijakan pengendalian inflasi yang dilakukan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Purwokerto bersama pemerintah daerah dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Banyumas Raya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, inflasi Purwokerto pada Desember 2025 tercatat sebesar 0,58 persen (month to month/mtm).
Secara tahunan, inflasi Purwokerto berada di level 2,61 persen (year on year/yoy), sementara inflasi tahun kalender tercatat 2,61 persen (year to date/ytd).
Sementara itu, inflasi di Kabupaten Cilacap pada periode yang sama tercatat sebesar 0,53 persen (mtm) dengan inflasi tahunan 2,79 persen (yoy) dan inflasi tahun kalender 2,79 persen (ytd).
Capaian tersebut masih berada dalam rentang target inflasi nasional tahun 2025 sebesar 2,5 persen ± 1 persen.
Meski terjadi peningkatan permintaan masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru, stabilitas harga di wilayah ini tetap terjaga.
Tekanan inflasi pada Desember 2025 terutama didorong oleh meningkatnya permintaan masyarakat selama perayaan Natal dan Tahun Baru.
Selain itu, penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) per 1 Desember 2025 turut memberikan dampak terhadap biaya transportasi dan distribusi barang.
Faktor cuaca juga menjadi salah satu penyebab meningkatnya tekanan inflasi, terutama karena mengganggu produksi dan distribusi komoditas hortikultura.
Di sisi lain, tren kenaikan harga emas dunia turut mendorong inflasi, seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap emas sebagai aset safe haven.
Dari sisi komoditas, inflasi bulanan di Purwokerto terutama disumbang oleh kenaikan harga cabai rawit, daging ayam ras, emas perhiasan, telur ayam ras, dan bensin.
Adapun di Cilacap, komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar meliputi cabai rawit, daging ayam ras, emas perhiasan, bensin, serta labu siam.
Di sisi lain, sejumlah komoditas justru mengalami deflasi. Di Purwokerto, deflasi terjadi pada komoditas jeruk, kacang panjang, tarif kereta api, telepon seluler, dan ikan lele.
Sementara di Cilacap, deflasi tercatat pada komoditas jeruk, kacang panjang, buncis, udang basah, dan cabai merah.
Kelompok pengeluaran yang menjadi penyumbang utama inflasi di Purwokerto dan Cilacap meliputi kelompok makanan, minuman, dan tembakau, perawatan pribadi dan jasa lainnya, serta transportasi.
Peningkatan pada kelompok ini sejalan dengan meningkatnya mobilitas dan konsumsi masyarakat menjelang akhir tahun.
Dalam rangka menjaga stabilitas harga, TPID Banyumas Raya bersama KPw BI Purwokerto telah melakukan berbagai langkah pengendalian inflasi selama Desember 2025.
Upaya tersebut antara lain melalui penyelenggaraan Pasar Murah Inflasi Kabupaten Banyumas (Sarah Simas) di Kecamatan Purwokerto Timur dan Sokaraja guna memastikan keterjangkauan harga kebutuhan pokok masyarakat.
Selain itu, TPID juga melakukan inspeksi ketersediaan pasokan dan harga bahan pokok serta energi menjelang HBKN. Untuk menjaga keberlanjutan pasokan pangan, dilakukan pula Gerakan Tanam Cabai Serentak di sejumlah pondok pesantren di Desa Sirau, Kabupaten Banyumas, yang dilengkapi dengan teknologi smart irigasi.
Dari sisi komunikasi, koordinasi antar pemangku kepentingan diperkuat melalui pelaksanaan High Level Meeting TPID serta rapat koordinasi rutin dengan pedagang besar, asosiasi, dan kelompok tani. Masyarakat juga diimbau untuk berbelanja secara bijak, khususnya selama periode HBKN.
Sementara itu, kelancaran distribusi dijaga melalui penguatan toko tani mingguan serta inisiasi pembentukan titik kumpul pemasaran komoditas cabai di wilayah Banyumas Raya guna memperpendek rantai distribusi dan menekan biaya logistik.
Ke depan, TPID Banyumas Raya akan terus memperkuat upaya pengendalian inflasi dalam kerangka Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dengan strategi 4K.
Strategi tersebut meliputi peningkatan produksi pangan berbasis pesantren, pengembangan petani milenial, perluasan digital farming, penguatan operasi pasar, serta peningkatan kerja sama antar daerah.
Dengan berbagai langkah tersebut, stabilitas harga di wilayah Purwokerto dan Cilacap diharapkan tetap terjaga, sehingga daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi daerah dapat terus dipertahankan.