
SERAYUNEWS- Unit Pandu Lingkungan Mahasiswa Pecinta Alam UPL MPA Unsoed menggelar simulasi pendidikan lanjutan (Dikjut) susur gua di Gua Kemit pada 14–16 Maret 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas anggota dalam teknik penelusuran gua (caving).
Sebanyak delapan anggota aktif terlibat dalam latihan intensif ini. Mereka adalah Alifia Rahmawati, Choirul Anaam, Menik Dwi Hapsari, Naila Andina Amaralita, Devi Setia Sari, Sekar Ayu Dewi Permata Sari, Rina Melinda Dewi Asih, dan Bagus Pranata Wahyulin.
Selama kegiatan berlangsung, tim memprioritaskan penguasaan teknik vertikal menggunakan metode Single Rope Technique (SRT). Selain itu, peserta juga mendalami pemetaan gua berbasis standar speleologi.
Ketua tim, Alifia Rahmawati menjelaskan bahwa teknik SRT memungkinkan penelusur gua bergerak naik dan turun menggunakan satu tali pada medan vertikal.
“Dalam simulasi ini, kami menggunakan metode Frog System, dengan lintasan awal berupa medan licin sebelum mencapai jalur vertikal,” ujarnya.
Tim juga membagi peran secara sistematis, mulai dari pemasangan jalur tali hingga pengelolaan logistik lapangan seperti flysheet dan tas peralatan berkapasitas besar (duffel).
Gua Kemit memiliki karakter lorong horizontal dan vertikal yang berada di kawasan perkebunan warga. Panjang lorong horizontalnya mencapai sekitar 23 meter.
Gua ini termasuk tipe vadose, yakni gua yang tidak memiliki aliran air permanen dan hanya dialiri saat hujan. Meski demikian, ekosistem di dalamnya tetap hidup, ditandai dengan keberadaan fauna seperti kelelawar, jangkrik, dan larva serangga.
Dalam proses eksplorasi dan pemetaan, tim menemukan sebuah ruangan kecil yang sebelumnya belum pernah dijelajahi oleh anggota UPL MPA Unsoed.
Ruangan tersebut mampu menampung sekitar delapan orang dan memiliki formasi flowstone unik berbentuk tabung dengan rongga di bagian tengah menyerupai silinder.
“Temuan ini menjadi data penting dalam pengembangan pengetahuan speleologi yang kami dokumentasikan,” ungkap Alifia.
Selain eksplorasi, tim juga melakukan pemetaan gua menggunakan standar grade 3B. Proses ini dilakukan langsung di dalam gua dengan memanfaatkan kompas, klinometer, serta tali ukur yang ditandai setiap meter.
Data lapangan kemudian diolah untuk menghasilkan proyeksi visual gua dalam bidang datar dengan skala tertentu. Hasil pemetaan ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, baik secara visual maupun matematis.
Kecamatan Ajibarang dikenal sebagai wilayah dengan potensi kawasan karst yang kaya. Sejumlah gua yang tersebar di wilayah ini antara lain Gua Sumur, Gua Lawa, Gua Langse, Gua Lawang, Gua Kemit, hingga Gua Kromong.
Kawasan gamping di Desa Darmakradenan tersusun atas batuan gamping klastik dan terumbu berumur Pliosen. Formasi ini membentuk bentang alam perbukitan kapur sekaligus sistem gua yang beragam.
Potensi kawasan karst di Banyumas membuka peluang besar bagi UPL MPA Unsoed untuk terus melakukan eksplorasi sekaligus memperdalam kajian speleologi.
Kegiatan Dikjut ini tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis anggota, tetapi juga memperkaya data ilmiah terkait gua di wilayah Banyumas yang masih berpotensi untuk diteliti lebih lanjut.