
SERAYUNEWS – Warga Purwokerto dan Cilacap mulai merasakan kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok sepanjang Februari 2026.
Berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS), dua daerah IHK di wilayah Banyumas Raya tersebut kompak mengalami inflasi, dipicu lonjakan harga pangan hingga emas perhiasan.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Christoveny, menjelaskan bahwa inflasi di Purwokerto pada Februari 2026 tercatat sebesar 0,78 persen (mtm), 0,42 persen (ytd), dan 4,14 persen (yoy).
Angka tersebut meningkat dibandingkan Januari 2026 yang mencatat deflasi sebesar -0,36 persen (mtm) dan -0,36 persen (ytd), dengan inflasi tahunan 2,79 persen (yoy).
Kondisi serupa terjadi di Cilacap. Inflasi Februari 2026 tercatat sebesar 0,80 persen (mtm), 0,37 persen (ytd), dan 4,22 persen (yoy).
Padahal, pada Januari 2026, Cilacap sempat mengalami deflasi sebesar -0,42 persen (mtm) dan -0,42 persen (ytd), dengan inflasi tahunan 2,63 persen (yoy).
Christoveny mengungkapkan, secara bulanan, inflasi di Purwokerto terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 2,30 persen (mtm) dengan andil 0,68 persen (mtm).
“Komoditas volatile food seperti daging ayam ras, cabai rawit, bawang merah, dan telur ayam ras mengalami kenaikan harga sejalan dengan meningkatnya permintaan pada momentum Hari Raya Imlek dan Ramadan,” katanya.
Selain pangan, kenaikan harga emas perhiasan juga ikut menyumbang tekanan inflasi. Kenaikan tersebut dipengaruhi dinamika harga emas dunia serta meningkatnya permintaan domestik sebagai instrumen lindung nilai (safe haven).
Di Cilacap, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga menjadi penyumbang utama inflasi, yakni sebesar 2,02 persen (mtm) dengan andil 0,65 persen (mtm).
Komoditas pendorong inflasi antara lain cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, emas perhiasan, serta tarif air minum PAM.
Meski demikian, tekanan inflasi di Cilacap sedikit tertahan oleh deflasi pada komoditas bensin, wortel, dan bawang putih.
Secara tahunan, inflasi di Purwokerto dan Cilacap juga dipengaruhi oleh low base effect akibat kebijakan diskon tarif listrik pada Januari–Februari 2025.
Kondisi tersebut membuat perbandingan inflasi tahunan pada Februari 2026 terlihat lebih tinggi. Namun, beberapa komoditas seperti bensin dan bawang putih yang mengalami penurunan harga turut menahan laju inflasi agar tidak meningkat lebih dalam.
Untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Banyumas Raya terus memperkuat sinergi melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) dengan strategi 4K, yaitu Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.
Langkah konkret yang dilakukan meliputi gerakan pangan murah, fasilitasi distribusi, hingga pasar tani di berbagai titik. Program tersebut antara lain dilaksanakan pada Pasar Ramadan UMP x Bank Indonesia Purwokerto 2026, 18 titik di Kabupaten Cilacap, pembukaan TMMD Sengkuyung Tahap I 2026, serta program Sarahsimas di sejumlah kecamatan di Banyumas.
Dari sisi produksi, telah dilakukan panen cabai bersama dengan capaian 16,8 ton melalui program TAKARA MERDAYA. Selain itu, terdapat pengembangan INFRATANI di tiga pondok pesantren, program Agropreneur, pengembangan sentra produksi, serta pemantauan harga dan stok bahan pokok penting di pasar pantauan.
“Ke depan, TPID Banyumas Raya akan terus memperkuat pengendalian inflasi agar tetap terkendali dalam sasaran nasional, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026,” ujar Christoveny.
Dengan tren inflasi tersebut, masyarakat diimbau tetap bijak berbelanja serta memanfaatkan berbagai program stabilisasi harga yang telah disiapkan pemerintah daerah bersama Bank Indonesia.